MUSLIM ROHINGYA DALAM KONDISI MEMPRIHATINKAN PADA MUSIM HUJAN

Myanmar, 18 Jumadil Awal 1434/30 Maret 2013 (MINA – Sedikitnya, 125.000 pengungsi Muslim Rohingya dalam kondisi memprihatinkan pada musim hujan, mereka telah mendekam di kamp rawan banjir sejak kekerasan terhadap warga Muslim merebak di negara itu sejak tahun lalu. Seperti dilansir Kantor Berita ABNA yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

John Ging, dengan kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan, Kamis (28/3), “Rohingya sekarang dalam bahaya bencana lain, ketika musim hujan melanda dan Kita harus bertindak agar segera diprediksi dan mencegah bencana itu.”

Ging meminta pemerintah Myanmar untuk menyediakan lahan baru untuk kamp Rohingya karena musim hujan diperkirakan akan mulai pada bulan Mei.

Dia juga mengatakan, pemerintah harus membantu membangun kembali hubungan masyarakat, disorot oleh tindak kekerasan anti Muslim di Myanmar tengah bulan ini.

“Gravitasi dan urgensi dari situasi tidak dapat dilebih-lebihkan Masyarakat dan juga tokoh agama. Memiliki peran utama dalam meningkatkan budaya perdamaian dan saling menghormati di Myanmar multi kultural dan multi etnis,” tambah Ging.

Pernyataan Ging datang setelah pelapor khusus PBB tentang hak asasi manusia Myanmar, Tomas Ojea Quintana, mengatakan, “Ada laporan yang menunjukkan pemerintah Myanmar telah terlibat dalam kekerasan mematikan baru-baru ini terhadap Rohingya”.

“Militer dan polisi kini harus dimintai pertanggungjawaban atas pelanggaran hak asasi manusia,” kata Quintana.

Setidaknya 40 orang tewas di pusat Myanmar setelah gelombang baru serangan terhadap umat Islam terjadi pada tanggal 20 Maret, mendorong pejabat pemerintah untuk memberlakukan keadaan darurat dan jam malam di beberapa daerah.

Peningkatan baru kekerasan terhadap populasi Muslim negara itu yaitu membakar masjid, rumah-rumah dihancurkan dan tubuh hangus dibiarkan tergeletak di jalanan, dalam apa yang digambarkan banyak saksi untuk sebagian besar sebagai bagian dari kampanye yang terorganisasi dengan baik.

Vijay Nambiar, penasehat PBB terhadap Myanmar, yang berkeliling kota kekerasan di Meiktila pada hari Minggu, disepakati bahwa “banyak kekerasan ini direncanakan dan meminta pemerintah untuk menghukum mereka yang bertanggung jawab atas tragedi tersebut”.

Pemerintah Myanmar telah berulang kali dikritik karena gagal untuk melindungi komunitas Muslim negara itu, yang dikenal sebagai Rohingya.

Ratusan Muslim Rohingya diyakini telah tewas dan ribuan lainnya mengungsi dalam serangan oleh ekstrimis Budha, yang sering menyerang masyarakat Muslim dan membakar rumah mereka di negara bagian Rakhine.(T/P014/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply