PARLEMEN EROPA TEKAN PENJAJAH ISRAEL

Delegasi Parlemen eropa didepan rumah Al-IsawiAl-Quds, Yerusalem, 21 Rabiul Akhir 1434/3 Maret 2013 (MINA) – Delegasi Parlemen Eropa yang tergabung dalam Dewan Hubungan Palestina-Eropa (Council for European Palestinian Relations /CEPR), menekan penjajah Israel untuk segera membebaskan Samer Al-Issawi dan para tahanan mogok makan lainnya yang berada di penjara-penjara penjajah Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan pada konferensi pers setelah kunjungan delegasi di rumah tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan selama lebih dari 223 hari, Samer Al-Issawi, Al-Quds, Sabtu (2/3).

Dalam konferensi pers yang dilaksankan bersama komite Keluarga tahanan dan tawanan Palestina, delegasi menjelaskan kondisi kesehatan Samer dan ilegalitas penahanannya. Delegasi CEPR juga memberi pesan kepada Parlemen Inggris untuk menekan penjajah Israel agar segera membebaskan Samer Al-Issawi dan para tahanan Palestina lainnya yang melakukan aksi mogok makan.

Samer Issawi, 33 tahun, telah ditahan tanpa tuduhan selama lebih dari tujuh bulan oleh penjajah Israel. Ia dibebaskan dari penjara pada bulan Oktober 2011 sebagai bagian dari pertukaran tahanan seorang perwira Israel Gilad Shalit dan kemudian ditahan lagi tanpa tuduhan pada tanggal 7 Juli 2012.

Issawi telah melakukan mogok makan sejak Agustus 2012 untuk memprotes penahanan atas dirinya. Kini Al-Isawi dalam kondisi kritis : kehilangan penglihatannya, muntah darah, dan hampir kehilangan kesadaran.

Pada Kamis (21/2), Pengadilan Distrik penjajah Israel di Al-Quds (Yerusalem) menghukum Al-Isawi hingga delapan bulan penjara. Al-Isawi masih menghadapi kemungkinan hukuman penjara jangka panjang yang dapat diaktifkan kembali oleh Pengadilan Militer penjajah Israel.

Selain Al-Isawi, tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan selama lebih dari 200 hari di penjara penjajah Israel adalah Ayiman Al-Sharawna, Ja’far Iz-Iddin dan Tareq Qa’daan.

Tuntutan utama para tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan adalah membuka kembali kunjungan keluarga dari Gaza dan menghentikan penahanan di sel isolasi. Selain itu, mereka juga memprotes penjajah Israel karena menahan tanpa dakwaan atau proses pengadilan. Mereka juga memberikan setiap tahanan atas hak-haknya untuk menggugat legalitas penahanan mereka dan hak mereka untuk mendapatkan bantuan hukum. Penjajah Israel menghentikan kunjungan keluarga bagi para tahanan yang melakukan aksi mogok makan.

Delegasi CEPR tiba di Tepi Barat pada Jum’at (1/3). Mereka kemudian melakukan kunjungan ke wilayah Al-Quds (Yerusalem) dan Hebron dalam upaya untuk mengunjungi tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan di penjara-penjara Israel dan memeriksa kondisi kesehatan mereka.

Delegasi CEPR juga bertemu dengan duta besar Inggris untuk Israel di Tel Aviv dan menyelidiki kondisi kehidupan para tahanan Palestina secara umum dan khususnya pada tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan.

Kondisi sanitasi yang buruk dari para tahanan mogok makan dan peningkatan kebijakan penindasan dan kekerasan terhadap para tahanan Palestina di penjara-penjara penjajah Israel dan yang menyebabkan kematian seorang tahanan Palestina ” Arafat Jaradat”pada  pekan lalu.

Delegasi CEPR yang melakukan kunjungan terdiri dari beberapa anggota parlemen Eropa, termasuk anggota Parlemen dan mantan Menteri  Inggris Sir Gerald Kaufman, anggota Parlemen Skotlandia Sandra White dan Jim Hume, anggota Parlemen Irlandia Pat Sheehan (pernah melakukan aksi  mogok makan pada tahun 1981 di penjara Inggris selama 55 hari berturut-turut) dan politisi Skotlandia Pauline McNeill, mengunjungi keluarga tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan Samer Al-Issawi.  

Penjajah Israel tidak pernah  terbuka

Direktur Dewan Hubungan Palestina Eropa (CEPR), Dr. Arafat Shoukri menyatakan delegasi parlemen Eropa itu merupakan kelanjutan dari upaya yang dilakukan oleh CEPR sejak tahun lalu agar Uni Eropa dan negara-negara anggotanya ikut campur tangan  menghentikan pelanggaran Hak Asasi Manusia  berkelanjutan yang dilakukan oleh penjajah Israel terhadap para tahanan Palestina di penjara-penjara penjajah Israel.

Selain kunjungan ke rumah Samer Al-Isawi, delegasi CEPR juga melakukan kunjungan ke keluarga Ayman Al-Sharawna. Delegasi CEPR juga bertemu dengan sejumlah anak-anak Palestina dari daerah Silwan di Al-Quds (Yerusalem) dimana penjajah Israel melakukan penangkapan berterusan dan perlakuan kasar terhadap anak-anak Palestina.

‘’Delegasi akan menyiapkan laporan lengkap tentang kondisi para tahanan Palestina di penjara-penjara penjajah Israel serta pelanggaran yang dilakukan penjajah Israel terhadap mereka. Delegasi kemudian akan menyampaikan laporan kepada komite khusus di Parlemen Eropa.” jelas Shoukri.

Sekitar 4750 tahanan Palestina berada di penjara-penjara Israel. Sebanyak 470 dari mereka berasal dari Jalur Gaza dan penjajah Israel memberi hukuman dengan hukuman penjara jangka panjang.

 Pada akhir September 2012, terdapat sekitar 60 tahanan Palestina yang ditahan di dalam sel isolasi, termasuk dua diantaranya ditempatkan secara terpisah untuk alasan negara atau keamanan penjara.

Sel (kurungan) Isolasi tersendiri digunakan oleh penjajah Israel sebagai tindakan disiplin dan juga praktek umum selama interogasi. Sel isolasi tersendiri dikombinasikan dengan uang denda merupakan hukuman yang paling umum diambil terhadap warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.

Sementara itu, Kondisi penjara-penjara Israel tidak memenuhi standar minimum dari hak asasi manusia yang dinyatakan dalam undang-undang dan konvensi internasional, khususnya Konvensi Jenewa Keempat.

Shoukri juga menunjukkan, CEPR telah bekerja keras untuk mengatur delegasi parlemen Eropa ke Palestina dalam rangka untuk menginformasikan pengambil keputusan Eropa tentang kondisi para tahanan Palestina dan Arab yang masih berada di penjara-penjara penjajah Israel.

Shoukri menambahkan, Penjajah Israel tidak pernah secara terbuka pada kondisi penjara kepada badan-badan politik atau parlemen dan organisasi hak asasi manusia untuk dapat mengekspos praktik menindas dan diskriminatif terhadap para tahanan, yang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap semua hukum kemanusiaan dan konvensi internasional.(T/P02/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply