PULUHAN RIBU RAKYAT CAR TERANCAM KELAPARAN

Bangui, 17 Jumadil Awal 1434/29 Maret 2013 (MINA) – Otoritas baru di Republik Afrika Tengah (CAR) berjuang pulihkan ketertiban di ibukota kudeta, Bangui,  Kamis (28/3), karena PBB memperingatkan puluhan ribu orang menghadapi ancaman kelaparan setelah penjarahan berlalu.

Menurut laporan Modern Ghana, air minum dan listrik masih terputus di beberapa bagian Bangui setelah gerakan perlawanan koalisi Seleka pimpinan Michel Djotodia merebut kota, Minggu, memaksa Presiden Francois Bozize melarikan diri.

“Krisis telah memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah sulit,” kata Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam sebuah pernyataan, menyebutkan di pusat dan utara negara ada 4,5 juta orang yang terkena dampak.

”Di Bangui, ketidakamanan menjadi menghambat upaya kemanusiaan dan penyediaan bantuan, terutama kesehatan. Lebih 80.000 orang berada dalam bahaya kehabisan makanan,” kata OCHA.

Pemimpin baru Bangui berusaha mempertahankan beberapa stabilitas. Seperti Perdana  Menteri  Nicolas Tiangaye, yang berdasarkan perjanjian damai di Libreville bulan Januari, Rabu (27/3) telah diangkat kembali. Sebuah pemerintahan baru diharapkan akan terbentuk.

Komite Palang Merah Internasional melaporkan, Rabu, depot di negara itu telah habis oleh para penjarah yang juga merampok toko dan bisnis pada hari-hari setelah kudeta. Setelah hari penjarahan, orang-orang dari kelompok bersenjata berkeliaran di jalan-jalan, warga di ibukota takut kembali bekerja meskipun Djotodia dengan tegas menyeru masyarakatnya untuk kembali beraktivitas.

Penguasa Bangui mengumumkan, Rabu, orang yang membawa senjata harus mendaftar pada hari terakhir. “Mereka akan diberi lencana ID. Siapapun yang belum melakukan ini berarti melanggar hukum dan undang-undang. Ini akan diterapkan secara ketat,” kata juru bicara Seleka Gazam Betty.

“Kami sedang mengatur tentang penempatan orang-orang Seleka di barak,” kata Perdana Menteri Tiangaye yang juga  seorang pengacara dis yang gani, lawan politik dari Bozize dan seorang mantan aktivis hak asasi manusia.

Pemerintah koalisi Seleka berusaha memulihkan keamanan dengan patroli yang dibantu kekuatan militer regional FOMAC di negara itu oleh NegaraMasyarakat Ekonomi Afrika Tengah (ECCAS).

Rumah sakit mencoba beroperasi tanpa dokter, kadang-kadang masih ada listrik. Koordinator OCHA  Zakaria Maiga menekankan, kurangnya kekuasaan membuat perawatan medis sulit dan mendesak staf rumah sakit memberikan layanan terbaik yang mereka bisa.

Menurut radio nasional Chad, Presiden Chad Idriss Deby Itno yang saat ini memimpin ECCAS, mengumumkan, Kamis, pertemuan puncak regional tentang krisis tersebut akan diadakan tanggal 3 April di N’Djamena.

“Pertemuan di ibukota Chad akan mempelajari cara kembali ke perjanjian damai Libreville yang ditandatangani di Gabon Januari lalu, setelah serangan pertama Seleka menyebabkan kesepakatan pembagian kekuasaan,” lapor radio tersebut.

Djotodia, seorang tokoh Soviet terlatih yang misterius, bertahun-tahun menjadi pegawai negeri sipil dan diplomat hingga akhirnya mendirikan gerakan perlawanan pada 2005. Ia mengatakan bermaksud menjaga Tiangaye sebagai perdana menteri, Senin lalu.

Djotodia membubarkan parlemen dan mengumumkan akan membentuk pemerintah baru dengan dekrit. Ia menekankan akan mematuhi semangat persatuan nasional yang diabadikan dalam perjanjian Libreville. Tapi Djotodia mengatakan pemilihan baru tidak akan diadakan selama tiga tahun.

Pasukan Seleka dikerahkan menggulingkan Bozize di Bangui dengan alasan rezimnya telah gagal menghormati perjanjian perdamaian. “Konteksnya telah berubah tetapi pemainnya sama,” kata Tiangaye yang akan segera mengumumkan line-up kabinet inklusif.

Tiangaye yang adalah pilihan Seleka setelah kesepakatan Januari, mengakui bahwa hubungannya dengan Djotodia akan jauh lebih baik dibandingkan dengan Bozize. Dia juga mendesak masyarakat asing untuk terus membantu negaranya yang merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Sumber daya uranium, emas dan berlian yang ada tidak pernah dimanfaatkan.

“Tanpa masyarakat internasional, kita tidak akan pernah berhasil,” kata Tiangaye. Bozize yang juga naik ke kekuasaan melalui cara kudeta tahun 2003, telah muncul di Kamerun, di mana pihak berwenang mengatakan ia sedang menunggu relokasi ke negara lain. 

Independent Online menyebutkan Bozize akan mencari suaka ke Benin, negara Afrika Barat. Sementara 28 anggota keluarganya sudah berada di Kinshasa, ibukota Republik Demokratik Kongo. (T/P09)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply