PEMIMPIN SALAFI MESIR: DEMOKRASI MENYALAHI HUKUM ISLAM

foto: AhramKairo, 23 Rabiul Akhir 1434/5 Maret 2013 (MINA) – Muhammad Al Zawahiri, pemimpin terkemuka Salafi, menyatakan pada Senin (4/3) pemilu demokratis melanggar Hukum Islam karena mereka menempatkan “kedaulatan di tangan rakyat dan bukan di tangan Tuhan.”

Menurut laporan Ahram, saat diwawancara Anadolu Agency, Al Zawahiri menekankan penolakannya terhadap “sistem sekuler serta mekanismenya.” Dia melanjutkan meminta pelaksanaan “Syariah sejati (hukum Islam) yang didasarkan pada agama yang sejati.”

Dia menambahkan bahwa ia tidak akan menyerah pada realitas politik saat ini atau meninggalkan prinsip-prinsip agama. Bahkan ia berencana untuk mempromosikan di kalangan masyarakat apa yang selama ini dipahaminya.

“Berdasarkan pengalaman masa lalu, dan seperti yang terlihat di beberapa negara, pemilu tidak mengarah pada pemberlakuan syariat Islam,” tegasnya.

Dia memperhatikan, bagaimanapun, sistem saat ini di Mesir di bawah pemerintahan Presiden Muhammad Mursi adalah “jauh lebih baik dari sebelumnya,” seperti sekarang ruang untuk berkhotbah dan mengekspresikan pendapat jauh lebih besar dari pada rezim sebelumnya.

“Tapi situasi saat ini masih jauh dari apa yang kita impikan,” tambah Al Zawahiri.

Pernyataan Al Zawahiri datang  berkenaan dengan pemilihan parlemen Mesir pasca-revolusi, dijadwalkan mulai pada 22 April, dengan masa pendaftaran pencalonan akan dimulai pada Sabtu.

Majelis Rakyat pertama negara pasca-revolusi (legislatif rendah parlemen) dibubarkan tahun lalu oleh Dewan Tinggi Mesir  berdasarkan putusan pengadilan yang kontroversial.

Pada 1999, Mohamed Al Zawahiri dijatuhi hukuman mati in absentia untuk beberapa serangan di Mesir, termasuk pembunuhan pada 1997 atas 62 wisatawan asing di kota Mesir bagian atas, Luxor.

Setelah diekstradisi dari UEA pada tahun yang sama, dia dibebaskan pada Maret 2011 sebagai bagian dari amnesti diberikan kepada tahanan politik oleh dewan militer yang berkuasa pada saat itu. Ia kembali ditangkap pihak berwenang beberapa hari kemudian.

September lalu, dalam sebuah wawancara dengan berita penyiar CNN Amerika, El-Zawahiri mengusulkan gencatan senjata (hudna) antara Barat dan Islam saat ini, menyatakan ia berada dalam “posisi yang unik untuk membantu mengakhiri kekerasan.”(T/P03/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

http://english.ahram.org.eg/NewsContent/1/64/66087/Egypt/Politics-/Elections-violate-Islamic-Law-Egypts-Mohamed-ElZaw.aspx

Leave a Reply