ADHYAKSA DAULT: UMAT ISLAM SUDAH SANGAT LIBERAL

Jakarta, 29 Rabiul Akhir 1434/11 Maret 2013 (MINA) – Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Ahdyaksa Dault  dalam talkshow nasional berjudul ‘Pemimpinku Berkarakter Qur’an: Perspektif Menghadapi 2014’ di Jakarta, Ahad (10/3), mengatakan umat Islam saat ini sudah sangat liberal.

“Partai-partai Islam jadi partai terbuka sehingga kehilangan figur. Kita ini sudah sangat liberal,” kata Adhyaksa dalam acara puncak dan penutup 12th Islamic Book Fair 1434H/2013 (IBF) itu.

Menurut pria Donggala yang juga Ketua Umum Vanaprastha (Penggiat Alam Terbuka dan Aktivis Lingkungan) itu bahwa umat Islam Indonesia sudah sangat jauh dari pemimpin yang berkarakter Qur’an. Ia merujuk pada karakter kepemimpinan Khalifah Umar bin Khaththab yang selama 10 tahun berkuasa tidak pernah ada serigala yang berani memakan kambing.

Sementara itu, pengamat politik Burhanuddin Muhtadi mengatakan umat Islam semakin religi dengan semakin pesatnya perkembangan jilbabisasi, meningkatnya calon jama’ah haji. Bahkan partai-partai nasional tiba-tiba jadi Islamis. Namun umat Islam tidak serta merta memilih partai Islam.

“Partai nasionalis sedang bergerak ke tengah (lebih Islami) sedangkan partai Islam mencoba mengaburkan ideologi partainya dengan menjadi partai terbuka. Lama kelamaan umat Islam tidak bisa membedakan mana partai Islam dan nasional,” kata Burhanuddin.

Menurut pria yang pernah mendapat penghargaan Anugerah Media dan Komunikator Terbaik Pilpres 2009 itu bahwa partai-partai Islam di Indonesia ‘fakir logistik’. “Di Indonesia partai Islam banyak, tapi politisinya paling susah bersatu,” tegas Burhanuddin. “Ini yang membuat partai Islam selalu jadi pengikut.”

Pada kesempatan yang sama, pakar ekonomi Syafii Antonio mengungkapkan bahwa partai-partai Islam bisa dibeli. “Ada konglomerat yang rajin mendakwakan agamanya sudah membeli dua partai Islam. Sekarang sedang mengincar partai ketiga untuk bisa jadi RI-2,” ungkap Syafii.

“Saya harap umat Islam tidak buta politik untuk yang ini, karena umat Islam bisa dibeli,” tambah pria yang pada acara itu didaualat sebagai Tokoh IBF 2013. Ketua Young Islamic Leaders sekaligus Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Bachtiar Nasir mengatakan bahwa orang Indonesia sudah terperangkap dalam demokrasi.

“Teman saya di Singapura mengatakan, ‘orang Indonesia sudah terperangkap  oleh demokrasi yang memenjarakan pemikiran’. Yang kita sebut kebebasan sebenarnya adalah penjajahan,” kata Bachtiar.

“Kalau kita terima pernyataan Indonesia adalah negara demokrasi berarti kita menyerahkan negara ini kepada kaum yang sekuler,” tegas Bachtiar.(L/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply