70.000 PENGUNGSI MALI DARURAT BANTUAN KEMANUSIAAN

Nouakchott, Mauritania, 3 Jumadil Akhir 1434/13 April 2013 (MINA) – Doctors Without Borders (MSF) dalam laporan, Jum’at (12/4) di kamp Mbera, menyebutkan bahwa 70.000 warga Mali yang mengungsi di padang pasir Mauritania mengalami darurat bantuan kemanusiaan yang mendesak, MSF melaporkan dalam situsnya yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

Lembaga bantuan medis, yang juga dikenal sebagai Medecins Sans Frontieres, mengatakan kondisi pengungsi Mali di kamp Mbera menyedihkan dan bantuan kemanusiaan tidak cukup.

MSF juga mengatakan pengungsi Mali menderita karena kurangnya kebutuhan dasar dan kurangnya pangan. Di kamp juga kekurangan air, sementara suhu naik menjadi 50 derajat Celcius, Press TV melaporkan.

Laporan MSF yang rilis hari ini menyerukan organisasi-organisasi bantuan untuk segera memperbaharui upaya memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.

Staff emergency MFS Marie-Christine Ferir mengatakan anak-anak harus mendapatkan jatah susu yang baik dan mikro-nutrisi untuk menghindari kekurangan gizi.

Ferir juga menyatakan tingkat kematian anak-anak di kamp telah meningkat. “Saat ini di atas tingkat darurat, dari dua kematian per 10.000 orang per hari menjadi 3,2 kematian per 10.000 orang per hari,” katanya.

Menurut Ferir, 23-24 anak meninggal rata-rata setiap hari di Mbera. Perancis, pemimpin perang Mali, yang diluncurkan tanggal 11 Januari, telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang serius di wilayah utara negara itu dan membuat ribuan orang mengungsi, yang kini hidup dalam kondisi menyedihkan.

Berdasarkan kesaksian lebih dari 100 pengungsi di kamp Mbera, pengungsi yang melarikan diri mengungkapkan sebab mereka mengungsi karena kompleksitas krisis di negaranya. Sementara krisis bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Para pengungsi menghadapi masa depan isolasi di tengah gurun, sepenuhnya tergantung pada bantuan kemanusiaan dari luar.

Tanggal 27 Februari, John Ging, Direktur Operasi Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, mengatakan sekitar 200.000 anak Mali tidak mendapatkan pendidikan apapun. Amnesty International juga mengatakan pada 1 Februari bahwa pelanggaran hak asasi manusia yang serius, termasuk pembunuhan anak-anak sedang terjadi di Mali.

MSF bekerja di Mauritania sejak kedatangan para pengungsi pertama awal 2012, dan mereka sering memperingatkan konsekuensi yang mengkhawatirkan bagi kesehatan para pengungsi sebagai akibat kondisi hidup yang mengerikan di kamp Mbera.

Pada November 2012 MSF melakukan survei gizi kematian retrospektif yang mengungkapkan situasi gizi kritis, dengan tingkat kematian di atas ambang batas darurat untuk anak-anak di bawah dua tahun.

Situasi medis kian diperparah menyusul masuknya 15.000 pengungsi baru di akhir Januari 2013 seiring intervensi militer Perancis di Mali. Jumlah konsultasi di klinik MSF di kamp Mbera meningkat dari 1.500 menjadi 2.500 per minggu. Jumlah anak yang dirawat per minggu untuk gizi buruk lebih dua kali lipat. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply