MANUSIA PERAHU BERLAYAR MENCARI PERLINDUNGAN

Oleh Shobariyah Jamilah*

Terusir dari negerinya dan menjadi manusia perahu (boat people), tertatih-tatih  berlayar dari pulau ke pulau, dari negara ke negara lain  itulah yang dirasakan Muslim Rohingya untuk  mencari tempat perlindungan yang bisa menampung mereka. Nasib mereka tertindas, terusir, mengalami kekerasan, deskriminasi, kelaparan dan ketakutan di tengah laut.

Perbedaan bahasa, fisik, dan budaya dengan orang Benggali  (Bangladesh) bahwa Rohingya bukanlah Benggali. Kondisi inilah yang kemudian dijadikan dalih utama Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai bagian dari bangsa Myanmar. Oleh karenanya alasan atau dalih Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai bagian dari bangsa Myanmar karena alasan kesamaan fisik dengan orang Benggali sangat tidak relevan dan hanya sebagai pembungkus konflik yang sebenarnya yaitu konflik agama dan politik.

Rohingya merupakan etnis minoritas Muslim yang mendiami wilayah Arakan sebelah utara Myanmar berbatasan dengan Bangladesh, yang dahulu wilayah ini dikenal dengan sebutan Rohang dan saat ini lebih dikenal dengan Rakhine. Itu sebabnya orang-orang muslim yang mendiami wilayah Rohang disebut dengan Rohingya – dikenal juga dengan Muslim Arakan – yang populasinya berjumlah lebih kurang 1.000.000 jiwa dan ratusan ribu lainnya hidup dalam pengungsian di berbagai negara antara lain di perbatasan Bangladesh, Pakistan, Jazirah Arab, Malaysia, Thailand, dan Indonesia, serta juga ada beberapa yang tinggal dan mengungsi ke negara Inggris, Amerika dan Jepang.

Etnis Rohingya mengalami intoleransi karena mereka muslim dan identitas etnis dan ciri-ciri fisik dan bahasa mereka dianggap berbeda dengan mainstream.Oleh karenanya, mereka selalu menjadi subyek penyiksaan utamanya sejak 1962, ketika rezim militer U Ne Win mengambil alih pemerintahan negara Burma. 

Sejak kemerdekaan negara Myanmar pada tahun 1948, Rohingya menjadi satu-satunyaetnis yang paling tertindas di Myanmar. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikutip dari United Nations (PBB) yang menyatakan bahwa etnis Rohingya merupakan etnis paling teraniaya di muka bumi. Selain teraniaya, Rohingya juga tidak diakui sebagai bagian dari bangsa Myanmar, padahal Rohingya berada di Arakan sejak Abad 7 M.

Akibat kekerasan struktural yang berlangsung begitu panjang, maka warga Rohingya terpaksa mengungsi dan menjadi ‘manusia perahu’, mencari negeri aman yang mau menerima mereka di Asia Tenggara atau di negeri manapun di seluruh dunia. Tidak jarang para manusia perahu itu tenggelam ataupun mati karena kelaparan dan kehausan di tengah laut. Banyak pula yang ditahan atau diperlakukan semena-mena di negara-negara transit atau di negara-negara penerima mereka.

Saat ini ada 1.5 juta orang Rohingya yang terusir dan tinggal terlunta-lunta diluar Arakan/ Myanmar. Kebanyakan mereka mengungsi di Bangladesh ,Pakistan, Saudi Arabia, UAE, Malaysia, Thailand, Indonesia dan lain-lain.

Sangat memprihatinkan bahwa Bangladesh, negara tetangga terdekat dari Arakan, menutup pintu untuk pengungsi Rohingya dan mengirim mereka kembali ke laut. Bahkan tiga lembaga internasional, MSF, ACF dan Muslim Aid UK juga dilarang beroperasi di Bangladesh.

Etnis Rohingya Meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk mengambil inisiatif yang positif dan proaktif sebagai negeri muslim terbesar di dunia, sekaligus sebagai tuan rumah dari Sekretariat ASEAN, untuk penyelesaian krisis Rohingya secara permanen.

Indonesia menjadi salah satu tujuan orang Rohingya karena Indonesia merupakan negara mayoritas muslim yang diharapkan dapat menjadi tempat berlindung yang aman untuk Rohingya  dan mempunyai peran penting untuk Rohingya sebagai Negara Asean. 

Dalam persebaran kedatangan di Indonesia, Rohingya terdampar di beberapa wilayah di Indonesia baik karena ditangkap maupun sengaja menyerahkan diri kepada pihak Imigrasi Indonesia yang wilayahnya dekat dengan Malaysia atau Myanmar .

Di Indonesia, Muslim Rohingya terdampar berbagai tempat antara lain di Aceh, Medan, Tanjung Pinang, Batam (Kepulauan Riau), dan ada juga yang ditemukan dan ditangkap di Kupang, NTT.

Kondisi Rohingya yang kelaparan memang membuat mereka akhirnya sengaja menyerahkan diri ke pihak imigrasi dengan harapan bisa mendapatkan makanan dari pihak Imigrasi Indonesia, meskipun beberapa imigran Rohingya yang hijrah ke Indonesia dengan harapan mendapatkan perlindungan dan kondisi yang lebih aman serta penghidupan yang lebih baik.

Permasalahan-permasalahan yang ada tersebut tentunya menjadi permasalahan seluruh bangsa Indonesia yang harus segera ditindaklanjuti dan diselesaikan. Tidak membiarkan permasalahan mengenai Rohingya di Indonesia ini berlarut-larut. Tindak lanjut dan penyelesaian dapat dilakukan secara internal dan eksternal.

Secara internal tentunya perbaikan penanganan imigran Rohingya di Indonesia baik dari aspek regulasi maupun kebijakan. Secara eksternal tentunya membantu dan berkontribusi dalam penyelesaian akar konflik di Myanmar sehingga Rohingnya bisa kembali ke Myanmar dan diakui sebagai bagian dari bangsa Myanmar

Etnis Rohingya tidak sekali-sekali ingin merdeka dan memisahkan diri dari Union of Myanmar. Mereka hanya ingin diakui sebagai bagian dari warganegara Myanmar yang berhak untuk hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan. Bebas bergerak dan berpindah kemanapun serta bebas berekspresi, beribadah dan menjalankan keyakinan agamanya (P010).

*Wartawan Kantor Berita Islam Mi’raj News Agency (MINA)

Sumber:

http://indonesia4rohingyadotorg.files.wordpress.com/2012/08/rohingya-101-data-dan-fakta.pdf

Situasi Aktual Muslim Rohingya di Indonesia, PIARA (Pusat Informasi Dan Advokasi Rohingya Arakan), Heri Aryanto, SH, Ketua PIARA

MINA (Miraj News Agency)

 

               

 

 

 

Leave a Reply