PALESTINA BERDUKA ATAS KEMATIAN ‘AL-KHANSA PALESTINA’

Gaza, 7 Jumadil Ula 1434/18 Maret 2013 (MINA) – Pemerintah Palestina mengumumkan, Palestina berduka atas kematian Maryam Farhat Ummu Nidal, 62 tahun, yang meninggal pada Ahad dini hari (17/3) setelah perjuangan panjang melawan penyakit yang dideritanya.

Dalam salinan pers rilis yang dikutip kantor berita berbasis di Gaza, Alray Agency, yang dipantau MINA, pemerintah Palestina  mengatakan, dengan hati yang penuh dengan rasa sakit dan penderitaan, Palestina berduka atas kematian Farhat Ummu Nidal, setelah seumur hidupnya dalam perjuangan dan pengorbanan demi kemerdekaan Palestina.

“Farhat adalah simbol legenda pengorbanan nasional, kita berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memberikan rahmat kepadanya dan mendapatkan peristirahatan yang damai bagi jiwanya, semoga Allah memberikan semangat bagi keluarganya dan memberikan kesabaran dan ketabahan bagi orang-orang yang mencintainya,” kata pemerintah Palestina dalam rilisnya.

Maryam Farhat sebagai anggota Parlemen di Dewan Legislatif Palestina, meninggal  pada saat beberapa jam setelah memasuki unit perawatan intensif di Rumah Sakit Al Shifa, Gaza City, Palestina.

Menurut, Sumber-sumber medis di Gaza mencatat, saat memburuknya kondisi kesehatan Maryam Farhat pada malam sebelum kematiannya,  ratusan warga Palestina di Gaza dan para pemimpinnya, yang dipimpin oleh Perdana Menteri di Gaza, Ismail Haniyah,  Wakil ketua Dewan Legislatif Ahmed Bahar, tokoh Palestina Mahmoud al-Zahar serta tokoh lainnya, berkumpul di Rumah Sakit Al Shifa untuk mendoakan almarhumah.

Sebelumnya, Maryam Farhat yang juga dikenal dengan Ummu Nidal, baru kembali  dari Mesir setelah melakukan perawatan medis. Dokter menegaskan, penyakit yang dideritanya adalah sirosis berat pada hati, dan penyakit radang usus.

Juru bicara Departemen Kesehatan di Gaza, Dr. Ashraf Al Qedra, mengkonfirmasi kematian Ummu Nidal dalam sebuah pernyataan singkat  di halaman akun “Facebook”-nya, Ahad dini hari (17/3).

Dalam siaran pers  Al-Qassam yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA) di Gaza City mengatakan, Ummu Nidal dikuburkan bersama dengan tiga putranya yang sudah syahid di sebelah Timur pemakaman Al-Syuhada.

Pada Ahad sore, warga Gaza mengiringi prosesi pemakaman almarhumah Ummu Nidal ke tempat pembaringan terakhir.

Anggota parlemen dan menteri-menteri yang dipimpin oleh Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniya, serta para pemimpin faksi Palestina telah berpartisipasi dalam melakukan penghormatan terakhir untuk melepas kepergian Maryam Farhat Ummu Nidal.

Mengenal Ummu Nidal (Al-Khansa Palestina)  

Maryam Farhat lahir dari keluarga sederhana di lingkungan Shijaia, Gaza City pada 24 Desember 1949, memiliki sepuluh saudara laki-laki dan lima saudara perempuan. Ia adalah siswa berprestasi di sekolahnya. Ketika masih bangku pertama SMA ia menikah dengan Fathi Farhat (Abu Nidal), ia menjalani musim ujian sekolah menengah dalam kondisi hamil putra pertamanya. 

Semenjak menjadi ibu, Ummu Nidal mendidik dan mendorong putra-putrinya menjadi pejuang melawan pasukan Israel. Ia memiliki enam putra dan empat putri, semuanya didorong untuk bergabung dengan Brigade Izzuddin Al Qassam, sayap militer Hamas.

Ia menjadi wakil di Dewan Legislatif untuk gerakan Palestina Hamas dalam pemilu legislatif yang berlangsung pada 2006. Ia adalah salah satu pemimpin perempuan terkemuka di Palestina.

Maryam Farhat Ummu Nidal dikenal sebagai “Al-Khansa Palestina”, karena pengorbanan besarnya selama peristiwa Intifada Al-Aqsa dan sebelum peristiwa itu terjadi, dimana rumahnya menjadi tempat kediaman bagi banyak pemimpin Al-Qassam terkemuka terutama Emad Akel, yang dibunuh di rumahnya pada tahun 1993 setelah terjadi bentrokan bersenjata dengan pasukan Israel.

Ibu dari tiga syuhada itu juga memenuhi syarat sebagai “Al-Khansa Palestina” karena  kehormatan bagi perempuan yang mengorbankan anak-anak mereka demi kejayaan Islam.

Maryam Farhat adalah ibu dari seorang bekas tawanan Israel dan tiga syuhada. Nidal, anak tertua, syahid pada 6 April 2003 dalam sebuah serangan udara Israel. Putra kekempat Maryam Farhat, Mohammed syahid pada 8 Maret 2002 saat menghadapi pasukan Israel di pos perbatasan Kerem Atzmona yang kini sudah dihapus sejak penarikan Israel dari wilayah Gaza pada tahun 2005.

Rawad, anak ketiganya, mengikuti saudara-saudaranya yang syahid, dibunuh Israel dengan tembakan rudal apache yang mengenai mobil yang ditumpanginya di Gaza City pada 24 September 2005. Sementara itu, Wesam, putra keduanya, dibebaskan setelah dikurung selama 11 tahun di penjara Israel pada September 2005. (T/P02/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

 

Leave a Reply