7000 WARGA HEBRON KESULITAN AKSES KESEHATAN

 Hebron, 25 Jumadil Awal 1434/6 April 2013 (MINA) – Lebih dari 7000 warga Palestina yang tinggal di kota Hebron hidup di bawah kontrol ketat pemerintah Israel. Setiap aktivitas yang mereka lakukan harus sepengetahuan dan pemeriksaan dari tentara penjajah itu.

Kota Hebron dalam beberapa hari terakhir ini memanas menyusul kematian seorang warga Hebron di penjara Israel, Abu Hamdiyah.

Bulan Sabit Merah Palestina (Palestine Red Crescent Society/PRCS), sebagai lembaga kesehatan yang beroperasi di Hebron, harus melakukan negosiasi yang sangat sulit dengan pihak tentara Israel yang menjaga perbatasan. Aktifitas lembaga sosial kesehatan itu juga sangat tergantung dari ijin mereka.

Meskipun blokade ketat diberlakukan oleh pasukan penjajah Israel di wilayah H2 Hebron, pos pelayanan kesehatan darurat (Emergency Medical Service/EMC) PRCS telah mulai memberikan layanan kepada warga Palestina terutama di Wadi Al Ghrouss, sebuah lingkungan di mana blokade sengit diberlakukan Israel.

“Setelah dua tahun benegosiasi (sejak 2011) akhirnya PRCS diijinkan untuk membuka layanan kesehatan darurat dan di kota suci tiga agama tersebut,” ungkap PRCS dalam situs resminya seperti dipantau Mi’raj News Agency (MINA) di Jakarta.

Menurut Hijazi Abou Meyzer, Direktur pos EMS di Hebron mengatakan bahwa Hebron saat ini dibagi menjadi dua wilayah oleh penjajah Israel. Wilayah H1 dengan 7000 penduduknya di bawah kontrol pemerintah Palestina, sementara wilayah H2, meliputi Kota Tua dengan 40.000 penduduk, sepenuhnya di bawah kontrol penjajah Israel. Kedua wilayah tersebut terpisah oleh tembok tinggi dengan pos pemeriksaan yang sangat ketat.

Pasukan Israel melarang warga Palestina untuk keluar dan masuk area tanpa koordinasi terlebih dahulu. Hanya ambulan saja yang diperbolehkan melewati pos pemeriksaan itu setelah melalui proses pemeriksaan yang sangat ketat.

Menurut Radwan Al Ja’abari, Teknisi Medis EMS, mengungkapkan bahwa ambulan yang mengangkut pasien harus melewati pemeriksaan selama tiga jam. Sementara itu, para relawan EMS sering sekali mendapat ancaman dari para pemukim ilegal Yahudi yang tinggal di daerah pemeriksaan itu.

Ahmad Zaloum, yang tinggal di Hebron menegaskan bahwa warga Hebron sangat terbantu dengan adanya EMC untuk keperluan penanganan kesehatan meskipun harus melalui pos pemeriksaan penjajah Israel terlebih dahulu. (T/P04/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply