DOKTER YAHUDI KELUHKAN BANYAKNYA KELAHIRAN BAYI AFRIKA

Jakarta, 18 Jumadil Akhir 1434/28 April 2013 (MINA) – Seorang pejabat medis terkemuka Israel’ secara terang-terangan mengungkapkan sikap yang dianggap rasis terhadap bayi-bayi non-Yahudi yang baru dilahirkan di rumah sakit ‘Israel’.

Direktur Pusat Pengobatan Ichilov, Profesor Gaby Barabash mengatakan kepada Knesset (parlemen Israel),  banyaknya bayi Afrika yang dilahirkan di negeri itu sebagai ‘masalah’, berdasarkan laporan Sahabat Al Aqsha yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

“Saat ini di Tel Aviv, ada sekitar 80.000 penyusup dari Afrika yang merupakan 15% dari total penduduk kota. Tahun lalu, ada 700 bayi yang dilahirkan dari ibu-ibu yang berasal dari Eritrea (negara di bagian Timur Laut Afrika) dan Sudan. Dan saat ini rata-ratanya dua bayi lahir setiap harinya. Orang-orang ini tidak berusaha menahan pertumbuhan mereka dan dari tahun ke tahun jumlah bayi Eritrea terus bertambah,”  Harian Maariv melaporkan pernyataan dokter dalam bahasa Ibrani tersebut.

Menurut laporan Sahabat Al Aqsha, pernyataan Barabash itu  adalah pandangan yang umum terlihat di kalangan Zionis Yahudi di mana bayi-bayi non-Yahudi dipandang sebagai bayi yang tidak diharapkan dan dianggap sebagai ‘ancaman demografi’ bagi ‘negara Yahudi yang demokratis’. Barabash pun menganggap orang-orang kulit berwarna sebagai pembawa penyakit.

Barabash juga membacakan laporan tentang tingginya angka kematian janin dan penularan virus tuberkulosis, malaria dan AIDS di antara para ibu Afrika. Disebutkan bahwa sepertiga populasi Afrika di ‘israel’ didiagnosa menderita AIDS dan separuhnya terkena malaria. Semua pernyataan Barabash ini diungkapkan pada rapat dengar pendapat di parlemen ‘israel’ yang diselenggarakan anggota-anggota yang menginginkan pengusiran massal atas orang-orang Afrika.

Belum lama ini, kalangan wanita Etiopia mengungkapkan pejabat ‘israel’ memaksa mereka untuk menggunakan kontrasepsi jangka panjang. Ungkapan ini sejalan dengan hasil sebuah penyelidikan yang menemukan adanya penurunan tajam angka kelahiran pada wanita-wanita Etiopia di ‘israel’ dalam beberapa tahun belakangan ini.

Pernyataan   yang dianggap rasis itu juga pernah diungkapkan seorang peneliti senior pada Otoritas Pengembangan Persenjataan ‘israel’, Dr. Yitzhak Ravid dalam konferensi Herzliya tahun 2003. Ravid meminta pemerintah ‘israel’ untuk, “Menerapkan kebijakan keluarga berencana secara ketat dalam kaitannya dengan penduduk Muslim.”

Ravid juga menyebutkan, “Ruang bersalin di rumah sakit Soroka, Beer Sheva (sebuah wilayah yang banyak ditinggali masyarakat Palestina Badui) telah berubah menjadi sebuah pabrik yang memproduksi populasi-populasi terbelakang.” Penduduk Palestina Badui sudah lama menjadi target pengusiran zionis dan menjadi korban sikap rasis ‘israel’.(T/P03/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

Leave a Reply