BENCANA MELANDA TAHANAN PALESTINA

 Oleh Widi Kusnadi*

Kematian seorang tahanan bernama Maysara Abu Hamdiyeh pada Selasa, 2 April 2013, setelah melakukan aksi mogok makan menimbulkan kerusuhan di beberapa penjara Israel dan kota Hebron, Palestina.

Abu Hamdiyeh, salah seorang pemimpin faksi Fatah asal kota Hebron, meninggal di sebuah rumah sakit Israel ‘Soroka’. Ia diduga mengalami  gangguan radang tenggorokan dan setelah di periksa lebih lanjut, ternyata penyakit tersebut adalah sejenis kanker yang telah menyebar sampai ke tulang belakangnya.

Dia dibawa ke Rumah Sakit sejak akhir Maret 2013 lalu. Beberapa kalangan menyebutkan bahwa Abu Hamdiyeh hanya diberi obat penghilang rasa sakit saja oleh otoritas penjara Israel.  Keterlambatan dalam pemberian pengobatan medis menjadi alasan utama atas kematian Hamdiyeh.

Pihak Israel mengatakan bahwa kerusuhan terjadi sedikitnya di empat penjara akibat tersebarnya berita kematian Hamdiyeh tersebut.  Kerusuhan terjadi di penjara Ketziot, Eshel, Ramon dan Nafha. Para tahanan terlibat baku hantam dengan petugas penjara. Mereka juga menggedor –gedor pintu sel penjara. Sementara itu, di kota Hebron sendiri, dan kota-kota lain di Tepi Barat kerusuhan juga terjadi menyusul tersebarnya berita kematian Hamdiyeh tersebut.

Sementara itu Presiden Palestina Mahmud Abbas, dan Perdana Menteri Palestina Salam Fayyad mengecam Israel atas kelalaian tersebut. “Keterlambatan medis dari pihak Israel telah menyebabkan kematian Abu Hamdiyeh,” kata Abbas

Presiden Mahmoud Abbas juga mengatakan Israel harus bertanggung jawab atas kematian Abu Hamdiyeh itu.

“Kematian Maysarah Abu Hamdiyeh menunjukkan arogansi pemerintah Israel dan sikap keras mereka atas tahanan Palestina,” kata Abbas kepada para wartawan.

“Kami sudah berupaya keras untuk Hamdiyeh agar dia segera dibebaskan untuk mendapatkan pengobatan di rumah sakit Palestina. Tetapi pemerintah Israel menolak membebaskannya, hingga akhirnya  dia meninggal dunia,” kata sang presiden.

“Presiden Palestina menuntut pemerintahan Netanyahu bertanggung jawab atas kesyahidan tahanan Maysarah Abu Hamdiyeh,” tambah juru bicaranya presiden Palestina Nabil Abu Rudeineh.

Perdana Menteri Salam Fayyad juga mengungkapkan kesedihannya yang mendalam dan belasungkawa yang tulus atas kematian tahanan Maisara Abu Hamdiyeh. Hal itu merupakan pengabdian dan pengorbanan yang sangat besar kepada perjuangan rakyat Palestina.

Fayyad mengatakan Abu Hamdiyeh telah memainkan peran penting dalam perjuangan ini. “kontribusinya akan selalu dikenang dalam sejarah nasional kita dan perjuangan akan terus dilanjutkan untuk kebebasan dan kemerdekaan Palestina,” katanya.

Di kota Hebron, toko-toko akan tutup selama tiga hari untuk menghormati dan mengenang kematian Abu Hamdiyeh.

Fakta tahanan Palestina di penjara Israel

Sejak Israel memulai penjajahannya di tanah Palestina pada tahun 1967, lebih dari 750.000 warga Palestina telah ditahan. Jumlah itu mewakili sekitar 20 persen dari jumlah total penduduk Palestina saat ini di Wilayah Penjajahan. Jumlah itu juga mewakili sekitar 40 persen laki-laki yang ditahan dari total penduduk di wilayah-wilayah Palestina yang dijajah Israel.

Menurut Laporan Lembaga Hak Asasi Manusia dan Urusan Tahanan Palestina, Addameer, pada tahun ini jumlah total tahanan Palestina yang berada di penjara-penjara Israel sekitar 4812 orang. Mayoritas dari mereka yang ditangkap adalah penduduk Tepi Barat (82,5 persen); 9,6 persen berasal dari Jalur Gaza; dan sisanya berasal dari kota Al-Quds (Yerusalem) serta mereka yang tinggal di daerah Palestina yang dijajah tahun 1948 yang sekarang dikenal sebagai Israel.

Dari jumlah tersebut, termasuk 330 orang berada dalam “penahanan administratif” tanpa pengadilan dan 13 orang tahanan perempuan dimana tahanan perempuan yang paling lama di penjara Israel adalah Lina Al-Jarbouni dengan di penjara selama 11 tahun. Selain itu, ada 219 anak di bawah usia 18 tahun, 31 anak diantaranya berada di bawah usia 16 tahun, serta 28 anggota terpilih Dewan Legislatif Palestina, tiga mantan menteri dan sejumlah besar pejabat Palestina.

Tahanan Palestina tersebar di 17 penjara dan pusat penahanan Israel. Penjara Israel yang paling terkenal diantaranya adalah Al-Naqab, Ofer, Nafha, Gilbo’a, Shata, Ramon, Askalan, Hadarim, Eshel, Ohalei Kedar, HaSharon, Ramla dan Megido.

Aksi Mogok makan

Aksi mogok makan tahanan Palestina sudah dimulai sejak akhir Desember 2011 dan awal Januari 2012, saat tahanan politik Palestina mulai melakukan aksi mogok makan jangka panjang. Seorang tahanan Palestina Khader Adnan, menurut dugaan Israel sebagai pemimpin gerakan Jihad Palestina, memulai aksi mogok makan pertama saat dirinya ditangkap pada 17 Desember 2011 di bawah penahanan administratif. Beberapa tahanan juga melakukan mogok makan selama 20 hari. Melalui mediasi Mesir, kesepakatan tercapai antara pimpinan para tahanan dan pihak penjajah Israel.

Hana Shalabi mengikuti jejak Adnan melakukan aksi mogok makan di penjara Israel pada Februari 2012. Selanjutnya, lebih dari 1600 tahanan mulai melakukan aksi mogok makan massal pada 17 April 2012 bertepatan dengan Hari Tahanan di bawah slogan, ‘kita akan hidup dengan kehormatan’. Mereka menuntut mengakhiri penyiksaan dan kejahatan yang dilakukan penjajah Israel terhadap tahanan Palestina. Hingga kini, beberapa tahanan telah melewati 220 hari aksi mogok makan.

Pada akhir Februari 2013, ribuan tahanan Palestina melakukan mogok makan selama dua hari dalam aksi protes terhadap kematian seorang tahanan Palestina, Arafat jaradat, yang dibunuh Israel di ruang interogasi penjara Israel ‘Megido’.

Hingga kini, 10 tahanan masih melakukan aksi mogok makan, Samer Al-Issawi telah melakukan mogok makan selama lebih dari 220 hari. Ja’afar Ezzedine dan Tarik Qa’adan telah melakukan aksi mogok makan selama lebih dari 92 hari. Mona Qa’adan melakukan aksi mogok makan selama 6 hari dalam solidaritas untuk kakaknya Tarik serta Maher Younis. Tahanan Ayman Saqar, Omar Dar Ayoub, Sufyan Rabe’e, Hazem Al-Taweel dan Younis Al-Horoub juga mengikuti jejak tahanan mogok makan.

Sedangkan, Ayman Sharawna, seorang tahanan Palestina yang telah melakukan aksi mogok makan lebih dari 260 hari akhirnya dibebaskan dengan cara di deportasi paksa oleh penjajah Israel ke Jalur Gaza pada Ahad, 17 Maret 2013.

Mengapa mereka melakukan aksi mogok makan

1.      Praktek Sewenang-Wenang Penahanan Administratif

Penahanan administratif, penangkapan tanpa tuduhan atau pengadilan, telah dilakukan sebagai bentuk hukuman kolektif oleh militer Israel terhadap warga Palestina. Sebagai contoh, selama periode Maret 2002 hingga Oktober 2002, pasukan Israel menangkap lebih dari 15.000 warga Palestina dalam kampanye penangkapan massal, mengumpulkan laki-laki di berbagai wilayah Palestina antara usia 15 sampai 45 tahun. Pada Oktober 2002, lebih dari 1050 warga Palestina berada dalam penahanan administratif.

Penahanan administratif tanpa batas di bawah peraturan militer. Seorang tahanan dapat diberikan perintah penahanan administratif untuk jangka waktu antara satu hingga enam bulan, setelah itu perintah penahanan dapat diperpanjang lagi. Penahanan administratif didasarkan pada bukti rahasia yang dibawa ke depan pengadilan sementara tahanan atau pengacaranya tidak memiliki akses untuk melihat bukti rahasia itu. Tahanan administratif terlama dikenakan pada salah seorang tahanan Palestina dengan hidup dipenjara penjajah Israel selama lebih dari delapan tahun tanpa dikenakan pengadilan atas perbuatan yang dilakukannya.

2.      Sel Isolasi

Sel Isolasi merupakan salah satu metode paling disukai oleh otoritas penjara Israel untuk menghukum tahanan Palestina.

Tahanan yang berada di dalam sel isolasi benar-benar terputus dari dunia. Mereka ditahan di sel kosong tanpa kasur dan selimut. Selain pakaian yang dimiliki para tahanan, mereka tidak diperbolehkan untuk mengambil apapun ke dalam sel isolasi, termasuk bahan bacaan, televisi atau radio.

Biasanya, para tahanan yang tidak berada dalam sel isolasi diperbolehkan keluar selama satu jam setiap hari untuk menerima sinar matahari. Kebijakan itu tidak diberikan kepada tahanan di dalam sel isolasi. Para tahanan Palestina dibawa keluar sesuai dengan suasana hati sipir penjara dan hal itu juga dilakukan pada waktu tertentu. Kadang-kadang, mereka dibawa keluar pukul enam pagi, bahkan ketika hujan dan cuaca yang sangat dingin. Dan jika tahanan meminta untuk menunda istirahat, mereka kehilangan kesempatan dan tidak dibawa keluar sama sekali pada hari itu juga.

Tangan para tahanan dan kaki biasanya dibelenggu. Bahkan, borgol tahanan Palestina kadang-kadang dapat dilepas, namun dalam banyak kasus, mereka tetap diborgol dan kadang-kadang kaki terbelenggu selama tahanan sedang berjalan. Setiap perpindahan dari sel isolasi, termasuk dalam kunjungan pengacara, tangan dan kaki tahanan diborgol, serta disertai oleh seorang petugas penjara.

Sel Isolasi di penjara-penjara Israel berukuran 1,5  meter x  2 meter, hingga 3 meter x 3,5 meter. Setiap sel biasanya memiliki satu jendela berukuran sekitar 50 cm x 100 cm, yang dalam banyak kasus tidak memungkinkan masuknya cahaya atau udara yang cukup dari luar. Sel isolasi dirancang khusus sebagai tambahan sumber tekanan psikologis dan fisik bagi tahanan. Struktur dinding sel terbuat dari semen yang dicat dengan warna kusam ditambah cahaya redup, dan ujung dinding sering memiliki tekstur yang sangat kasar.

3.      Penyiksaan di Dalam Sel

Menurut Pusat Informasi HAM Palestina, B’Tselem, interogator Pelayanan Keamanan Umum Israel telah menggunakan metode penyiksaan selama bertahun-tahun sebagai sarana untuk meminta informasi kepada para tahanan. “Sejak tahun 1987, Pelayanan Keamanan Umum  Israel menginterogasi setidaknya lebih dari 850 warga Palestina dengan cara penyiksaan. Semua otoritas pemerintah dari tentara hingga Mahkamah Agung Israel menyetujui aktivitas penyiksaan, mengembangkan metode-metode baru penyiksaan.

Sekitar 85% dari seluruh tahanan Palestina mengalami penyiksaan sistematis oleh Israel selama penahanan mereka. Penggunaan penyiksaan dan tindakan kekerasan terhadap tahanan dalam sistem penahanan adalah praktek umum dari rezim penjajah itu. Penyiksaan di penjara-penjara penjajah Israel bertujuan untuk menekan dan mematahkan kehendak penduduk yang menolak tunduk kepada praktek penjajahan dan ketidakadilan.

Sejak tahun 1967, lebih dari 203 tahanan Palestina telah tewas saat disiksa di penjara-penjara Israel. Beberapa metode penyiksaan meliputi : memukul dan menendang para tahanan; pemborgolan tahanan untuk jangka waktu yang lama dalam posisi berkerut pada kursi kecil atau pipa yang tergantung di langit-langit penjara; memainkan musik dan suara teriakan yang sangat keras; mengurangi waktu tidur tahanan; ancaman atau tindakan nyata dari pelecehan seksual; ancaman dan tekanan Psikologis; Menempatkan kotoran dan karung berat pada kepala tahanan; dan penolakan perawatan medis bagi tahanan.

Menurut Konvensi Jenewa Pasal 32 secara khusus melarang “pembunuhan, penyiksaan, hukuman fisik, mutilasi, dan tindakan kebrutalan lainnya, apakah itu diterapkan oleh agen sipil atau militer”.

4.      Buruknya Pelayanan di Penjara Israel

Kehidupan di penjara-penjara Israel juga mencerminkan pelanggaran hokum internasional atas perlakuan tidak manusiawi terhadap tahanan. Penjara yang penuh sesak dan tidak memberikan perlindungan memadai terhadap cuaca ekstrim. Banyak ruangan sel di penjara Israel yang sengaja kotor terinfeksi dengan kehadiran tikus dan kecoak. Ruangan sel juga tidak memiliki cukup ruang ventilasi. Akses ke toilet dibatasi, memaksa tahanan untuk membuang air kecil dalam botol di dalam sel mereka.

Adapun untuk makanan, sebagai suatu peraturan, kualitasnya dibawah standar layak makan. Oleh karena itu, jika memungkinkan para tahanan sering bergantung pada pembelian dari kantin penjara. Ini menambah beban tambahan keuangan pada tahanan individu serta sanak keluarganya.

Tahanan yang ditahan di sel isolasi, bagaimanapun, menolak akses ke kantin dan tidak diperkenankan untuk menerima uang atau hadiah dari keluarga atau sumber lainnya. Mereka dipaksa untuk mengonsumsi apa yang Israel berikan dan mereka selalu menderita gizi buruk serta kekurangan darah. Makanan mereka tidak memadai baik dari segi kualitas dan kuantitas dengan kondisi makanan busuk dan adanya serangga atau cacing.

Konferensi Solidaritas Tahanan Palestina

Liga Arab menyatakan bahwa delegasi dari 70 negara Arab dan asing dan organisasi-organisasi regional dan internasional pada akhir 2012 lalu menyelenggarakan Konferensi Internasional untuk Solidaritas terhadap tahanan Palestina dan Arab di penjara-penjara Israel di Bagdab,  ibukota Irak.

Hal ini disampaikan oleh Muhammad Sobeih, Asisten Sekretaris Jenderal Liga Arab untuk Palestina yang terjajah, ia menyatakan bahwa konferensi ini akan dibuka oleh perdana menteri Irak, Nuri al-Maliki dan Perdana Menteri palestina, Dr. Salam Fayyad. dan Sekretaris jenderal Liga Arab, Dr. nabil al-Araby akan memberikan pidato pada sesi pembukaan disamping perwakilan dari Sekretaris jenderal PBB dan Sekretaris jenderal OKI.

Ia menyatakan bahwa pelaksanaan Konferensi merupakan keputusan KTT bertujuan menyoroti opini publik Internasional tentang kejahatan dan pelanggaran Israel terhadap hak-hak para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, ia juga menekankan bahwa pemerintah Irak siap mensukseskan Konferensi Internasioanal ini. Yang berbeda dari Konferensi ini adalah hadirnya beberapa tenaga ahli asing dalam urusan narapidana dan tahanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. (P04/P02)

*penulis adalah reporter di kantor berita Islam Mi’raj News Agency (MINA)

Mi’raj News Agency (MINA)

Sumber-sumber referensi

  • http://mirajnews.com
  • http://eramuslim.com/
  • MEMO, Middle East Monitor, 26 April 2012, Why Palestinian Prisoners Are On Hunger Strike.
  • Addameer : Prisoner Support and Human Rights Association, www.addameer.org.
  • B’Tselem: The Israeli Information Center for Human Rights in the Occupied Territories, www.btselem.org.

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply