1.000 TENTARA PERANCIS SISIR WILAYAH LOGISTIK PEJUANG MALI

Gao, 28 jumadil Awal 1434/9 April 2013 (MINA) – Satu pasukan Perancis berkekuatan 1.000 prajurit mulai melakukan penyisiran di lembah sungai yang dianggap sebagai basis logistik pejuang Islam dekat kota Gao, Mali, Ahad (7/4), wartawan sumber Independent Online yang menyertai misi itu melaporkan.

Penyisiran yang bernama ‘Operasi Gustav’, merupakan salah satu operasi terbesar Perancis sejak intervensinya di Mali bulan Januari, yang melibatkan puluhan tank, helikopter, dan pesawat drone, kata Jenderal Bernard Barrera, Komandan Angkatan Darat Perancis di Mali.

Gao, kota terbesar di timur laut Mali, merupakan benteng dari Gerakan Tauhid dan Jihad di Afrika Barat (MUJAO), salah satu cabang milisi al-Qaeda yang menduduki utara hingga Operasi Serval pimpinan Perancis memaksa mereka mundur.

Kota yang berjarak 1.200 kilometer dari ibukota Bamako itu, diguncang ‘bom jiwa’ pertama dalam sejarah Mali di bulan Februari dan telah menjadi ajang pertempuran antara pasukan Perancis dan pejuang Islam Mali yang menimbulkan tujuh kematian selama dua minggu terakhir.

Tidak ada pejuang Islam yang muncul pada hari pertama Operasi Gustav yang diluncurkan saat fajar Ahad, tetapi tentara berhasil menyita sekitar 340 peluru artileri dan roket berkaliber tinggi yang disembunyikan di bawah pohon akasia dalam jurang.

“Kami dikelilingi lembah utara Gao, yang kami yakini berfungsi sebagai basis logistik kelompok jihad, dan kami mulai mencari secara sistematis,” kata Barrera yang berada di Gao, tapi bergabung dengan pasukan pada Ahad sore.

Semua jalur akses ke lembah dan pegunungan utara Gao yang mematikan, diamankan hari itu juga.

Selanjutnya Brigade Mekanis mulai merambah hutan lebat. Intelijen militer menduganya sebagai basis persembunyian para pejuang.

Tentara Perancis akan menghabiskan hari-hari selanjutnya dengan menyisir lembah sejauh 20 kilometer dengan bantuan tentara Mali dan polisi yang pertama kali akan masuk ke kamp-kamp pengembara dan rumah lumpur di garis cekungan sungai yang kering.

Gerakan pe perlawanan etnis Tuareg merebut wilayah utara luas dan gersang di negeri itu dalam kekacauan setelah kudeta di Bamako pada Maret 2012, yang kemudian digeser oleh kekuatan kelompok pejuang Islam yang bersenjata lebih lengkap.

Intervensi Perancis dengan cepat mendesak gerilyawan dari sebagian besar bentengnya di utara, tetapi kantong-kantong perlawanan tetap ada di Gao, di gurun kota dongeng Timbuktu dan pegunungan Ifoghas.

Perancis akan memulai penarikan 4.000 tentaranya pada akhir April, dan berencana  menyisakan “kekuatan dukungan” 1.000 tentara setelah pemilihan umum yang dijanjikan bulan Juli. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply