OPOSISI CHAD ANCAM MULAI PEMBERONTAKAN

N’Djamena, 11 Jumadil Awal 1434/22 Maret 2013 (MINA) – Pemberontak Chad mengancam akan mengangkat senjata kembali melawan pemerintahan Presiden Idriss Deby setelah dua tahun kedua belah pihak sepakat menghentikan pertempuran, Al Jazeera melaporkan Jum’at (22/3).

“Setelah dua tahun menunggu pembicaraan, kami tidak punya pilihan lain,” kata  pemimpin gerakan oposisi Chad Timane Erdimi dari Doha, Qatar, via telepon sebagaimana dilansir Al Jazeera dari Reuters.

“Kami lelah menunggu dan pendukung kami di lapangan lelah. Yang mendorong kita untuk melawan adalah sikap penolakan keras kepala Deby. Kita harus bertempur kembali,” kata Erdimi.

Persatuan Pasukan Perlawanan (Union of the Forces of Resistance/UFR), sebuah koalisi kelompok perlawanan oposisi, meletakkan senjata mereka setelah Chad dan Sudan sepakat mengakhiri perang mereka  tahun 2010 dengan menghentikan dukungan kepada para pejuang oposisi di negara masing-masing.

Kedua negara sepakat bekerja sama membangun kembali daerah-daerah perbatasan mereka, langkah yang ditujukan memperkuat keamanan dan kredibilitas sebelum pemilu di kedua negara.

Bekas koloni Perancis ini adalah salah satu negara termiskin di dunia. Chad diguncang krisis kemanusiaan selama dekade terakhir, termasuk konflik di timur dan selatan, kekeringan di wilayah Sahel dan banjir.

Pemilu adil

Deby merebut kekuasaan dalam kudeta militer 1990. Deby kemudian memenangkan serangkaian pemilihan umum yang adil, namun dipertanyakan oleh pengamat internasional. Dia menolak tuduhan tersebut dan membela prestasinya.

Erdimi adalah pemimpin salah satu kelompok oposisi dari koalisi kelompok perlawanan 2008 yang menyerang ibukota Chad, N’Djamena bulan Februari. Mereka mengepung Deby di istananya.

Namun kelompok ini akhirnya menarik diri, mereka menuduh Perancis, bekas penguasa kolonial di Chad yang memiliki pasukan dan pesawat berbasis di Chad, membacking Deby. Paris mengatakan pasukannya memberi pendidikan, kesehatan dan dukungan logistik untuk tentara Chad, tetapi tidak terlibat langsung dalam pertempuran.

Namun pengamat mengkritik Deby, mereka mengatakan hasil tiga pemilu sejak kudeta tidak adil dan menyebut Deby korup dan diktator.

“Masalah tidak dapat diselesaikan kecuali ada negosiasi antara kedua belah pihak,” kata Erdimi yang mengasingkan diri di Doha sejak hubungan Chad dan Sudan dinormalisasi.

“Ada kesepakatan antara Chad dan Sudan, tetapi kami tidak diminta meletakkan senjata dan memulai negosiasi dengan Deby. Setelah ia melihat kami tulus letakkan senjata, ia tetap menolak untuk memulai pembicaraan,” tambahnya.

Erdimi, keponakan Deby (salah satu pemimpin di UFR) dan mantan pembantu Deby mengatakan tidak semua pihak oposisi melucuti senjatanya dan kini mereka berkumpul di antara wilayah Chad dan Sudan, berbatasan kota Tissi di tenggara dan berbatasan  dengan Libya di utara. (T/P09/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply