SUDAN DAN SUDAN SELATAN SEPAKAT LANJUTKAN EKSPOR MINYAK

        Khartoum, 2 Jumadil Awal 1434/ 13 Maret 2013 (MINA) – Sudan dan Sudan Selatan telah sepakat melanjutkan aliran ekspor minyak di bagian selatan melalui pipa di Sudan setelah lebih dari setahun Sudan Selatan menutup seluruh aliran tersebut.

        Mediator Uni Afrika mengumumkan kesepakatan tersebut pada Selasa (12/3) yang memungkinkan perdagangan antara kedua negara tersebut setelah Sudan Selatan menutup aliran minyaknya yang mencapai 350.000 barel per hari pada bulan Januari tahun lalu karena perselisihan mereka dengan Khartoum mengenai biaya. Mereka juga sepakat menarik pasukannya dari daerah perbatasan dalam upaya terbaru untuk mendirikan sebuah zona penyangga setelah pertempuran tahun lalu.

         Sudan yang diwakili Idris Mohammed Abdel Gadir dalam perundingan itu, menandatangani perjanjian dengan Sudan Selatan yang dipimpin Pagan Amum untuk menetapkan batas waktu dimulainya pengiriman minyak setelah empat hari perundingan tersebut yang berlangsung di tempat netral Addis Ababa, Etiopia.

         Thabo Mbeki, mantan Presiden Afrika Selatan yang menjadi mediator antara kedua belah pihak mengatakan, perusahaan-perusahaan telah diperintahkan untuk melanjutkan pengiriman minyak terhitung 10 Maret dengan tambahan periode dua pekan untuk melaksanakan pengiriman.

         Kedua negara tersebut bergantung pada minyak untuk memperkuat devisa negara yang digunakan untuk mengimpor pangan dan bahan bakar. Tetapi perselisihan atas perbatasan dan isu-isu lain membuat Sudan Selatan memberhentikan ekspor minyaknya.

Menurut laporan Aljazeera yang dikutip Kantor Berita Islam Mi’raj (MINA), dalam pembicaraan di ibukota Etiopia, juga disepakati penarikan pasukan dari perbatasan oleh kedua belah pihak untuk meredakan ketegangan dan membuka jalan untuk melanjutkan ekspor minyak tersebut.

         Juru bicara militer Sudan Selatan, Philip Aguer, mengatakan pasukannya akan menarik diri dari perbatasan dalam waktu dua pekan ke depan.

         “Pasukan kami harus mulai pindah ke daerah yang telah ditentukan, sekitar 10 km dari zona penyangga,” kata Aguer, saat membacakan surat dari kepala Staf Angkatan Darat.

         Di Sudan, sebuah pernyataan dari Menteri Pertahanan Abdelrahim Mohammed Hussein menyebutkan, pasukannya telah berkomitmen untuk menepati perjanjian yang ditandatangani di bawah mediasi Uni Afrika pada Jumat lalu di Addis Ababa, Etiopia.

         “Sejak kemarin, pasukan kita sudah mulai mundur dari zona penyangga,” katanya.

          Kedua negara tersebut sepakat pada bulan September tahun lalu untuk mendirikan sebuah zona penyangga, setelah terjadi bentrokan terburuk di perbatasan pada bulan April pasca terpecahnya dua negara tersebut. Pakta tersebut juga menyerukan kembalinya Sudan Selatan untuk mengekspor minyak melalui pipa di wilayah utara.

          Namun hal itu tidak berpengaruh terhadap kebijakan yang dilakukan karena Sudan menuduh Sudan Selatan mendukung pemberontak yang ada di perbatasan, khususnya di propinsi Kordofa Selatan dan juga Nil biru. Namun pihak Sudan Selatan menyangkal tuduhan tersebut.

          Sudan Selatan memisahkan diri dari Sudan pada bulan Juli 2011. (T/P01/E1).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply