PIMPINAN GERAKAN PERLAWANAN CAR TUNDA KONSTITUSI

Bangui, 15 Jumadil Awal 1434/26 Maret 2013 (MINA) – Pemimpin gerakan perlawanan koalisi Seleka, Michel Djotodia telah mengumumkan ia menangguhkan konstitusi Republik Afrika Tengah (CAR) dan membubarkan parlemen, lansir Al-Jazeera Selasa (26/3) yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA) di Jakarta.

Pengumuman hari Senin muncul satu hari setelah Seleka merebut ibukota, Bangui, dan memaksa Presiden CAR Francois Bozize mengasingkan diri ke Kamerun.

“Saya menganggap perlu menangguhkan konstitusi 27 November 2004 dan membubarkan parlemen serta pemerintahan,” kata Djotodia.

“Masa transisi akan membawa kita ke pemilihan yang bebas, kredibel dan transparan, saya akan keluarkan undang-undang dalam bentuk dekrit,” katanya.

Djotodia menyatakan dirinya sebagai presiden pada Ahad malam. Dia telah berjanji menjaga pembagian kekuasaan pemerintah  setempat sesuai kesepakatan damai bulan Januari.

Juru Bicara Seleka di Paris, Eric Massi mengatakan bahwa Perdana Menteri CAR Nicolas Tiangaye tetap duduk di jabatannya.

“Kabinet akan sedikit di reshuffle,” kata Massi.

“Bangui berada di bawah kendali kami dan tenang, tapi kami harus melakukan hal keamanan di lapangan. Penjarahan harus dihentikan,” tambah Massi.

Sebelumnya kantor Presiden Bozize mengeluarkan pernyataan di radio  nasional, Senin (25/3), yang mengatakan ia telah melarikan diri dari ibukota mencari perlindungan di Kamerun. Nazanine Moshiri Al jazeera, melaporkan dari Nairobi. Ia mengatakan jam malam telah diberlakukan di Bangui  dan gerakan Seleka mengadakan pertemuan di sebuah hotel lokal di ibukota.

Tentara Afrika Selatan tewas

Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma mengatakan sebelumnya, Senin, bahwa 13 tentara Afrika Selatan tewas dalam pertempuran sengit sejak Sabtu dengan  Seleka di pinggiran Bangui. Sedikitnya 27 tentaranya terluka dan satu belum ditemukan. Sumber Al Jazeera menyebutkan sekitar 5.000 pejuang Seleka  menyapu bersih ibukota Bangui pada Minggu setelah gagalnya kesepakatan pembagian kekuasaan.

Pengumuman tersebut menimbulkan pertanyaan tentang peran ke depannya 200 tentara Afrika Selatan. Mereka dikirim ke CAR pada Januari untuk mendukung pasukan pemerintah setelah Seleka melancarkan serangan di awal Desember.

Penjarahan massa

Sebelumnya telah dilaporkan, penjarahan dan tembakan terjadi di banyak tempat di Bangui setelah Seleka merebut istana presiden hari Sabtu. Kepala Kantor Biro PBB Urusan Kemanusiaan di Bangui, Amy Martin, menggambarkan situasi sangat genting. “Sebagian besar penduduk berada di rumah mereka, telah cukup banyak  yang dijarah,” kata Martin.

Dia mengatakan bahwa penjarahan itu dilakukan oleh kombinasi unsur-unsur kelompok bersenjata dan warga lingkungan yang menargetkan rumah-rumah di komunitas diplomat. Kantor Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengeluarkan pernyataan tertulis, Senin, mengatakan dia sangat prihatin dengan laporan pelanggaran berat hak asasi manusia di CAR. Ban Ki-moon menggarisbawahi bahwa mereka yang bertanggung jawab karena melakukan pelanggaran tersebut akan dimintai pertanggungjawabannya. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply