MUSLIM AS DIPECAT KARENA SHALAT DITEMPAT KERJA

Ohio, 19 Jumadil Awal 1434/31 Maret 2013 (MINA) – Seorang Muslim AS kelompok advokasi telah mengajukan keluhan terhadap perusahaan Amerika atas pemecatan delapan belas pekerja Muslim karena mereka melakukan shalat di tempat kerja.

“Mereka bahkan tidak pernah membicarakan segala jenis kebutuhan,” Jennifer Nimer, direktur hukum untuk cabang Ohio dalam pasal Columbus dari Hubungan Muslim Amerika, mengatakan (30/3) kepada Onislam.net dan dipantau oleh Mi’raj News Agency (MINA).

Perusahaan itu biasanya mengatakan pada para pekerja Muslim bahwa waktu  berdoa (shalat), pada jam istirahat sudah ditentukan.

Kelompok perlindungan itu mengajukan keluhan awal pekan ini terhadap Exel Inc, anak perusahaan dari Deutsche Post DHL, untuk pemecatan 18 pekerja Muslim dari e-Westerville berbasis perusahaan logistik.

Para pekerja, asal Somalia, yang dipecat karena mereka berdoa dua kali selama jam kerja selama sekitar 10 menit setiap kali.

Keluhan perusahaan itu menolak permintaan untuk menyesuaikan istirahat bagi para pekerja untuk memungkinkan mereka melakukan sholat.

Manajer sebelumnya telah membuat modifikasi jadwal istirahat, namun pengawas baru menolak untuk melakukannya.

“Ini tidak baik, ketika mereka menyadari waktu istirahat membuat mereka tidak bisa sholat,” kata Nimer.

Pejabat perusahaan, menyangkal melakukan hal itu dan mengatakan bahwa Exel didedikasikan untuk memastikan tempat kerja yang disiplin dan menghormati kegiatan karyawan untuk melakukan kegitan agama dan etnisnya.

“Tuduhan itu tidak sesuai atau tidak selaras dengan cara kita dalam melakukan bisnis di salah satu situs kami,” kata pejabat Exel dalam sebuah pernyataan.

Pejabat itu menambahkan, Exel bersusah payah untuk memastikan praktek ibadah karyawan dimengerti dan berjalan dengan semestinya. “Dalam kebijakan dan praktek, Exel telah membentuk budaya di mana diskriminasi dalam bentuk apa pun tidak akan ditolerir,” katanya.

Diskriminasi

Para pekerja yang dipecat mengeluh bahwa perusahaan memiliki sejarah diskriminasi terhadap umat Islam. “Perusahaan ini memiliki sejarah diskriminasi terhadap Muslim, terutama Muslim asal Somalia,” kata Nimer.

Nimer menambahkan diskriminasi ini terang-terangan tidak dapat ditoleransi. Para pekerja pun mengatakan bahwa mereka awalnya ditolak bekerja di departemen perusahaan.

Seorang manajer juga diduga telah mengatakan kepada karyawan untuk berdoa di toilet sehingga mereka tidak akan terlihat. Kelompok advokasi Muslim mengatakan pemecatan beberapa pekerja untuk bertemu kepada seorang manajer pada 8 Februari di mana mengatakan kepada karyawan lain bahwa kebijakan tidak akan berubah.

Karena para pekerja bersikeras melakukan ibadah di kantor, maka semakin banyak karyawan yang kemudian dipecat.

Nimer mengatakan tuduhan datang menyusul keluhan yang diajukan tahun lalu oleh dua karyawan Exel lainnya yang dipecat, dan keduanya Muslim.

Seorang pria yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan dia dipecat setelah meminta tambahan waktu istirahat untuk menghadiri sholat wajib bagi seorang laki-laki yaitu shalat Jumat, sementara yang lain mengatakan ia dipecat karena sholat selama waktu istirahat.

Sebagaimana disebut beberapa sumber, mengatakan bahwa Amerika adalah rumah dari minoritas Muslim yang jumlahnya antara enam hingga delapan juta.

Undang-undang negara bagian dan federal mengharuskan majikan untuk mengakomodasi praktik-praktik keagamaan pekerja kecuali jika mereka berlebihan dan tidak memnuhi kewajibannya sebagai pekerja.(T/P08/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply