RUSIA DUKUNG LARANG PENGGUNAAN JILBAB DI SEKOLAH

Kairo, 8 Jumadil Ula 1434/20 Maret 2013 (MINA) – Larangan baru pada pemakaian jilbab Muslimah di wilayah selatan Rusia Stavropol memaksa penduduk di daerah tersebut.

Larangan tersebut memaksa penduduk Muslim di daerah Itu untuk menyekolahkan anak mereka, sehingga bisa mengenakan pakaian sya’ir, atau memberikan mereka pendidikan home schooling.

“Jika mereka berpikir bahwa karena sesuatu terjadi dengan putri saya, saya akan melupakan agama saya–saya katakan, tidak, agama adalah tujuan dari hidup saya,” kata Ali Salikhov, seorang ayah Muslim, Selasa (19/3/), demikian laporan Onislam yang dipantau Miraj News Agency (MINA)

“Selama 70 tahun mereka mengajarkan kami bahwa tidak ada Tuhan, tapi itu sudah berlalu, dalam 20 tahun mendatang mereka akan lupa bahwa hijab pernah dilarang Di Rusia”Ujar Salikhov.

Sementara itu, Putri Salikhov, telah dilarang mengenakan jilbab dan pakaian muslim untuk dipakai di sekolah mereka di desa Kara-Tyube  Oktober lalu.

Meskipun pada awalnya mereka diizinkan untuk sekolah mereka pada September dengan mengenakan jilbab, kemudian mereka diberitaukan bahwa tidak akan diizinkan masuk kecuali jika mereka meninggalkan busana Muslimah mereka.

Masalah tersebut menarik perhatian media setelah kepala sekolah menegaskan untuk melarang penggunaan jilbab karena menolak mengakui anak-anak ke sekolah memakai jilbab.

Para pemimpin di wilayah tersebut mendukungnya dengan memperkenalkan seragam yang tidak memungkinkan anak perempuannya untuk mengenakan jilbab sebagai pembatas aurat yang mempengaruhi sekitar 2,7 juta penduduk.

Larangan menggunaan jilbab telah membuat keluarga muslim tidak memiliki pilihan lain, selain menyekolahkan anak perempuan mereka ke sekolah tersebut untuk melanjutkan pendidikan mereka, sambil menjalankan keyakinan mereka, Mendengar berita tersebut, Raifat putri Salikhov, menangis, karena ia akan dikirim ke Dagestan.

Amina (10), keponakannya juga mulai menjalankan home schoolingdengan seorang guru, bukannya menghadirikelas disekolah dasar didaerah tersabut.

Ketegangan Agama

Larangan jilbab dipandang sebagai upaya untuk membangkitkan ketegangan dikalangan antara kelompok agama yang telah hidup bersama secara damai selama beberapa dekade.

“Ketika kami membicarakan aspek sosial dari masalah  jilbab, salah satu dari lawan kami berkata, ‘Biarkan orang-orang itu kembali ke tanah air sejarah mereka, ke tanah air hijab mereka, dan biarkan mereka mengenakan hijab di sana’,” kata Murad Musayev.

Seorang pengacara dari Chechnya sangat setuju untuk membantu empat putri ayah tersebut  putrinya yang dikeluarkan dari sekolah karena penggunakan jilbab. “Ini adalah pendapat yang cukup umum di Rusia.”

Larangan tersebut, muncul di tengah meningkatnya ketegangan etnis yang telah dihadapkan Kremlin baru-baru ini. Untuk menghindari sebagian ketegangan  terjadi di Kaukasus Utara, Putin diberikan subsidi dan otonomi yang luas kepada daerah yang mayoritas Muslim.

Tapi sekarang Kremlin harus menghadapi kebencian yang tumbuh di sebagian besar wilayah Rusia seperti Stavropol, yang terletak di tepi penggunaan Kaukasus, didominasi oleh penduduk Ortodoks Rusia.

Anvar Suyunov, seorang Nogay dari Kara-Tyube, mengatakan dekrit yang menyentuh “pertanyaan yang sangat rumit penentuan nasib sendiri” dan bisa membuktikan perpecahbelahan yang berbahaya.

“Itu ide bodoh, karena mereka bisa memecah belah negara,” katanya. “Setiap aksi memiliki reaksi.” Yang lainnya, termasuk keluarga Salikhov, melihat keputusan ini sebagai percobaan oleh pemerintah untuk menciptakan masalah di desa dan bertujuan memaksa keluarga Muslim untuk meninggalkan daerah tersebut.

“Mereka harus mengeluarkan undang-undang yang mengatakan, ‘larangan penggunaan jilbab’,” katanya Salikhov.

 Muslim di Federasi Rusia sekitar 23 juta di Kaukasus Republika Chechnya, Ingushetia dan Degestan, Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua yang mewakili sekitar 15 persen dari 145 juta mayoritas penduduk Ortodoks. Islam adalah agama terbesar kedua Rusia yang mewakili sekitar 15 persen dari 145 juta penduduknya mayoritas Ortodoks.(T/P012/R2).

MIRAJ NEWS AGENCY (MINA)

 

Leave a Reply