MODERNISASI BUKAN BUDAYA ISLAM

Modern biasanya selalu dikaitkan dengan western. Bukan rahasia umum lagi bahwa kiblat dari modernisasi adalah Barat. Hal apa saja yang ada di Barat dianggap maju, modern, dan prestisius. Mengikuti arus kemajuan dan sesuai perkembangan zaman, sebaliknya, membelakangi Barat adalah dianggap kolot, kuno, tradisional dan ketinggalan jaman.

Sejak tahun 60-an terbit majalah wanita di Indonesia. Majalah-majalah itu memelopori modernisasi wanita Indonesia dengan tanpa berfikir apakah konten dari majalah sesuai dengan etika dan moral yang dimiliki bangsa yang mayoritas penduduk Muslim.

Hampir semua rubrik di majalah itu, mulai dari mode hingga profil, rubrik konsultasi hingga menu mingguan, menampilkan gaya hidup Barat. Yang dihidangkan sebagai tokoh adalah wanita karir, bintang film, foto model atau istri-istri pejabat yang terbiasa menghambur-hamburkan kekayaan.

Sebagaimana yang diketahui, para wanita di Amerika Serikat (AS) menuntut isu persamaan gender. Dalam tuntutannya, kaum wanita AS menuntut bisa tampil di publik seperti halnya kaum laki-laki, sama-sama topless alias telanjang dada. 

Kampanye protes itu disampaikan dalam ‘National Go-Topless Day’ mulai 23 Agustus 2009. Protes berskala nasional oleh kaum perempuan, terutama di New York, yang berparade keliling kota.

Dari sinilah awal mula wanita itu sebenarnya menjatuhkan martabat dan menghinakan dirinya, dengan menanggalkan keislamannya hanya karena menjunjung tinggi hawa nafsunnya semata.

Sebagaimana hadis menyebutkan, dari Abu Said Al Khudri RA, dia berkata, “Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Kelak kalian akan mengikuti ajaran orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam liang biawak pun kalian pasti akan mengikuti mereka.’ Kami, para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apakah yang kami ikuti itu adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah SAW menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (Muslim 8/57).

Ada pula wanita muslimah yang teguh mempertahankan tradisinya, akan tetapi mereka juga berusaha agar tidak dicap sebagai kolot, kuno dan tradisional, mereka menggelar seminar dan simposium dengan tema-tema wanita. Mulailah di sana dibahas bahwa poligami itu sebenarnya tidak boleh, karena ada syarat adil bagi suami yang sulit dilaksanakan. Keluar rumah sendirian tanpa mahram itu tidak menjadi problem, jika wanita tersebut mampu menjaga diri, wanita karir itu tuntutan jaman.

Mereka berusaha dengan segala argumentasinya agar terlihat bahwa sesungguhnya agama Islam ini modern, sesuai dengan tuntutan masa kini. Mereka khawatir dicap kolot dan konservatif, karenanya terus berusaha mencari-cari ayat yang membenarkan nila-nilai kemodernan. Mulailah mereka berusaha untuk menghapus pembagian hak waris wanita dengan menyamakannya dengan pria, membolehkan wanita membuka aurat, karena alasan kondisi iklim dan cuaca. Ketika kaum pria tampil di dunia olah raga, mereka juga menuntut untuk diberi kesempatan tampil.  

Dengan rekayasa mereka, jadilah Islam sesuai dengan tuntutan jaman, yang notabene sesuai dengan tuntutan nafsu keserakahan manusia di abad modern ini.

Akan tetapi setelah berjalan sekian lama, hasil dari peniruan buta terhadap Barat ini ternyata membawa dampak yang luar biasa. Kebejatan moral melanda generasi muda, pergaulan bebas, kumpul kebo, rok mini, free sex, aborsi, dan adegan panas lainnya merupakan akses dari diberlakukannya ajaran Barat yang serba individualistis dan liberal. Tak terelakkan, para orang tua yang dulu paling getol mengampanyekan nila-nilai Barat juga ikut khawatir nasib anak-anaknya.

Mereka mencoba kembali untuk menggali falsafah, nilai-nilai moral dan etika ketimuran untuk menetralisir hal-hal yang dipandang terlalu ekstrim. Bukankah mereka masih terikat dengan adat tenggang rasa, gotong-royong, sopan-santun, dan nilai-nilai luhur lainnya?

Karenanya, bagi wanita Indonesia, Kartini adalah tokoh yang pantas ditampilkan sebagai wanita Timur yang maju dan modern. Akhirnya, mereka mengupas dan menerjemahkan surat-surat Kartini yang dikirimkan kepada teman-teman Belandanya untuk dijadikan sebagai model dan gaya. Tapi apa yang diperoleh? Tidak lain kecuali terjemahan yang mengada-ada, terjemahan yang kelewat batas, yang andaikata Kartini sekarang lahir tak akan tahu lagi bahwa itu adalah buah ide dan gagasannya.

Hal lain yang bisa kita gali dari ajaran yang berserakan di dunia Timur lainnya adalah India. India mengenal satu paham yang mengharuskan istri ikut dibakar bersama mayat suaminya. Di Jepang dikenal keyakinan yang memperkenankan suami membawa pulang gundik atau pelacur. Sementara Arab jahiliah mengenal satu ketentuan untuk mengubur hidup-hidup anak perempuannya sendiri, masih banyak lagi.

Tak perlu lagi berspekulasi, ajaran Islam telah memberi kepastian kepada kita bagaimana cara untuk jadi wanita shalihah. Tuntunannya sudah jelas. Ajarannya sudah gamblang. Hasilnya juga sudah cukup mengagumkan.

Wanita muslimah tak perlu lagi menuntut persamaan haknya dengan pria, apalagi mempromosikan emansipasi yang lahir dari dunia non islami. Islam memberikan hak-hak yang cukup besar kepada wanita yang tidak dimiliki oleh ajaran Timur dan Barat.

Cara pandang dan cara pendekatan Islam terhadap wanita memang beda dengan ajaran Timur dan Barat. Barat memandang pria dan wanita adalah sama, yang punya hak tidak berbeda. Dengan demikian satu dengan yang lain dapat saling berkompetisi, atau lebih jauh lagi saling mengganti. Itulah sebabnya wanita Barat mengejar kemandirian sedemikian rupa agar sama sekali tidak bergantung kepada lelaki. Bagi mereka lembaga keluarga tidak perlu dibutuhkan.

Dalam urusan karir, mereka juga punya kiat sendiri. Kalau pria bisa jadi presiden, kenapa wanita tidak? Kalau pria bisa memimpin sekian banyak perusahaan, kenapa wanita tidak? Dan seterusnya, hingga barangkali, kalau pria kencing berdiri, kenapa wanita tidak? Naudzubillahi min dzalik.

Dari paham seperti ini akhirnya lahir dengan suburnya lembaga-lembaga prostitusi yang resmi atau setengah resmi dengan segala perangkat dan fasilitasnya. Lahir juga dari sana paham free sex, kumpul kebo, film porno, dan sejenisnya dan hal ini jelas jelas dilarang oleh agama islam dengan ancaman neraka sbagai mana hadits:1993

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, ‘Rasulullah SAW telah bersabdaAda dua golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat. Pertama, orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi yang mereka pergunakan untuk memukul orang lain. Kedua, wanita-wanita yang berpakaian tetapi tembus pandang, tidak menutup aurat, memperlihatkan bentuk tubuhnya hingga seperti telanjang. Mereka menggoda laki-laki, berjalan dengan berlenggak-lenggok, dan rambut mereka seperti punuk unta yang miring Wanita-wanita tersebut tidak akan masuk surga — dan bahkan tidak akan dapat mencium wangi surga. Padahal wangi surga itu dapat tercium dari jarak yang ditempuh sekian dan sekian lamanya.” (Muslim 8/155).

Islam itu tidak Barat tidak Timur. Islam punya konsep sendiri dalam memberikan hak-haknya kepada wanita. Dengan bahasa yang sederhana tapi cukup mengena, Allah menggambarkan dalam firman-Nya, “Mereka ( kaum wanita) itu pakaianmu, (sebaliknya) engkau (kaum lelaki) adalah pakaian mereka.” (Qs.AL-Baqarah: 187).

Dengan demikian jelaslah bagaimana kedudukan wanita di depan pria. Mereka punya hak, seperti kaum pria juga punya hak. Mereka punya kewajiban, seperti kaum pria juga punya kewajiban. Akan tetapi tentu saja bukan persamaan hak. Sebab konstruksi dan konstitusi psikologis wanita dan pria memang berbeda. Tugas dan fungsinya juga tidak sama. Mereka saling melengkapi, bukan saling mengganti. Mereka saling bergantung, bukan hidup sendiri-sendiri.

Dunia ini tak akan seimbang manakala salah satunya tidak ada. Dunia akan terasa guncang manakala mereka saling berselisih, berebut tugas dan fungsi. Islam mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kaum wanita dan kaum lelaki saling berbagi tugas agar dunia semakin seimbang dan serasi.(P08/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply