UNICEF: ISRAEL ANIAYA ANAK-ANAK PALESTINA

Tepi Barat, 27 Rabiul Akhir 1434/8 March 2013 (MINA) –  Badan  Internasional PBB yang mengurusi  Anak-anak (UNICEF) pada Kamis (7/3) mengeluarkan laporan bahwa anak-anak Palestina  yang berada dalam tahanan Israel mengalami penganiayaan dan perlakuan yang tidak manusawi.

Hal itu diungkapkan UNICEF dalam sebuah laporan yang dipublikasikan dalam situs resminya pada Kamis (7/3) lalu.

Laporan UNICEF itu didasarkan pada temuan dari penelitian yang melibatkan lebih dari 400 anak-anak yang ditahan sejak tahun 2009.  Mereka mengumpulkan dokumen hukum, laporan resmi pemerintah Israel, laporan yang dikeluarkan oleh badan-badan HAM, wawancara langsung dengan anak-anak, dan para pejabat Israel dan Palestina.

Dalam laporannya, UNICEF mengatakan bahwa anak-anak Palestina yang berada di dalam penjara Israel rata-rata berusia 12-17 tahun.  Kebanyakan dari mereka adalah  laki-laki. Mereka  diculik, diinterogasi dan dipenjarakan oleh tentara Israel. Hal itu terjadi setiap tahun di Tepi Barat.

Tidak hanya itu, mereka juga mengalami pelecehan seksual setelah di interogasi oleh tentara Israel. Hal itu mereka alami tanpa adanya peradilan yang jelas dan tidak tahu kapan mereka akan dibebaskan.

UNICEF  menambahkan bahwa apa yang dilakukan Israel terhadap anak-anak yang ditahan itu diluar peri kemanusiaan. “Mereka mendapat penyiksaan  yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia. Hal itu jelas melanggar undang-undang Konvensi Perlindungan Anak Internasional, tentang Penyiksaan, ”  tulisnya.

UNICEF juga mengungkap  bahwa anak-anak Palestina menghadapi perlakuan buruk itu semenjak  penangkapan mereka. Sebagian besar aksi penangkapan dilakukan pada tengah malam, ketika tentara bersenjata Israel memaksa masuk ke rumah warga Palestina. Perlakuan buruk tidak berhenti di situ saja,  tetapi terus-menerus sepanjang interogasi dan penahanan.

Salah satu cara penyiksaan itu adalah dengan menutup mata anak-anak, mengikat kedua tangan dan kakinya, dan menyiksa mereka secara fisik dan verbal (cacian).

Mereka kemudian dipaksa untuk menandatangani  surat pengakuan dengan tidak mengijinkan mereka untuk membacanya lebih dulu. Tidak ada pengacara, perwakilan hukum, atau anggota keluarga yang bisa mendampingi mereka,” ungkapnya lagi.

Keluarga dari anak-anak tersebut dilarang untuk menjenguk mereka. Dengan dalil supaya tidak ada yang melarikan diri, para orang tua tidak diijinkan masuk walaupun hanya melihat saja.

Saat ini ada ratusan anak-anak Palestina yang masih berada dipenjara oleh Israel, dirampas hak-hak dasarnya  seperti hak untuk perwakilan hukum, pendidikan, pelayanan kesehatan yang layak, dan banyak isu-isu penting lainnya dijamin oleh Hukum Internasional yang tidak dipenuhi oleh Israel.(T/P04/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply