SEKJEN KEMANUSIAAN PBB DESAK AKHIRI KONFLIK SURIAH

Pengungsi SuriahDamaskus, 7 Jumadil Awal 1434/ 19 Maret 2013 (MINA) – Sekretariat Jenderal urusan Kemanusiaan PBB pada Kamis (14/3) mendesak masyarakat internasional untuk berbuat lebih banyak dalam mengakhiri konflik di Suriah yang kini memasuki tahun ketiga.

Wakil Sekjen Valerie Amos dalam kunjungan dua hari ke Turki mengatakan hal itu, saat ia berbicara dengan pengungsi Suriah di Provinsi Kilis Tenggara, seperti dilaporkan website resmi PBB yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

“Saya bertemu dengan sebuah keluarga yang meninggalkan rumah mereka lebih dari 18 bulan lalu. Mereka hampir putus asa. Mereka merasa ditinggalkan oleh masyarakat internasional. Mereka semua menginginkan hal yang sama, konflik agar segera berakhir sehingga mereka bisa pulang ke Suriah,” kata Amos.

Dalam kunjungannya di Ankara, Amos juga bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Turki Besir Atalay, dan Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu serta pejabat pemerintah lainnya dan pejabat kemanusiaan senior, termasuk Presiden Bulan Sabit Merah Masyarakat Turki (Kizilay), Ahmet Lutfi Akar.

Suriah dilanda aksi kekerasan sejak konflik berdarah pemerintahan Presiden Bashar al-Assad dimulai pada Maret 2011. Saat ini sekitar 70.000 orang tewas, lebih dari 1 juta melarikan diri ke negara tetangga, 2 juta lainnya terpaksa menjadi pengungsi dan lebih dari 4 juta warga membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Sementara itu, Program Pangan Dunia PBB (UN World Food Programme / WFP) mengatakan, sedang menghadapi tantangan berat dalam memperluas operasi darurat pemberian makan jutaan warga yang terkena dampak konflik.

“Ini adalah krisis global yang membutuhkan respon internasional, sehingga kita dapat memenuhi kebutuhan yang meningkat dan mendesak Suriah,” kata Direktur Eksekutif WFP Ertharin Cousin.

Menurutnya, WFP sangat berterima kasih atas dukungan sumbangan dari sekitar 30 negara penyumbang kemanusiaan, seperti Australia, Kanada, Uni Eropa, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat.

Badan ini berencana untuk menjangkau 2,5 juta orang di wilayah Suriah dan lebih dari satu juta di negara-negara tetangga. Namun, upaya ini terancam kurangnya sumber daya. Setidaknya, WFP membutuhkan $156 juta (sekitar 1,5 triliun rupiah) untuk melanjutkan pekerjaannya memberi makan warga Suriah sampai Juni 2013.

WFP mulai beroperasi darurat di Suriah pada bulan Agustus 2011, dan sejauh ini telah mendistribusikan lebih dari 83.000 metrik ton makanan untuk jutaan warga Suriah di lebih dari 400 lokasi yang berbeda di seluruh negeri, dengan menggunakan 5.000 truk dan 55 kapal.

“Ini saat kritis bagi warga Suriah. Mereka kehabisan tabungan mereka dan mereka membutuhkan bantuan lebih karena krisis ini masuk ke tahun ketiga. Sekarang bukan saatnya untuk mengurangi atau menghentikan operasi kami,” kata Cousin.

Lembaga ini terus bertekad untuk menghemat bantuan yang ada, dan berupaya mencari dukungan berkelanjutan dari negara donor sampai solusi politik selesai.

WFP ini didanai sepenuhnya oleh sumbangan sukarela. Keterlambatan dalam pendanaan berarti hal itu berhubungan dengan ketersediaan jatah makanan, yang menurut rencana disampaikan kepada keluarga warga Suriah pada bulan Maret.

Di negara-negara tetangga, tim WFP terutama di Irak, Yordania, Lebanon, Turki dan Mesir menggunakan voucher makanan untuk memberi makan ratusan ribu pengungsi Suriah. Sejauh ini, WFP telah mendistribusikan voucher makanan lebih dari satu juta dan setengah juta paket makanan di beberapa negara.

Badan itu mengatakan bahwa bantuan makanan saat ini meliputi beras, gandum, kacang, gula, minyak sayur dan garam. Namun, kurangnya dana akan memaksa WFP lebih lanjut untuk mengurangi jatah makanan pertengahan April. (T/P011/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply