PERANCIS: MISI DI MALI BELUM SELESAI

      Gao, 26 Rabiul Akhir 1434/8 Maret 2013 (MINA) – Menteri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian dalam kunjungan dadakannya ke Mali, Kamis (7/3) mengatakan misi di Mali belum selesai, demikian menurut laporan The Maghreb Daily yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA), Jumat.

     Menurut Le Drian, mengingat tujuan Perancis  untuk mengembalikan keutuhan Mali, maka Perancis akan meninggalkan Mali jika kondisi negara itu sudah pulih kembali.

     “Setelah itu kami akan menarik diri secara bertahap dan memberikan misi Afrika itu kepada PBB,” kata Le Drian kepada France 24 yang dikutip oleh The Maghreb Daily.

     Menurut sumber pertahanan Perancis, kunjungan dadakan Le Drian ke Mali itu bertujuan untuk membangkitkan semangat tentara Perancis setelah tewasnya prajurit Perancis yang keempat.

     Menteri pergi ke Gao (utara) selanjutnya akan ke ibukota Bamako. Kedutaan Besar Perancis di Bamako mengatakan Menteri  akan memberikan konferensi pers Jumat tengah hari.

      Anggota Partai Sosial Perancis ini langsung mengunjungi pasukan, Kamis pagi di lembah Amettetai jantung pegunungan Ifoghas,  yang dianggapnya “tempat suci bagi kelompok-kelompok pejuang Islam” dan teater “perang terberat”.

      “Pada anda, serta di lengan saudara-saudara dari Chad, saya tahu rasa sakit kalian dan saya salut dengan keberanian kalian.  Kini sebagian besar bergantung keberhasilan Operasi Serval (diluncurkan 11 Januari),” kata Le Drian menghibur pasukannya.

       Di Mali, sekitar 4.000 tentara Prancis mengkoordinasikan keberadaannya dengan tentara Mali dan 4.000 tentara dari negara-negara Afrika Barat serta 2.000 dari Chad.

Setidaknya empat tentara Perancis dan 26 tentara Chad telah kehilangan nyawa mereka dalam bentrokan dengan pejuang lokal sejak Januari.

     Perang pimpinan Perancis  di Mali telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang serius di daerah utara negara itu dan telah menciptakan pengungsi ribuan orang yang kini hidup dalam kondisi menyedihkan. Pada 1 Februari, Amnesty International mengecam “pelanggaran serius hak asasi manusia”, termasuk pembunuhan anak-anak dalam perang Perancis di Mali ini.

     Organisasi hak asasi manusia mengatakan ada “bukti bahwa setidaknya lima warga sipil, termasuk tiga anak, tewas dalam serangan udara” yang dilakukan oleh pasukan Perancis melawan pejuang lokal.

     Beberapa analis politik  meyakini bahwa sumber daya alam Mali yang melimpah, termasuk emas dan cadangan uranium, menjadi salah satu alasan di balik perang Perancis melawan negara Afrika. (T/P09/E1).

Mi’raj News Agency (MINA).

Rate this article!

Leave a Reply