POP CULTURE BUDAYA KAFIR

 Oleh: Meilina Fitrianti*

Bangsa ini telah memasuki era modern dan globalisasi secara besar-besaran, bahkan dunia pun kini mencapai puncak kejayaan tekhnologi yang luar biasa. Masyarakat dari sebuah negara bisa saling berinteraksi jauh dan bebas melintasi batas negara secara nyata, artinya masyarakat yang berada di suatu negara dapat saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat yang berada pada di negara lainnya tanpa merasakan adanya batasan geografis yang jauh memisahkan.

Globalisasi, modernisasi dan westernisasi atau yang kita kenal Pop Culture atau budaya poluler sudah jauh masuk ke dalam kehidupan individu-individu dan masyarakat kita, khususnya bagi para remaja Islam kita di Indonesia yang sudah terkontaminasi dengan budaya barat yang mereka anut.

“Valentine’s Day” yang bulan februari kemarin menjadi tolak ukur bagaimana para pemuda-pemudi kita sudah jauh meniru budaya barat yang jelas amat salah untuk dilakukan. Sebentar lagi yang akan jatuh “April Mop”, sebuah tradisi dimana para pemuda-pemudi diperbolehkan berbohong secara besar-besaran serta beramai-ramai pada hari tersebut. Naudzubillahi mindzalik, sungguh budaya satanisme telah mengubah pola pikir manusia di dunia dengan menhalalkan perbuatan yang jelas-jelas sangat dibenci Allah SWT.

Agar lebih jelas, ada baiknya dibahas secara singkat apa itu globalisasi, modernisasi dan westernisasi.

Apa itu Globalisasi ?

Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang berarti universal (mendunia). Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya popular, dan bentuk interaksi yang lain.

Globalisasi memiliki banyak definisi, salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Lodge (1991), mendefinisikan globalisasi sebagai suatu proses yang menempatkan masyarakat dunia bisa menjangkau satu dengan yang lain atau saling terhubungkan dalam semua aspek kehidupan mereka, baik dalam budaya, ekonomi, politik, teknologi maupun lingkungan. Dengan pengertian ini globalisasi dikatakan bahwa masyarakat dunia hidup dalam era dimana kehidupan mereka sangat ditentukan oleh proses-proses global.

Apa itu Modernisasi ?

Menurut Wilbert E Moore modernisasi mencakup suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomi dan politis yang menjadi ciri negara-negara barat yang stabil. Karakteristik umum modernisasi yang menyangkut aspek-aspek sosio-demografis masyarakat dan aspek-aspek sosio-demografis digambarkan dengan istilah gerak sosial (social mobility).

Apa itu Westernisasi ?

Westernisasi merupakan suatu proses peniruan oleh suatu masyarakat atau negara terhadap kebudayaan negara negara barat  yang di anggap lebih baik dari kebudayaan negaranya sendiri. Namun sesungguhnya westernisasi adalah sebuah arus besar yang mempunyai jangkauan politik, sosial, kultural dan teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan bangsa-bangsa, terutama kaum muslimin, dengan gaya Barat.

Westernisasi pada hakikatnya merupakan perwujudan dari konspirasi Kristen-Zionis-Kolonialis terhadap ummat Islam. Mereka bersatu untuk mencapai tujuan bersama, yaitu membaratkan dunia Islam agar kepribadian Islam yang unik terhapus dari muka bumi ini. Bukankah Allah telah menyampaikan firmanNya, yang berbunyi:

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” [QS. Al-Baqarah : 120].

Gerakan westernisasi telah mampu menembus hampir di setiap negara di dunia Islam dan negara-negara Timur. Dengan diam-diam masyarakatnya terseret ke dalam peradaban Barat yang materialistik dan modern. Akibatnya mereka terikat oleh roda peradaban Barat. Kita bisa rasakan dengan adanya internet, informasi apapun dapat kita dapatkan disana. Mulai dari materi pelajaran, mencari teman, belajar bisnis, mencari barang-barang, dan tentunya untuk mengetahui perkembangan dunia.

Selain internet, ada juga handphone dan kecanggihan sistem komputerisasi yang menyediakan fitur-fitur canggih  seperti camera video, bluetoooth, infra red, dan tentunya internet. Demam intrnet seolah telah menjadi barang yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan manusia menjadi ketergantungan pada nama tersebut. Tidak kalah heboh adalah televisi, kotak bergambar dan bersuara yang ajaib ini juga banyak memudahkan informasi dan menyuguhkan banyak hiburan bagi kita.

Ikwafillah, sadar atau tidak kalau sebenarnya kita ini telah berada dalam jepitan pengaruh budaya yang individualistik, glamour, instan dan konsumtif seiring dengan berkembangnya arus modernisasi? Jika kita tinjau lagi tujuan kita menggunakan piranti-piranti canggih di atas. Apakah memang bermanfaat benar bagi kita atau tidak.

Lihatlah anak-anak muda penerus bangsa dan khilafah, bagaimana mereka dengan bangganya menyuarakan budaya popular yang melampaui arus. Westernisasi yang merupakan sebuah peniruan terhadap negara/budaya barat yang dianggap lebih baik dari budaya di negaranya,  terkadang asal ditiru  tanpa menyaring terlebih dahulu mana yang baik atau yang tidak baik untuk ditirunya.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Ahmad dalam musnadnya juz II hal. 50). Rasulullah juga pernah bersabda “Barang siapa menetap di negeri kaum musyrik dan ia mengikuti hari raya dan hari besar mereka, serta meniru perilaku mereka sampai mati, maka kelak ia akan dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat.” (HR. Baihaqi).

Akan tiba saatnya nanti kita dibangkitkan sesuai dengan golongan masing-masing, lalu apakah kita mau menjadi bagian yang termasuk dalam golongan bersama orang-orang kafir? Lalu bagaimana dengan para pemuda-pemudi kita yang telah jauh mengikuti kebiasaan mereka? Atas lebel “gaul” atau semacamnya, para pemuda-pemudi kita melangkah jauh membahayakan dari yang diperkirakan. Dengan histeris mereka mengelu-ngelukan nama artis barat yang diidolakanya, mereka tidak lagi mengingat atau bahkan tidak mengetahui siapa sebenarnya yang harus mereka idolakan dan mereka tiru sifat dan perilakunya.

Mereka akan tumbuh dewasa sebelum waktunya, menjadikan psikologis mereka, cara berfikir mereka serta kehidupan sosial mereka jauh dari konsep islami. Dengan bangganya masyarakat kita menjadikan negara-negara barat sebagai kiblat dari segala aspek kehidupan, baik itu gaya hidup, interaksi dan kehiduan social, hingga cara berfikir. Keadaan ini membuat manusia semakin menjauh dari konsep islami, meninggalkan Al-Quran sebagai acuan hidup mereka. Lantas siapa yang salah dalam hal ini? Sistemkah? Manusianya kah? Sistem sendiri dibuat oleh manusia, dalam hal ini saya umpamakan bahwa budaya poler yang terdiri dari globalisai, modernisasi dan westernasisai merupakan sebuah sistem.

Sistem tersebut sengaja dibuat oleh kaum zionis yahudi untuk merusak generasi  pemuda agar menjauhi Allah sebagai tuhannyadan meninggalkan Al-Quran sebagai acuannya, dan Muhammad sabagai idolanya. Lantas apa yang bisa kita perbuat sebagai salah satu dari jutaan orang di dunia yang peduli terhadap masalah ini? Dimulai dari membentengi serta membekali diri kita, keluarga, sahabat  dengan menerapkan  pola kritis dalam berfikir, menyaring serta mengolah informasi dan apapun yang kita terima. Membekali diri dengan ilmu agama,  referensi islam, dan Al-Quran sebagai senjata ampuh agar tidak terbawa arus yang merusak moral.

Lewat medialah kita ubah persepsi para pemuda-pemudi dan masyarakat luas atas kesalahan terbesar menganut Pop Culture atau budaya populer. Lewat media pula kita bangkitkan kesadaran generasi kita agar kembali menjadikan islam sebagai konsep menyeluruh dalam berkehidupan, menjadikan al-quran sebagai pedoman dan kiblat dalam berutinitas. Insya Allah hal tersebut merupakan solusi terbaik untuk mengelurkan generasi bangsa kita dari kerusakan akhir zaman.(R2).

*Marketing Department Mi’raj News Agency

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

 

 

Rate this article!

POP CULTURE BUDAYA KAFIR,0 / 5 ( 0votes )

Leave a Reply