MAJELIS FATWA PALESTINA SETUJUI INSEMINASI BUATAN BAGI ISTRI PARA TAHANAN

Yerusalem, 15 Jumadil Akhir 1434/25 April 2013 (MINA) – Majelis Fatwa Palestina menyetujui inseminasi buatan bagi para istri tahanan Palestina yang masih berada di Penjara Israel, Rabu (25/4).

Pusat Medis Razan merupakan klinik yang berada di Ramallah dan Nablus,  menawarkan pelayanan inseminasi buatan gratis untuk istri para tahanan politik yang berhasil menyelundupkan spermanya keluar penjara-penjara Israel.

Pada Februari 2013 lalu, klinik tersebut mengumumkan, empat istri para tahanan Palestina yang berhasil hamil dari hasil inseminasi buatan.

Direktur Jendral Pusat Medis Razan, Salim Abu Al-Khayzaran, menjelaskan proses inseminasi  buatan kepada dewan Fatwa yang mengeluarkan keputusan untuk menyetujui  proses itu pada hari Rabu (25/4), demikian laporan Ma’an News Agency yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Majelis Fatwa Palestina tersebut menetapkan lebih dari selusin kondisi untuk meyakinkan proses secara religius dapat diterima.

Majelis Fatwa Palestina memberikan ketetapan bagi yang boleh melakukan inseminasi buatan yakni pasangan tersebut harus menikah terlebih dahulu, agar kehamilannya dapat disepakati oleh kedua pasangan dan keluarga mereka mengetahui, serta beberapa kerabat lainya termasuk keluarga terdekat pasangan tersebut harus menjadi saksi inseminasi buatan serta prosesnya harus disampaikan kepada publik.

Majelis Fatwa Palestina juga memutuskan, inseminasi buatan harus menjadi satu-satunya opsi yang memungkinkan terjadinya kehamilan. Majelis Fatwa Palestina menambahkan, pasangan harus telah melakukan pernikahan, berkuasa keluar perkawinan dimasukkan ke dalam penjara, karena perkawinan yang dianggap tak selesai jika masih dalam proses pertunangan.

Inseminasi buatan tersebut harus menjadi anak pertama tahanan untuk memenuhi syarat sebagai keadaan darurat dan  tahanan yang harus menjalani hukuman panjang dimana akan menghambat kesuburan pasca dirinya dibebaskan.

Dewan Fatwa menetapkan, proses inseminasi buatan harus dilakukan di pusat medis yang berlisensi dan oleh dokter wanita jika mereka tersedia. Setiap sperma yang tersisa setelah dilakukan inseminasi buatan harus dihancurkan.

Pada Februari 2012, Pusat Medis Razan memberitahukan, empat kali kehamilan yang sukses dari inseminasi buatan itu sebagai prestasi besar walaupun diikuti banyak usaha yang gagal.

“Kami tidak melakukan intervensi dan bertanya bagaimana mereka menyelundupkan sperma para tahanan dari penjara Israel dan membawanya ke Nablus. Banyak usaha yang gagal dikarenakan sperma mati sehingga para tahanan harus terus mencoba sampai berhasil,” kata Salim Abu Khaizaran.

“Kami percaya bahwa hal ini adalah Hak Asasi Manusia (HAM) terutama ketika tahanan tersebut terpaksa menghabiskan sisa hidupnya di penjara dan kebutuhan biologis untuk seorang wanita sangat singkat jadi ada kemungkinan ketika suami  keluar dari penjara, istrinya tidak akan mampu mempunyai seorang anak.” (T/P012)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply