DI EMBARGO BARAT, EKSPOR NON-MIGAS IRAN NAIK

Teheran, 6 Jumadil Akhir 1434/16 April 2013 (MINA) – Direktur Utama Zona Ekonomi Khusus Teluk Persia (PGSEZ) Massoud Hendian mengumumkan, Senin (15/4) di Bandar Abbas, Iran, mengumumkan bahwa volume ekspor non-migas mengalami pertumbuhan walaupun mendapat embargo dan sanksi ekonomi dari Barat yang dipimpin Amerika.

“Ekspor non-migas dari PGSEZ meningkat 6 persen dalam hal berat dan sekitar 11,5 persen dari segi nilai di tahun lalu,” kata Hendian, Fars News Agency melaporkan yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

“Kami berhasil mengekspor total  3,173 juta ton produk  zona senilai $ 698,691 juta ke target pasar di periode tersebut,” tambah Hendian.

Setelah siklus produksi industri sepenuhnya ditempatkan di zona Teluk Persia, PGSEZ akan segera menjadi pusat ekspor non-migas Iran.

Ahad (14/4), Wakil Menteri Perindustrian, Pertambangan dan Perdagangan Iran Hamid Safdel mengumumkan bahwa nilai ekspor non-migas Iran dengan negara-negara dunia berbeda di tahun lalu yang ditutup 20 Maret 2013, melebihi $ 41 milyar  meskipun sanksi dan embargo diberlakukan oleh Barat terhadap Teheran.

“Nilai ekspor produk non-migas naik  $ 41,5 milyar tahun lalu,” kata Safdel yang juga Kepala Organisasi Promosi Perdagangan (TPO) Iran. Dia mencatat bahwa total nilai perdagangan luar negeri Iran mencapai $ 95 milyar selama 20 Maret 2012 – 20 Maret 2013.

Awal tahun ini, Ketua Komisi Ekspor Majelis Perdagangan, Industri, Pertambangan dan Pertanian Asadollah Asgaroladi mengatakan bahwa komisinya berencana untuk menyamakan volume ekspor non-migas negara itu dengan impor Iran pada tahun berikutnya (mulai 21 Maret ). “Jika kita mengimpor barang senilai $ 60 milyar untuk $ 65 milyar, negara harus memiliki jumlah yang sama dari ekspor,” kata Asgaroladi pada Februari lalu.

Iran bertahan dalam sanksi Amerika dan Eropa

Pemerintah negara-negara Eropa mengikuti langkah Amerika dan Uni Eropa, melarang perusahaannya mengadakan kontrak dengan Iran. Bukan hanya pelarangan bagi ekspor-impor minyak, Eropa juga melarang kerja sama perdagangan petrokimia, kertas, emas, logam mulia, berlian, dan koin, tulis situs Tempo.

Namun, negara-negara yang memutuskan perdagangan sedang mengalami krisis ekonomi. Italia menjadi negara di Eropa yang paling banyak mengimpor minyak Iran, disusul Yunani dan Spanyol. Arab Saudi diharapkan dapat menjadi pemasok utama, menggantikan posisi Iran. Namun Arab Saudi memiliki keterbatasan pasokan.

Sekitar 90 persen ekspor Iran ditujukan bagi negara-negara Uni Eropa. Tingginya impor minyak negara-negara tersebut menjadikan Iran sebagai pemasok terbesar di Eropa setelah Cina. Perdagangan minyak menghasilkan tiga perempat output pemasukan bagi ekonomi Iran.

Kini Iran sedang melakukan strategi untuk mengimbangi embargo yang dikenakan Uni Eropa. Iran kemungkinan akan mengekspor minyak ke Cina, India, dan sejumlah negara Asia. Cara itu akan sedikit meningkatkan perekonomian Iran, terlebih jika Iran melakukan potongan harga per barelnya.

Paul Stevens, peneliti senior dari London-Chatham House, mengatakan segala upaya yang dilakukan Eropa belum tentu mampu menghentikan penggunaan nuklir Iran. “Eropa mampu memberikan frustasi publik bagi perekonomian Iran, tapi ini justru bisa memperkuat kelompok yang berada di belakang (Presiden Iran Mahmud) Ahmadinejad,” katanya.

Stevens mengungkapkan Ahmadinejad juga melakukan berbagai upaya untuk menolong perekonomian Iran dengan tetap mengandalkan perdagangan minyak. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply