PALANG MERAH TEMUKAN 78 MAYAT DI IBUKOTA CAR

Bangui, 17 Jumadil Awal 1434/30 Maret 2013 (MINA) – Palang Merah Internasional di Republik Afrika Tengah (CAR) mengatakan Ju’mat (29/3), pihaknya menemukan 78  mayat di jalan-jalan ibukota Bangui setelah kudeta gerakan perlawanan koalisi Seleka akhir pekan lalu, media Modern Ghana melaporkan dan dipantau MINA, Sabtu (30/3).

“Sejak Sabtu (minggu lalu) hingga saat ini, relawan kami telah menemukan 78 mayat yang dibawa ke kamar mayat. Kami meminta penduduk datang ke lembaga-lembaga sanitasi untuk mengidentifikasi mayat agar dibawa pergi untuk dimakamkan,” kata anggota resmi Palang Merah Albert Yomba Eyamo.

Sementara PBB telah memperingatkan puluhan ribu orang miskin di negara yang terkenal tidak stabil itu, menghadapi kekurangan makanan yang parah.

Air minum dan listrik terputus di beberapa bagian Bangui, setelah hari Minggu koalisi Seleka, pimpinan Michel Djotodia, memaksa Presiden Francois Bozize melarikan diri dan memicu mengamuknya kelompok penjarah bersenjata.

Berita jumlah korban tewas dari Palang Merah mengenyampingkan perayaan Hari Nasional Republik Afrika Tengah, Jum’at.

“Upacara kecil perayaan hari jadi CAR hanya dihadiri sekitar 300 orang di monumen Boganda,” kata salah seorang warga, ia menjelaskan bahwa orang-orang masih takut setelah kudeta Minggu.

“Biasanya, ada lebih banyak orang, tetapi hari ini orang sekitar tidak bisa hadir dan mereka takut beraktivitas,” kata warga yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Pendiri bangsa, Barthelemy Boganda, membuka jalan bagi kemerdekaan CAR dari Prancis pada tahun 1960.

“Boganda adalah simbol, ia melakukan banyak untuk negara kita,” kata Peter Banguima, tukang daging setempat.

Orang-orang gelisah menunggu berita tentang pemerintah baru dari Perdana Menteri Nicolas Tiangaye, yang diangkat kembali ke jabatannya setelah selama dua bulan sebagai kepala pemerintah persatuan nasional, sesuai perjanjian damai yang ditandatangani oleh oposisi Seleka dan rezim Bozize di Libreville bulan Januari lalu.

Jum’at, pusat kota Bangui telah  tenang. Beberapa taksi memiliki jalan setelah penjarahan dan kerusuhan mereda. Kegiatan bisnis dan administrasi dijadwalkan akan dilanjutkan paling lambat, Selasa, sehari setelah Senin Paskah, jurubicara Seleka Christophe Gazam Betty mengatakan awal pekan ini.

Gerakan perlawanan koalisi Seleka menggulingkan Bozize dengan alasan  ia telah gagal menghormati ketentuan perjanjian Libreville. Bozize melarikan diri ke Kamerun dan telah meminta suaka di Benin, menurut Menteri Luar Negeri Benin Arifari Bako.

Djotodia, seorang mantan diplomat dan pegawai negeri sipil yang memilih membentuk gerakan perlawanan di tahun 2005. Hari Senin ia mengatakan bahwa ia bermaksud untuk memimpin negeri ini selama tiga tahun, sampai pemilu terorganisir.

Banyak tokoh politik telah mengatakan mereka akan bekerja sama dengan Djotodia untuk memulihkan ketertiban. Politikus Cyriaque Gonda, pemimpin mayoritas di era presiden Bozize, mengatakan ia dan rekan-rekannya memutuskan bersedia bekerjasama.

“Karena Djotodia telah mengatakan ia siap untuk bekerja dalam semangat perjanjian Libreville dan dia memiliki tangan terbuka,”kata Gonda pada pertemuan yang diadakan di sebuah hotel Bangui.

Republik Afrika Tengah telah stabil sejak kemerdekaannya tahun 1960. Namun kudeta dan  perlawanan oposisi telah menghalangi eksploitasi kekayaan nasional yang potensial dalam bentuk uranium, emas dan berlian.  Bozize sendiri meraih kekuasaannya dengan cara kudeta tahun 2003. Dan minggu lalu ia pun digulingkan dengan cara kudeta. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply