BIKSU BUDDHA HASUT PEMBUNUHAN MUSLIM DI MYANMAR

Yangon, 27 Jumadil Awal 1434/8 April 2013 (MINA) – Selama empat hari, setidaknya 43 orang tewas di kota berdebu dari 100.000 orang, sejauh 80 km sebelah utara dari ibukota Naypyitaw. Kekerasan massa Biksu Budha telah menghasut pembunuhan Muslim di Myanmar. Seperti dilansir ABNA yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

Pertumpahan darah oleh kekerasan massa yang dipimpin Biksu Budha, setidaknya 14 desa di heartlands pusat Myanmar dan menempatkan minoritas Muslim di tepi salah satu negara Asia yang paling beragam etnisnya. Hampir 13.000 orang, sebagian besar umat Islam, diusir dari tempat tinggal mereka.

Biksu Budha mengancam seorang gadis muslim muda dengan menempelkan pisau ke lehernya. “Jika Anda mengikuti kami, aku akan membunuhnya,” kata biksu

Menurut saksi, massa Buddha bersenjatakan parang dan pedang mengejar hampir 100 Muslim di pusat Myanmar.

Kebencian etnis telah dilepaskan di Myanmar sejak 49 tahun kekuasaan militer berakhir pada Maret 2011. Dan itu menyebar mengancam transisi demokrasi sejarah negara itu. Tanda-tanda telah muncul dari pembersihan etnis, dan impunitas bagi mereka yang menghasut itu.

Pemeriksaan kerusuhan, berdasarkan laporan lebih dari 30 saksi, mengungkapkan pembantaian fajar 25 Muslim di Meikhtila dipimpin oleh biksu Budha sering dijadikan ikon demokrasi di Myanmar. Pembunuhan terjadi terlihat jelas dari polisi, tanpa intervensi oleh pemerintah daerah maupun pusat. Graffiti tertulis di salah satu dinding dan menyerukan “pemusnahan Muslim.”

Sementara kerusuhan yang terjadi di kota-kota lain, hanya berjarak beberapa jam dari ibukota komersial Yangon, terorganisir dengan baik. Bahkan setelah pembunuhan 21 Maret, menteri utama untuk wilayah tersebut tidak sedikit menghentikan kerusuhan yang berkecamuk.

Namun, pembantaian Meikhtila sesuai pola Buddha terorganisir kekerasan dan kelambanan pemerintah di barat Myanmar tahun lalu. Kali ini, pertumpahan darah melanda sebuah kota strategis di jantung negara itu, menimbulkan pertanyaan mengenai apakah reformis Presiden Thein Sein memiliki kontrol penuh atas pasukan keamanan Myanmar mengalami perubahan yang paling dramatis sejak kudeta tahun 1962.(T/P014/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply