UNI EROPA TETAP INGINKAN SOLUSI POLITIK ATAS KRISIS SURIAH

       Brussels, 1 Jumadil Awal 1434/ 12 Maret 2013 (MINA) – Uni Eropa (UE) Senin (11/3) menegaskan kembali satu-satunya solusi untuk krisis Suriah adalah politik, sementara Rusia juga menyuarakan harapan untuk penyelesaian politik meskipun sulit.
       Di Brussels, para menteri luar negeri Uni Eropa membahas situasi di Suriah dengan Lakhdar Brahimi, utusan khusus PBB dan Liga Arab untuk Suriah, demikian menurut laporan Xinhua yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Selasa.
       Setelah diskusi, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengatakan anggota blok 27 akan terus mendukung upaya Brahimi untuk menciptakan ruang untuk dialog politik antara oposisi Suriah dan wakil rezim Presiden Bashar al- Assad.
       “Satu-satunya solusi terhadap krisis ini adalah politik, dan Uni Eropa siap untuk membantu setiap cara yang mungkin,” kata Ashton.
        Dia menambahkan, Uni Eropa bertekad untuk meningkatkan bantuan kepada penduduk Suriah dan dukungan kepada oposisi.
        Uni Eropa merupakan donor kemanusiaan terbesar selama krisis hak asasi manusia di Suriah, dengan bantuan lebih dari 400 juta Euro (sekitar 520 juta dolar AS).
       “Kami sedang mencari cara agar dapat bekerja dengan oposisi untuk membantu memulihkan layanan dasar, seperti obat-obatan, pemurnian air dan pembangkit tenaga listrik, bahkan beberapa layanan administrasi,” kata Ashton menyusul pertemuan dewan.
          “Sementara itu, kami terus bekerja sama dengan mitra internasional kami untuk lebih mempersempit perbedaan,” tambahnya.
          Di Moskow, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan negaranya siap membantu dalam menemukan solusi politik bagi konflik Suriah, meskipun dengan kendala yang diciptakan oleh beberapa pendukung oposisi Suriah.
         “Ada banyak orang yang mencoba untuk mencegah kekerasan, termasuk para pendukung di luar oposisi yang disebut garis keras,” kata Lavrov sebelum bertemu Haytham Manna, koordinator Komite Koordinasi Nasional (National Coordination Committee/NCC) dari Suriah.
        Diplomat Rusia mengatakan pemerintah Suriah juga telah menawarkan proposal untuk kemungkinan dialog.
       “Rusia ingin memfasilitasi proses penyatuan dua pihak,” katanya, menekankan bahwa masalah politik Suriah harus diselesaikan oleh Suriah.
       Lavrov menyebut NCC sebagai kekuatan berpengaruh dari oposisi Suriah dan didukung niat untuk solusi politik bagi konflik, menurut laporan tersebut.
       Sementara itu, Koalisi Nasional Suriah (Syrian National Coalition/SNC), kelompok oposisi utama Suriah, kembali menunda pertemuan pada pembentukan pemerintah sementara.
        Pertemuan itu awalnya dijadwalkan bulan lalu di Istanbul, Turki, untuk memilih perdana menteri sementara namun ditunda sampai Selasa pekan ini.
        Ketika masyarakat internasional terus mengupayakan mediasi  untuk mengakhiri kekerasan dan pertumpahan darah di Suriah, ledakan dan serangan terus terjadi.
        Pada Senin (11/3), beberapa bom meledak di beberapa daerah dan sebuah stadion di ibukota Suriah Damaskus, meninggalkan sejumlah luka di kalangan warga dan atlet, media lokal melaporkan.
        Dua bom yang pertama mendarat di daerah Bab Sharqi di Damaskus, media lokal mengatakan banyak orang terluka dan menyebabkan kerugian material.
        Bom lain mendarat di Stadion Tihsreen di kabupaten Bramkeh di pusat Damaskus, melukai dua wasit, seorang wartawan dan seorang pegawai sipil.
        Stadion yang sama terkena bom bulan lalu yang menewaskan seorang pemain sepak bola 19 tahun.
        Serangan bom telah menjadi rutinitas sehari-hari sebagai akibat dari pertikaian militer di pinggiran kota Damaskus antara pemberontak dan pasukan pemerintah. (T/P011/E1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply