TENTARA PERANCIS TEWAS DI BASIS PEJUANG ISLAM MALI

     Paris, 7 Jumadil Awal 1434/18 Maret 2013 (MINA) – Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian hari Ahad (17/3) mengatakan seorang tentara Perancis tewas di basis pertahanan  kelompok pejuang Islam di pegunungan Ifoghas, Mali Utara, tanpa menyebutkan waktu terjadinya.

      Menurut laporan sumber media Malaysia The Star yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), tentara berusia 24 tahun berpangkat kopral itu menjadi tentara Perancis kelima yang tewas sejak Paris melancarkan serangan militer dua bulan lalu.  Sebuah ledakan bom pinggir jalan menghantam  kendaraan patroli Perancis saat memburu kelompok pejuang Islam Mali.

      Tiga prajurit lainnya terluka ketika kendaraan mereka terkena ledakan.

      Sementara itu, sebuah konferensi internasional yang dipimpin oleh Dewan Perdamaian dan Keamanan Uni Afrika di Nouakchott membahas situasi di Mali Utara dan wilayah yang lebih luas. Dinyatakan bahwa upaya awal oleh kekuatan regional The African-led International Support Mission to Mali (AFISMA) untuk menstabilkan wilayah tersebut harus dikonsolidasikan.

        Dengan pimpinan pasukan khusus Perancis dan persenjataan udara, serangan Perancis hanya butuh beberapa hari untuk merebut kembali kota-kota utama di bagian utara Mali, yang dikendalikan oleh kelompok Islam afiliasi Al Qaedah dan sekutu-sekutunya sejak musim semi lalu.

        Namun sebagian besar pejuang Islam bergerak ke utara dan melawan dari benteng terpencil mereka di gunung. Perancis telah mengakui bahwa agresi  mereka memasuki  fase paling berbahaya sejak keterlibatannya. Itu menjadi tanda konflik masih jauh dari selesai. Lima rudal meledak beberapa kilometer di luar kota utara utama Gao Sabtu malam, meskipun tidak ada korban.

       Presiden Perancis Francois Hollande telah berencana menarik kehadiran militernya pada awal April dan mulai menyerahkan tanggung jawab kepada tentara Mali dan pasukan stabilisasi Afrika.

      Pasukan AFISMA yang terdiri dari Negara Kelompok Ekonomi Afrika Barat (ECOWAS)  terlambat dikerahkan serta  membutuhkan pendanaan dan pelatihan.

      Menurut sebuah survei yang dilakukan badan amal setempat, sekitar 6.000 orang yang melarikan diri dari Gao baru saja kembali ke rumah mereka.

      Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia Ertharin Cousin, Ahad (17/3), memperingatkan tentang krisis kemanusiaan di Mali.

      Pada kunjungannya ke Mali, Cousin menyerukan kerja keras dan upaya untuk membantu kembalinya pengungsi ke rumah mereka. Ia mengatakan masih ada pekerjaan yang harus dilakukan.

      Sementara pertemuan para menteri  negara Uni Afrika di ibukota Mauritania yang juga dihadiri oleh perwakilan negara-negara Uni Eropa dan PBB, memfokuskan pembicaraan tentang “memfasilitasi realisasi mandat AFISMA” di Mali. (T/P09/E1)

Mi’raj News Agency (MINA).

Leave a Reply