ZIONIS ISRAEL MENJILAT LUDAH SENDIRI

Pada tanggal 23 Oktober 1985 silam, Pemerintah Republik Indonesia menandatangani sebuah Konvensi PBB yaitu Convention Against Torture And Other Cruel, Inhuman Or Degrading Treatment Or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan Dan Perlakuan Atau Penghukuman Lain Yang Kejam, Tidak Manusiawi, atau Merendahkan Martabat Manusia) yang ditetapkan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di dalam sidangnya pada tanggal 10 Desember 1984 di New York, dan mulai berlaku secara efektif pada tanggal 26 Juni 1987. Konvensi PBB ini ditanda tangani 78 negara (Saat ini disahkan oleh 105 negara) termasuk Israel pada 22 oktober 1986 dan Saudaranya Amerika Serikat pada 18 April 1988.

Indonesia sebagai bagian dari masyarakat internasional yang menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi prinsip dan tujuan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia, dan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 Indonesia adalah Negara hukum yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta menjamin semua warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum.

Sehingga segala bentuk penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia harus dicegah dan dilarang. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu poin melatarbelakangi penetapan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1998 tentang pengesahan Convention Against Torture And Other Cruel, Inhuman Or Degrading Treatment Or Punishment (Konvensi Menentang Penyiksaan Dan Perlakuan Atau Penghukuman Lain Yang Kejam, Tidak Manusiawi, Atau Merendahkan Martabat Manusia) tersebut.

Sedangkan definisi penyiksaan menurut konvensi tersebut adalah “Berbagai tindakan yang sakit parah, baik fisik maupun mental, yang sengaja diberikan kepada seseorang untuk tujuan seperti memperoleh darinya atau orang ketiga, informasi atau pengakuan, menghukumnya atas tindakan yang ia atau orang ketiga telah melakukan atau diduga memiliki komitmen, atau mengintimidasi atau memaksa orang itu atau orang ketiga, atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada setiap bentuk diskriminasi, ketika rasa sakit atau penderitaan yang diderita oleh atau atas hasutan atau dengan persetujuan atau persetujuan dari seorang pejabat publik atau lainnya orang yang bertindak dalam kapasitas resmi. Hal ini tidak termasuk rasa sakit atau penderitaan yang timbul hanya dari, melekat pada, atau terkait dengan sanksi hukum” (Konvensi Menentang Penyiksaan, Pasal 1.1).

Akan tetapi praktik-praktik penyiksaan dan perlakuan yang tidak manusiawi tentunya masih banyak sekali terjadi, terutama yang akan kami soroti adalah di Israel saat ini. Israel pada 22 oktober 1986 adalah salah satu Negara yang ikut mengesahkan dan menandatangani konvensi tersebut. Ironisnya Israel adalah negara yang pula melanggar kovensi tersebut.

Menurut data statistik yang dikeluarakan Psioner Support and human right Association pada 1 Februari 2013, jumlah tahanan Palestina dan tahanan di penjara-penjara Israel dan pusat-pusat penahanan telah mencapai 4.812 orang Palestina. Mayoritas adalah penduduk Tepi Barat dan Jalur Gaza, sisanya berasal dari Yerusalem. Tahanan tersebut tersebar di 17 penjara dan pusat-pusat penahanan Israel.

Penganiayaan dan kekerasan Israel terhadap para tahanan Palestina biasanya dimulai dari saat penangkapan. Kebanyakan tahanan, termasuk anak-anak, melaporkan telah dipukuli, ditendang, di ancam, hartanya disita secara ilegal dan dihancurkan rumahnya. Beberapa juga ada yang melaporkan penggunaan anjing polisi dan “bom suara” pada saat penangkapan.

Setelah terikat dan matanya tertutup, tahanan biasanya tidak diberitahu tentang alasan penangkapan mereka dan tidak diberitahu di mana mereka akan dibawa. Tahanan biasa terus dibiarkan berdiri atau berlutut dalam jangka waktu yang lama sebelum dilemparkan kesebuah jip militer, kemudian pelecehan, penghinaan, ancaman, dan pemukulan pun dilakukan.

Pada saat interogasi di pusat penahanan, tahanan ditempatkan di sel isolasi, atau dibawa langsung untuk diinterogasi. Selama interogasi, tahanan biasanya mengalami beberapa bentuk perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat baik fisik maupun psikis. 

Menurut Psioner Support and human right Association(Dukungan Terhadap Tawanan dan Asosiasi Hak Asasi Manusia) dan metode perlakuan buruk yang paling sering digunakan selama interogasi adalah pertama dikuranginya jam tidur, dengan cara sesi interogasi terus menerus dan berkepanjangan, penggunaan borgol yang berlebihan, pemukulan, menampar, menendang, dan penggunaan ancaman yang ditujukan pada tahanan atau anggota keluarga, termasuk ancaman penangkapan anggota keluarga, ancaman kekerasan seksual terhadap tahanan atau anggota keluarganya, ancaman penghancuran rumah, dan ancaman pembunuhan.

Metode kedua yaitu disebut “teknik interogasi militer”, di mana tahanan dibengkokkan diatas kursi kursi yang menyebabkan punggung sakit, atau dipaksa berdiri dalam waktu yang lama di dinding dengan lutut tertekuk, penekanan pada anggota badan tertentu, pencekikan dan cara lain agar sesak napas.

Metode ketiga yaitudiisolasi dalam sel kecil. Isolasi dianggap sebagai salah satu bentuk hukuman paling keras yang digunakan oleh Israel. Tahanan di isolasi dalam ruang gelap dan sangat kecil dalam jangka panjang dan tidak diizinkan memiliki kontak dengan tahanan lainnya. Mereka dipukuli dan dipermalukan setiap hari. Sel-sel mereka digambarkan seperti kuburan, beberapa tahanan telah menghabiskan bertahun-tahun dalam kurungan tersebut, yang menyebabkan gangguan mental dan fisik yang serius. Narapidana yang ditahan oleh Israel di sel isolasi selama bertahun-tahun diantaranya adalah Darar Abu-Seesi, Samer Abu-Kwaik, Tamer Al-Remawi, Awad Al-Saeedi dan Emad Sarhan dan seterusnya.

Menjilat ludah sendiri, tentunya kita sering mendengar peribahasa itu, itulah kalimat yang tepat dan pantas diberikan untuk Israel. Artinya, Israel melanggar peraturan yang mereka buat sendiri, Israel tidak tahu malu.

Bagaimana tidak, Israel adalah salah satu dari negara yang meng-kampanyekan anti tindakan  kekerasan tehadap tahanan, penyiksaan dan perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak manusiawi dan merendahkan martabat manusia seperti didalam isi konvensi penyiksaan yang ditanda tangani oleh Israel tersebut.

Sesuai dengan definisi penyiksaan menurut konvensi tersebut maka Israel telah melanggar pasal demi pasal pada konvensi melalui fakta-fakta kekejamanya tehadap para tahanan palestina. Dan sepertinya tidak ada sanksi yang bisa diberlakukan untuk kekejaman Israel tersebut, dan anehnya PBB dan dunia international tidak mampu berbuat banyak, seakan semua tumpul dihadapan Israel, dan pelanggaran demi pelanggaran pun masih terjadi hingga sekarang, Israel pun masih menjilati “ludahnya” sendiri tanpa ada yang mampu menghentikanya.

Kita sebagai bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sehingga segala bentuk penyiksaan dan perlakuan yang kejam dan tidak manusiawi harus dicegah dan dilarang. (P015/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply