MENGUAK AKAR PEMBANTAIAN MUSLIM ROHINGYA

Oleh: Rina Petrelli*

Muslim Rohingya merupakan etnis paling teraniaya di dunia selain rakyat Palestina tentunya yang masih ada  dalam jajahan Zionis Israel. Pemberitaan mengenai pembantaian Muslim Rohingya mulai ramai di media-media sejak Juni 2012 lalu dan merupakan awal terkuaknya penderitaan yang sudah mendarah daging sejak puluhan tahun lamanya. Lalu mengapa umat Muslim Rohingya dibenci dan dibantai ?

Pembantaian dan pengusiran etnis Muslim di Rohingya merupakan suatu keadaan konflik yang terakumulasi dalam zaman. Konflik-konflik kecil ini terjadi sejak perang dunia kedua (PD II), antara tahun 1939 hingga 1945. 

Beberapa faktor yang menyejarahkan kebencian terhadap etnis yang tidak diakui dimana-mana ini bisa dijabarkan dalam beberapa peristiwa yang terekam dalam media.

Pertama, saat PD II tengah bergejolak, banyak masyarakat Rohingya yang hijrah ke Bangladesh. Etnis Rohingya hidup di perbatasan Myanmar-Bangladesh dan merupakan masyarakat Muslim minoritas, sehingga masyarakat non muslim bisa mengusir masyarakat muslim ke Bangladesh. Namun, semenjak Bangladesh mendapatkan kemerdekaan sendiri, rezim yang memimpin saat itu tidak mau menerima Muslim Rohingya dan tidak peduli tentangnya. 

Kedua, konflik kecil yang bergulir seiring waktu berjalan, pola pemerintahan di Myanmar pun berubah. Pada 2005, terjadi pertarungan minyak dan gas bumi di Myanmar yang pada saat itu dipimpin oleh rezim otoriter militer. Pihak asing yang melobi rezim pemerintah mulai melakukan kelicikan dan berlanjut dalam kehidupan sosial masyarakat Rohingya yang memang telah memiliki konflik kecil bertahun-tahun sebelumnya, hingga diskriminasi atas masyarakat Muslim pun semakin menjadi.

Ketiga, spekulasi yang beredar di antara masyarakat Myanmar sendiri mengenai etnis minoritas Muslim Rohingya telah membuat konflik itu makin hari makin membesar.  Masyarakat Myanmar tidak pernah mengakui Muslim Rohingya sebagai bagian dari penduduk mereka. Sebaliknya, mereka menyebut kaum minoritas itu sebagai pendatang haram dari Bangladesh. Dan spekulasi lainnya yang berupa penolakan terhadap keberadaan etnis Muslim Rohingya.

Keempat, kasus-kasus kecil sehari-hari yang bersinggungan antara penganut Budha dan Muslim yang menjadi kasus antar agama, pada akhirnya berpengaruh pada kehidupan sosial masyarakat Rohingya. Salah satunya seperti yang terjadi pada Juni 2012 yang merupakan klimaks dari pertentangan antara Budha dan Islam, dimana 300 orang Budha yang menghadang bus yang ditumpangi pihak Muslim. Bukan hanya cekcok mulut yang terjadi, tapi juga pembantaian 10 orang Muslim di tempat. Kekerasan pun antara kedua belah pihak terjadi sampai hari ini, di mana minoritas Muslim yang tidak bersalah banyak menjadi korban pembataian, termasuk anak-anak.

Kelima, faktor ini merupakan faktor paling dasar yang menjadi pertentangan di antara masyarakat Myanmar dan warga Muslim Rohingya yang bisa dilihat dari faktor-faktor sebelumnya seperti faktor perbedaan agama yang tidak bisa diterima oleh masyarakat Budha sendiri.

Masyarakat Muslim Rohingya yang hanya merupakan 4% dari penduduk Myanmar kini mengalami penindasan dan pengusiran dari negaranya sendiri.  Muslim Rohingya yang hendak berhijrah pun tidak diterima oleh Bangladesh maupun Birma.  Hal ini tentu menimbulkan dilema bagi masyarakat Muslim sendiri, karena setiap harinya masyarakat Muslim disana mengalami diskriminasi dan penindasan dari masyarakat Budha setempat. 

Seperti kasus yang pernah terjadi, di mana seorang gadis muslim berumur 7 tahun yang sedang bermain bersama temannya ditabrak oleh penduduk setempat yang beragama Budha dengan kendaraan bermotor. Hingga rumah sakit setempat pun tidak menerima korban tabrak lari itu, hanya karena gadis tersebut seorang Muslim. Pembantaian dan pengusiran etnish Rakhine atau Muslim Rohingya masih terus berlanjut dan belum mendapatkan perhatian yang signifikan dari kaum Muslimin lainnya dibelahan bumi ini. Lalu, sampai kapan kita akan membiarkan Muslim Rohingya terus tertindas ? Mari berbuat walau sekedar berkirim doa untuk mereka. Jangan sampai Allah meminta pertanggungjawaban pada kita karena kita diam dan tak peduli terhadap sesama Muslim.(P03/R2).

*Redaktur Kantor Berita Mi’raj News Agency (MINA)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

One Response

Leave a Reply