SEKOLAH DI JERMAN KEKURANGAN GURU AGAMA ISLAM

North rhine-westphalia, 24 Rabiul Akhir 1434/7 Maret 2013 (MINA) –  Kurangnya guru dan materi Pendidikan Agama Islam yang tepat menghambat upaya untuk memberikan pendidikan agama bagi siswa Muslim di Jerman. Sejak awal tahun ajaran baru, pelajaran agama Islam telah diterapkan di sekolah-sekolah tertentu. Namun, sangat sedikit siswa yang mendapatkan kelas pelajaran Agama Islam.

Menteri pendidikan Rhine-Westphalia Utara (NRW), Sylvia Lohrmann,  mengatakan kepada tv Internasional Deutsche Welle (DW), yang dipantau MINA, Rabu (6/3),“ Tapi apa jalan keluarnya?” Kami tidak bisa memberikan pelatihan kepada guru-guru, sebelum kami mengetahui apakah kami akan memiliki kelas sejak awal,” katanya, menambahkan bahwa ada hal pertama yang harus menjadi landasan hukum, untuk memperkenalkan kelas Agama secara bertahap .

NRW telah memasukkan pendidikan agama Islam dalam kurikulum tahun ajaran baru dan menjadi negara Jerman pertama yang mengambil langkah tersebut. Namun awal program ini sudah lemah karena kekurangan guru pendidikan Islam.

Huseyin Cetin, seorang guru yang mengajar pelajaran agama Islam di Marxloh, bagian Muslim terbanyak di Duisburg wilayah Lembah Ruhr industri Jerman. Di mana Duisburg adalah negara bagian pertama di Jerman yang menerapkan pelajaran agama Islam. Tapi pengenalan kelas ini tidak merata.

Ada hampir 100.000 siswa Muslim di sekolah-sekolah dasar di NRW, negara bagian Jerman yang paling padat penduduknya. Namun, hanya ada 2000 guru yang mengajar Agama Islam.

Lebih buruk lagi, kursus untuk pelatihan guru dalam studi Islam di universitas-universitas Jerman baru saja dimulai. Para lulusan pertama dari University of Munster akan belum siap sampai musim semi 2017.

Huseyin Cetin mengajarkan kelas kedua di Marxloh, sebagai salah satu dari 40 guru yang berkualitas pengajar agama Islam di NRW. Ia belajar teologi dan meraih gelar pendidikan dari Universitas Uludag di Turki. Dia telah bekerja sebagai guru agama Islam dalam berbagai proyek sejak tahun 1999.

Cetin mengatakan, pengetahuan tentang Islam terhadap anak-anak sangat bervariasi, tergantung pada seberapa sering mereka menghadiri kelas di masjid local dan berapa banyak pengetahuan Agama dari negara atau orang tua mereka.

“Tugas kami adalah untuk menyelaraskan tingkat-tingkat pengetahuan yang berbeda dan untuk mengoreksi informasi yang salah yang mereka miliki,” katanya menambahkan bahwa instruksi memenuhi fungsi penting dalam hal ini.

kementerian pendidikan NRW mencoba untuk memecahkan masalah ini dengan menawarkan program khusus untuk melatih pendidik pada studi agama Islam. “Di sisi lain, Muslim yang terdaftar dalam program studi Islam sedang dilatih untuk mengajar pelajaran agama,” kata Prof. Mouhanad Khorchide, dari University of Munster.

“Ada buku untuk kelas lima dan enam, tapi materi tidak cukup untuk tingkat yang lebih tinggi,” kata Aziz Fooladvand, yang mengajar di Bonn, saat ditemui TIM Deutsche Welle. “Saya memilih sendiri topik untuk semua tingkat kelas, tapi itu membutuhkan banyak waktu dan usaha.” katanya

Meskipun menghadapi masalah-masalah ini, masih ada optimisme bahwa pendidikan agama yang sesuai akan dapat diberikan kepada para pelajar Muslim di Jerman. “Hal ini dipandang sebagai tanda diakuinya Islam dan umat Islam sebagai warga yang setara di negara ini,” katanya.

Tiga negara Jerman baru-baru ini mengakui kelompok Muslim sebagai badan keagamaan resmi, membuka jalan bagi umat Islam untuk menyediakan pelajaran agama di sekolah-sekolah mereka sendiri.

Terdapat antara 3,8 sampai 4,3 juta Muslim di Jerman, yang membentuk sekitar 5 persen dari dari total populasi 82 juta. Jerman telah menentang kehadiran umat Muslim, dengan perdebatan sengit mengenai imigrasi Muslim ke negara itu. Sebuah jajak pendapat terbaru oleh University of Munster menemukan bahwa warga  Jerman memandang warga Muslim lebih negatif daripada tetangga-tetangga Eropa mereka.

Harian Jerman  Der Spiegel menyebutkan pada Agustus tahun lalu bahwa negara ini menjadi tidak toleran terhadap minoritas Muslimnya. Menurut sebuah jajak pendapat nasional 2010 oleh lembaga penelitian Infratest-Dimap, lebih dari sepertiga dari responden lebih memilih “Jerman tanpa Islam.”(T/P014/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply