MEDIA ISLAM HARUS SAMPAIKAN PERMASALAHAN PALESTINA

Kairo, 19 Jumadil Awal 1434/31 Maret 2013 (MINA) – Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Urusan Islam di Mesir,  Dr. Shalah Sulthan mengatakan, sudah menjadi keharusan bagi seluruh media khususnya media Islam ikut berperan menyampaikan permasalahan Palestina.

“Adalah sebuah ‘aib jika sebuah media tidak memiliki rubrik ataupun program yang membahas Palestina,”  tegas Shalah saat peringatan Hari Bumi Palestina di Kairo, Jum’at (29/3).

Menurut laporan koordinator Studi Informasi Alam Islami (SINAI), Harun AR, yang diterima Mi’raj News Agency (MINA), Shalah mengajak seluruh pihak untuk ikut berperan dengan cara mendirikan kantor-kantor media baik cetak maupun elektronik, menggunakan akun sosial media seperti facebook, twitter dan lain-lain untuk ikut menyuarakan perjuangan Palestina.

Shalah menyatakan ada lima bentuk perjuangan pembebasan Palestina yang bisa dilakukan saat ini, satu diantaranya adalah perjuangan dengan media. Empat bentuik perjuangan lainnya antara lain dengan kata (lisan), pendidikan, harta, dan terjun langsung ke medan perang.

Dalam perjuangan pembebasan Palestina, Shalah mengutip perkataan Ibnu Malik, jika seorang muslim tertawan oleh musuh, maka wajib bagi muslim lain untuk membebaskannya.

Mi’raj News Agency (MINA) sebagai portal kantor berita Islam berpusat di Jakarta, selama ini juga telah membantu mengadakan liputan perjuangan Palestina langsung dari Jalur Gaza.

Perang Akidah

Peringatan Hari Bumi Palestina yang bertempat di Al Azhar Conference Centre, Kairo itu diselenggarakan oleh Dewan Koordinasi Palestina bekerjasama dengan Komite Al Quds, Asosiasi Dokter-Dokter Arab,Komite Perempuan Pusat Hubungan Negara-Negara Arab, Kementrian Waqaf Mesir dan belasan lembaga peduli Palestina.

Perayaan Hari Bumi Palestina kali ini mengangkat tema “Mengakar Kokoh Bagaikan Pohon Zaitun” mengisyaratkan keteguhan bangsa Palestina mempertahankan tanah airnya dan kesabaran mereka melawan penjajahan Israel.

Sementara itu, dalam sambutannya, ketua Dewan Koordinasi Palestina, Dr. Munir Sa’id menyatakan, perang dengan penjajah Israel akan tetap berlanjut. Adapun hakikat perang saat ini adalah mencakup perang aqidah, eksistensi, kebudayaan, informasi, dan lain-lain.  

Sejak tahun 1948, Israel menjajah dan mencaplok tanah Palestina, disusul pendudukan kota Ak-Quds dan wilayah Palestina lainnya tahun 1967, Al-Quds yang didalamnya terdapat Masjid Al-Aqsa terus mengalami upaya Yahudisasi. Disaat yang sama, Palestina kian menderita akibat praktek kolonialisasi.

Mereka mengklaim memiliki sejarah dan warisan di bumi Palestina. Adapun sejatinya Palestina adalah negeri umat Islam dan umat Islamlah yang berhak atasnya. Palestina dan bangsanya sudah ada sejak awal-awal sejarah.

Rakyat Palestina mulai menandai hari bumi ‘Land day’ sejak 37 tahun lalu setelah Israel secara ilegal memutuskan untuk mencuri ribuan dunam (1 dunam=1000 m2) tanah Palestina, khususnya di Galilea pada tahun 1976.

Oleh karena itu, untuk pertama kalinya rakyat Palestina mengumumkan aksi mogok secara besar-besaran untuk memprotes keputusan ilegal Israel dalam penyitaan tanah sebelum tank-tank Israel memasuki desa-desa Arab dan menduduki kembali desa-desa dimana rakyat Palestina tinggal.

Serangan yang dilakukan pasukan penjajah Israel itu menewaskan enam warga Palestina, empat tewas akibat tembakan tentara Israel dan dua tewas akibat tembakan polisi Israel. Di samping melukai puluhan warga Palestina lainnya, polisi dan tentara Israel juga menculik ratusan warga Palestina.

Rakyat Palestina selalu memperingati Hari Bumi setiap tahunnya sebagai bentuk perlawanan dan menunjukkan bahwa mereka akan terus berjuang.

“Palestina selamanya akan tetap menjadi negara Arab Islamiyah. Adapun kezaliman harus segera terangkat dan dibuang dari bumi Al Aqsa,” tegas Munir juga sebagai anggota Biro Politik Hamas.

Selain Dr. Shalah Sultan dan Dr. Munir Sa’id, hadir juga dalam peringatan itu, Dr. Jamal Abdul Sattar, ketua urusan dakwah Departemen Wakaf Mesir, dan beberapa tokoh lainnya.

Dalam kesempatan itu, Dr. Jamal Abdul Sattar mengatakan, alasan memperjuangkan Palestina bukan karena tanahnya, tapi karena apa yang ada di atas tanah itu. Di sana ada masjid Al Aqsa, simbol aqidah umat islam. Di atasnya masih ada orang-orang yang ruku’ dan sujud.

“Dari tanah ini Rasulullah diperjalankan, disini para malaikat dan Rasul menyalami beliau. Kita tidak rela ada kedzaliman di tanah ini,” tegas Jamal.

Masjid Al-Aqsa dan Al-Quds adalah satu kesatuan. Al-Quds meliputi seluruh tembok yang mengelilingi kompleks Masjid Al-Aqsa. Saat ini Al-Quds berada di bawah penjajahan Israel yang memulai penjajahannya atas Palestina sejak 1948 lalu.

Al-Aqsa adalah Kiblat pertama umat Muslim dan tempat tersuci ketiga setelah Ka’bah di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Keutamaan Masjid ini bagi umat Islam juga diperkuat dengan peristiwa Isra‘ dan Mi’raj Nabi Muhammad, Sallallahu Alaihi wa Sallam.

Jamal menambahkan, Palestina tidak menumbuhkan buah-buahan, akan tetapi telah menumbuhkan para “rijal”. Karenanya Palestina butuh do’a bukan air. Permasalah Palestina tidak  akan bisa dipikul oleh satu orang, tapi harus ada di pundak semua pihak.

Peringatan yang dihadiri oleh peserta dari berbagai negara Muslim itu juga dimeriahkan oleh pameran kuliner Gaza, kerajinan tangan rakyat Gaza dan aksesoris serta informasi-informasi penting seputar Palestina. (T/P02/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

Leave a Reply