AKSI MOGOK MAKAN DI GUANTANAMO MENINGKAT

Kuba, 9 Jumadil Akhir/18 April 2013 (MINA) – Beberapa hari setelah bentrokan antara sipir dan tahanan penjara Guantanamo, militer AS mengatakan mogok makan di penjara terus meningkat dari 45 menjadi 52 orang.

Juru bicara Guantanamo, Kapten Robert Durand mengatakan jumlah tahanan yang melakukan aksi mogok makan meningkat hanya dalam satu hari.

Pengacara untuk tahanan Guantanamo mengatakan, pemogokan itu semakin luas daripada yang diketahui oleh militer.

Penyebab aksi mogok makan, seperti diberitakan mirajnews.com (2/4) antara lain karena bentuk protes atas penyitaan Al-Qur’an dan barang-barang pribadi tahanan oleh petugas penjara.

Aksi protes juga dilakukan karena penahanan mereka yang tanpa batas, tanpa peradilan dan tanpa alasan jelas, masih terus berlanjut.

RT News melaporkan, suasana di Guantanamo semakin tegang, karena aksi mogok makan oleh para tahanan terus berlanjut lebih dari seminggu. 

Komandan pusat penahanan mengatakan, kerusuhan beberapa waktu lalu terjadi ketika tentara antihuru-hara menyergap penjara lalu disambut perlawanan dari belasan tahanan.

Penjaga tahanan melakukan aksi penyergapan di Camp 6 karena para tahanan telah berulang kali memblokir 147 kamera keamanan dari 160 kamera yang ada. Hal ini menyulitkan para penjaga untuk memantau tahanan selama mogok makan.

Smith, seorang pejabat di Guantanamo mengatakan, para penjaga khawatir jika tahanan mungkin mencoba untuk bunuh diri. Sebab sebelumnya terungkap dua kasus percobaan bunuh diri sejak aksi mogok makan tercetus pada 6 Februari.

Sebelumnya, Komite Internasional Palang Merah (The International Committee of the Red Cross / ICRC) melakukan kunjungan ke Guantanamo. ICRC menegaskan bahwa pemaksaan makan terjadi di fasilitas penahanan Guantanamo. ICRC dan kelompok-kelompok seperti Dokter untuk Hak Asasi Manusia mengecam aksi tersebut.

Sementara Pentagon mengatakan bahwa hal itu tidak manusiawi membiarkan seorang narapidana mati karena kelaparan. Tahanan yang mogok makan diikat, sementara tabung dipaksa dimasukkan ke hidung mereka dan ke kerongkongan untuk memasukkan makanan.

Sebuah kesaksian dari seorang tahanan ditulis di Koran New York Times, menggambarkan, proses pemaksaan itu sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan.

“Ada rasa sakit di dada, tenggorokan dan perut,” tulis Samir Naji al Hasan Moqbel.

Menurutnya, ia belum pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya. Ia juga tidak inginkan hukuman yang kejam ini terjadi pada siapa pun.

Pengacara tahanan mengkritik penggunaan alat penyadap yang ditanam di sel untuk menyadap percakapan pribadi antara para tahanan dengan penasihat hukum militer mereka. (T/P05/R1).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply