OKI BAHAS KEKERASAN ROHINGYA APRIL MENDATANG

Jeddah, 19 Jumadil Awwal 1434/ 31 Maret 2013 (MINA) – Sekretaris Jenderal Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Ekmeleddin Ihsanoglu, mengumumkan, Menteri luar negeri dari negara-negara anggota OKI akan bertemu pada 14 April mendatang di Jeddah untuk membahas kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar.

“OKI siap untuk mengambil semua langkah yang diperlukan dan tindakan untuk menghadapinya”, kata Ihsanoglu dalam pernyataannya untuk menangani pertemuan kelompok mengenai kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Jeddah, Sabtu (30/3), seperti dilaporkan IINA.

Ihsanoglu juga mendesak pemerintah Myanmar untuk mengakhiri kekerasan ekstrimisme Buddha dan kampanye kebencian serta pembersihan etnis yang telah mereka lakukan terhadap umat Islam di negara tersebut.

“Kami menyerukan langkah-langkah untuk membantu Muslim Rohingya mendapatkan kembali tanah mereka yang sah dan hak kewarganegaraan mereka serta menghentikan pelanggaran hak asasi manusia terhadap mereka,” seru Ihsanoglu.

Ihsanoglu juga menyerukan kelompok kontak untuk membangun saluran kontak dengan masyarakat internasional untuk melaksanakan rekomendasi dari KTT Luar Biasa Islam Mekah yang diselenggarakan Agustus 2012 lalu.

Media pemerintah di Myanmar melaporkan, Sabtu (30/3), korban tewas akibat kekerasan masyarakat di pusat negara selama sepuluh hari terakhir telah meningkat menjadi 43 jiwa dengan lebih dari 1300 rumah, masjid dan bangunan lainnya hancur.

Ihsanoglu menyalahkan pemerintah Myanmar karena tidak kooperatif dengan permintaan masyarakat internasional untuk mengakhiri kekerasan dan memberikan solusi. “Kami telah mengetuk setiap pintu untuk meningkatkan kesadaran dan membiarkan masyarakat internasional tahu tentang hal itu. Pekan lalu, saya berbicara mengenai masalah itu di KTT Liga Arab, ” kata Ihsanoglu.

Pada Jumat (29/3), pemerintah Myanmar menolak keras komentar pelapor khusus PBB tentang hak asasi manusia di Myanmar, Tomas Ojea Quintana, dimana beberapa hari sebelumnya, Ia menerima laporan keterlibatan pemerintah Myanmar dalam beberapa aksi kekerasan.

Massa ekstrimis Buddha telah merampok melalui beberapa kota di pusat Myanmar sejak kekerasan agama meletus pada Rabu (20/3), yang mendorong pemerintah untuk memberlakukan keadaan darurat dan jam malam di beberapa daerah. Peristiwa itu adalah konflik sektarian terburuk sejak kekerasan antara umat Buddha dan Muslim tahun lalu di Rakhine yang menewaskan setidaknya 180 orang tewas dan lebih dari 110.000 mengungsi.

kekerasan terhadap populasi Muslim negara itu meningkat seperti membakar masjid, penghancuran rumah dan tubuh yang hangus dibiarkan tergeletak di jalanan, dalam apa yang digambarkan banyak saksi sebagai bagian dari kampanye yang terorganisasi dengan baik.

Pemerintah Myanmar telah berulang kali dikritik karena gagal untuk melindungi komunitas Muslim Rohingya.

Ratusan Muslim Rohingya diyakini telah tewas dan ribuan lainnya mengungsi dalam serangan oleh ekstrimis Buddha yang sering menyerang masyarakat Muslim dan membakar rumah mereka di negara bagian Rakhine. (T/P011/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply