TURKI TOLAK UPAYA REKONSILIASI DENGAN PENJAJAH ISRAEL

Gaza, 25 Rabiul Akhir 1434/7 Maret 2013 (MINA) – Profesor ilmu politik di An-Najah National University Palestina, Osman, menyimpulkan Pemerintah Turki menolak segala upaya rekonsiliasi yang dilakukan penjajah Israel hingga semua persyaratan yang diminta terpenuhi.

”Memiliki bobot politiknya sendiri, Turki tidak mengubah kebijakannya untuk memuaskan Amerika Serikat (AS), melainkan mempertahankan sikap dan hal ini membuat sulit untuk mengubah sikapnya terhadap penjajah Israel hingga akhirnya penjajah Israel memenuhi semua persyaratan.” Kata Osman seperti dilansir media berbasis di Gaza AlResalah yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA), Kamis (7/3).

Osman menjelaskan, penjajah Israel sangat tertarik untuk memulihkan kembali hubungan dengan Turki dalam kondisi normal seperti sebelum pembentukan pemerintahan Recep Tayyip Erdogan pada tahun 2002. Ia mencatat bahwa sebelum masa itu, hubungan penjajah Israel-Turki mencapai puncaknya.

Osman juga menegaskan, situasi telah berubah setelah kemenangan Partai Keadilan dan Kebebasan Turki yang diketuai Erdogan, 2002. sementara itu, sikap Turki mulai berubah seiring perjuangan kemerdekaan Palestina hingga kejadian tragedi Mavi Marmara.

Osman mencatat, penjajah Israel membutuhkan dunia Islam atas hubungan diplomatik dan ekonomi terutama setelah hubungannya memburuk dengan Mesir dan Tunisia.

Sebagaimana Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, mengunjungi Ankara, pekan kemarin, krisis baru terjadi atas ketegangan hubungan antara Turki dan penjajah Israel setelah pernyataan yang dibuat oleh Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, pada sesi pembukaan Forum internasional untuk Aliansi Peradaban ke-5 di Wina, Austria, Rabu (28/2), di mana ia menyebut Zionisme sebagai “kejahatan terhadap kemanusiaan”.

Sehubungan dengan komentar atas pernyataan Erdogan itu, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry dalam pernyataanya pada konferensi pers bersama Menteri luar negeri Turki Ahmet Davutoglu di Ankara, Sabtu (2/3), mengatakan bahwa Turki memiliki ikatan yang kuat dengan Amerika Serikat sebagai bagian dari negara-negara NATO, namun Amerika selalu membela penjajah Israel sebagai suatu strategi.

Rekonsiliasi Israel-Turki Gagal

Pernyataan Erdogan itu telah memenuhi berbagai kritik tajam di kalangan penjajah Israel, mendorong pandangan bahwa krisis antara kedua belah pihak tidak akan berakhir dalam waktu dekat, meskipun penjajah Israel meminta maaf atas pembunuhan sembilan aktivis Turki dalam kapal Mavi Marmara di perairan internasional, 31 Mei 2010 lalu.

Turki memutuskan semua hubungan dengan penjajah Israel atas terbunuhnya sembilan aktivis Turki pada armada laut untuk bantuan kemanusiaa, Mavi Marmara, menuju Gaza, 31 Mei 2010 lalu.

Turki meminta permintaan maaf resmi, membayar kompensasi kepada keluarga para korban dan mengakhiri blokade Jalur Gaza sebagai prasyarat untuk normalisasi hubungan dengan rezim penjajah Israel.

Memburuknya hubungan Turki-penjajah Israel menjadi kekhawatiran mendalam bagi AS. Hubungan dengan Turki telah menjadi hubungan strategis bagi penjajah Israel pada bidang militer dan politik. Hal itu mendorong penjajah Israel untuk mengerahkan segala upaya memulihkan kembali hubungan tersebut.

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri penjajah Israel, Danny Ayalon pada akhir tahun 2012, menyatakan semua upaya untuk memulihkan hubungan dengan Turki pada tahun 2012 telah gagal karena pemerintah Turki menentang kebijakan pemulihan hubungan tersebut.

Penjajah Israel berusaha untuk membuat rekonsiliasi dengan Turki dengan memulihkan kerjasama strategis antara kedua negara di bidang militer dan intelijen.

Penjajah Israel telah mencoba untuk mengimbangi hubungan dengan Turki melalui aliansi Balkan dan Eropa Timur. Namun, mantan kepala Mossad, Meir Dagan, mengatakan saat berada di kantornya, hubungan ini gagal untuk mencapai keuntungan penjajah Israel yang digunakan untuk mengadakan kerjasama dengan Turki di berbagai bidang. (T/P02/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

 

Leave a Reply