SUDAN DAN SUDAN SELATAN SEPAKAT BUKA ALIRAN MINYAK

Addis Ababa, 1 Jumadil Awal 1434/13 Maret 2013 (MINA) – Sudan Selatan  menandatangani serangkaian penawaran baru, Selasa (12/3) di Addis Ababa, ibukota Ethiopia untuk memulai kembali aliran minyak yang terhenti selama lebih dari setahun setelah Sudan menutup pipanya.

Perjanjian tersebut menetapkan tenggat waktu 14 hari sejak  penandatanganan oleh Juba dan Khartoum, “menginstruksikan perusahaan minyak untuk membangun kembali produksi minyak”, menurut sebuah salinan kesepakatan.

Sudan.net melaporkan, jika kesepakatan ini diikuti, bisa memakan waktu beberapa minggu bagi perusahaan untuk membuka kembali pipa minyaknya. Tapi itu menawarkan harapan terobosan segar  untuk mengakhiri krisis.

Kepala negosiator Sudan Idris Mohammed Abdel-Gadir menandatangani kesepakatan bersama mitranya Sudan Selatan  Pagan Amum. Penandatangan tersebut dimediatori oleh Uni Afrika, mantan Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki.

Kedua Negara bertetangga ini semakin kekurangan uang setelah Juba menutup produksi minyaknya tahun lalu berturut-turut karena marah dan menuduh Khartoum mencuri minyak mentah.

Sudan Selatan merdeka pada Juli 2011 setelah referendum yang dibentuk berdasarkan kesepakatan damai 2005 yang mengakhiri lebih dari dua dasawarsa perang saudara berdarah.

Sementara Sudan Selatan dengan itu mengambil sebagian besar ladang minyak, semua infrastruktur pipa  yang melalui utara Sudan. Kedua negosiator dan Mbeki tersenyum lebar dan berjabat tangan setelah penandatanganan kesepakatan pada Selasa dini hari.

Pasukan kedua negara  yang disiagakan ratusan meter di beberapa tempat terpisah dalam kebuntuan konflik, akan mulai ditarik dari zona penyangga perbatasan dalam waktu seminggu.

Selain itu, sepuluh chek point perbatasan yang sangat menyulitkan pedagang lokal, akan dibuka dalam waktu seminggu.

Hari Senin (11/3), tentara kedua belah pihak mengatakan akan menarik keluar pasukannya untuk menerapkan zona demiliterisasi, meskipun para pakar politik regional meragukan upaya terakhir akan berhasil.

Sudan dan Sudan Selatan mengumumkan langkah mereka untuk mendemilitarisasi perbatasan. Namun pasukan Khartoum, Senin  mengatakan mereka bentrok dengan Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan-Utara (SPLM-N) di negara bagian Blue Nile.

Khartoum menuduh Sudan Selatan mendukung pemberontak  yang adalah mantan rekan-rekannya selama perang saudara 1983-2005  yang  menjadi hambatan besar untuk mengimplementasikan perjanjian.

Sudan Selatan, pada gilirannya, mengatakan  mendukung gerilyawan di wilayahnya, sebuah taktik mematikan yang digunakan  selama dua dasawarsa perang saudara. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply