PALESTINA ADUKAN ISRAEL KE PENGADILAN INTERNASIONAL

Brussels, 20 Rabiul Akhir 1434 /2 Maret 2013 (MINA) – Perwakilan pemerintah Palestina yang berada di Eropa, Leila Shahid pada Kamis (28/2) lalu  mengirimkan surat pengaduan kepada badan diplomatik Uni Eropa yang berkedudukan di Brussels atas kematian seorang warga Palestina, Arafat Jaradat karena penyiksaan parah saat di tahanan Israel.

Berita ini dibenarkan oleh Daud Abdullah, direktur Middle East Monitor (MEMO) yang saat ini berkedudukukan di London, Inggris Jum’at(1/3) lalu.

Dalam sebuah email yang diterima oleh wartawan MINA, Abdullah mengatakan bahwa Uni Eropa diyakini sebagai sebuah lembaga yang mampu membawa Israel ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda.

“Ya,  berita ini benar. Adapun tujuan Palestina membawa kasus ini ke Uni Eropa adalah karena selama ini Uni Eropa bisa menjadi lembaga yang adil dan independen menangani sebuah kasus yang selanjutnya bisa di bawa ke Pengadilan Krimainal Internasional di Den Haag”, kata Abdullah.

Direktur MEMO yang pernah berkunjung ke Indonesia pada 2012 lalu itu juga menambahkan bahwa selama ini Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar bagi Israel. Uni Eropa selama ini juga banyak membantu Israel di bidang militer dan politik luar negeri. Oleh karena itu kebijakan Uni Eropa sangat berpengaruh signifikan terhadap kemajuan Israel selanjutnya.

“Uni Eropa adalah mitra dagang terbesar bagi Israel. Ada hubungan yang signifikan dan kerjasama militer antara keduanya. mantan kepala urusan luar negeri Uni Eropa mengatakan bahwa Israel adalah anggota  Uni Eropa dalam semua hal, walaupun nama Israel tidak ada dalam daftar anggota Uni Eropa”, tambahnya.

“Minggu ini Uni Eropa akan mengumumkan bahwa mereka akan mengumumkan sanksi terhadap setiap barang yang masuk dan keluar dari Palestina dan Israel yang saat ini kedua wilayah tersebut masuk dalam wilayah kekuasaan Israel”, tambahnya lagi.

Berikut ini adalah teks ringkas dari surat yang dilayangkan Palestina kepada Uni Eropa yang dilaporkan oleh WAFA:

“Kematian Arafat Jaradat pada Sabtu, 23 Februari 2013 lalu di dalam penjara Israel adalah  salah satu kasus yang telah ada sejak masa awal pendudukan Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza mulai tahun 1967.

Jaradat (30 tahun), ditangkap pada 18 Februari 2013 lalu karena diduga melemparkan batu kepada tentara Israel pada saat terjadi demonstarsi terhadap pemboman Israel di Gaza yang berlangsung November 2012 lalu . Dia meninggal di penjara Megiddo, dekat Haifa, yang sebelumnya telah diinterogasi. Hasil otopsi mengungkapkan bahwa ada penyiksaan dan tindak kekerasan yang menyebabkan kematian Jaradat itu. Dia menderita luka parah termasuk dua tulang rusuk patah, enam tulang di lehernya, tulang belakang, lengan dan kaki juga patah, serta mengalami luka parah di daerah punggung dan dada sebelah kanan.

Sejak tahun 1967, Jaradat adalah salah satu dari lebih dari 200 tahanan politik Palestina yang telah kehilangan nyawa mereka di penjara-penjara Israel sebagai akibat dari penyiksaan, kelalaian medis atau pembunuhan secara terang-terangan dan lebih dari sepertiga kematian itu terjadi akibat penyiksaan.

Berita kematian Jaradat datang di tengah-tengah protes rakyat yang telah menyebar di seluruh Tepi Barat dan Gaza pada Februari lalu yang mengutuk perlakuan Israel terhadap tahanan politik Palestina dan menuntut pembebasan Samer Issawi, Ayman Al-Sharawneh, Tarek Qa ‘adan dan Jafar Azzidine, empat tahanan yang telah mogok makan berkepanjangan dan sekarang dalam kondisi kesehatan yang kritis. Hal ini juga memicu solidaritas satu hari mogok makan oleh 4000 tahana lainnya yang ada di penjara-penjara Israel dan pusat-pusat penahanan lainnya.

Kematian Jaradat sekali lagi telah memperlihatkan betapa menyedihkan kondisi dari tahanan Palestina yang ada di penjara Israel, dan ketidakpedulian mereka terhadap tuntutan masyarakat internasional.

Dalam pertemuan di Ramallah kemarin (1/3), pemerintah Palestina yang dipimpin oleh Perdana Menteri Salam Fayyad saat berunding dengan pemerintah Israel. Keputusan yang dihasilkan dalam pertemuan itu menyebutkan bahwa Israellah yang bertanggung jawab atas kematian Arafat Jaradat selama penahanan dan interogasi.

Hal ini menegaskan bahwa laporan yang disampaikan oleh direktur Institute Saber Palestina Forensik Dr Al-Aloul yang berpartisipasi dalam otopsi mengungkapkan tanda-tanda penyiksaan adalah benar adanya.

Pemerintah Palestina menyatakan rasa salutnya terhadap aksi solidaritas dari para tahanan yang menuntut kebebasan mereka dengan melakukan aksi mogok makan. Tahanan yang menderita sakit, anak-anak, perempuan, para veteran serta anggota Dewan Legislatif yang ditahan Israel bersama-sama melakukan aksi tersebut.

Pemerintah Palestina juga menegaskan bahwa kesadaran masyarakat internasional yang peduli terhadap penderitaan para tahanan akan membuat  Israel mematuhi hukum internasional dan konvensi yang telah disepakati untuk membebaskan semua tahanan Palestina.(L/P04/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply