SISWA DI BURIN TERLIBAT BENTROK DENGAN TENTARA ISRAEL

Burin, Tepi Barat, 20 Rabiul Akhir 1434 /1 Maret 2013 (MINA) – Sekelompok siswa di desa Burin, Tepi Barat pada  Kamis (28/2) terlibat bentrok dengan tentara zionis Israel yang menyerang desa mereka.

Ghassan Daghlas, seorang warga Palestina yang bertanggung jawab memonitor aktivitas pemukiman di utara Tepi Barat mengatakan bahwa tentara Israel datang menyerbu desa mereka. Lalu para siswa melakukan perlawanan dengan melemparkan batu kepada para tentara. Demikian seperti yang dirilis  WAFA yang dipantau oleh Mi’raj News Agency (MINA).

Tentara Israel kemudian mengejar para siswa hingga mereka meninggalkan sekolah. Beberapa siswa dilaporkan terluka akibat tembakan tentara Israel. Namun belum ada laporan penangkapan tantara Israel terhadap siswa.

Tentara Israel menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk menyerang para siswa yang mencoba melawan mereka. Dari pihak tentara Israel juga dikabarkan menderita luka-luka akibat lemparan batu dari para siswa.

Ini adalah ketiga kalinya dalam beberapa pekan terakhir ini, tentara Israel menyerang warga Palestina di daerah tersebut. Mereka dituduh menghambat perluasan pemukiman yang sedang dibangun Israel di Tepi Barat.

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan tentaranya menggunakan cara-cara anti kekerasan untuk menghalau warga Palestina yang menduduki lahan yang akan dibangun pemukiman oleh Israel. Namun warga Palestina justru melemparkan batu kearah para tentara.

Namun hal itu bertentangan dengan fakta di  lapangan. Tentara Israel langsung menggunakan gas air mata, granat kejut, bahkan menembakkan peluru ke arah warga Palestina. Demikian seperti yang dikatakan oleh Daghlas kepada WAFA.

Warga Palestina mendirikan perkemahan di area yang akan dibangun oleh pemerintah Israel. Mereka mengklaim bahwa tanah tersebut  adalah milik mereka yang direbut secara paksa oleh Israel. Mereka mengusir warga dan tidak memberi ganti rugi sedikit pun.

Warga desa Burin mengatakan bahwa mereka telah mendapat laporan yang dikeluarkan  oleh Badan penyelidik HAM PBB  yang menyerukan kepada Israel untuk menghentikan perluasan pemukiman dan menarik semua pemukim Yahudi di sana. Badan tersebut menyatakan bahwa Israel  bisa saja diadili dengan tuduhan kejahatan kemanusiaan karena pembangunan pemukiman tersebut.

Kementerian luar negeri Israel dengan cepat menolak laporan itu dan mengatakan hal itu sebagai sesuatu yang dapat mengadu domba pemerintah Israel dengan warga Palestina.

Di Tepi Barat sendiri ada Sekitar 500.000 warga Israel dan 2,5 juta warga Palestina tinggal sana. Pembicaraan damai antara Israel dan Palestina mengalami kemacetan  pada 2010 lalu karena Israel melanggar kesepakatan dengan terus melanjutkan pembangunan diatas tanah milik warga Palestina.(T/P04/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Leave a Reply