MENTERI UNI EROPA : ISLAM DI EROPA ADALAH KENYATAAN

Brussels, 23 Jumadil Awal 1434/4 April 2013 (MINA) – Menteri Turki untuk Uni Eropa, Egemen Bagis mengatakan, Islam telah menjadi agama yang nyata di Eropa dan meminta agar orang-orang Eropa lebih memahami ajaran Islam yang damai.

Pernyataan itu dilontarkan untuk mengkritik permusuhan yang meningkat terhadap Muslim di benua Eropa.

“Ini adalah Islamofobia dan bukan Islam yang terlihat di Prancis dan seluruh Eropa,” kata Bagis seperti dikutip Hurriyet News Daily, Rabu (3/4). 

Ia menanggapi pernyataan politisi sayap kanan Prancis Marine Le Pen bahwa Islam lebih terlihat di Prancis daripada sebelumnya.

Le Pen juga menegaskan penolakan terhadap pencapaian mayoritas Muslim Turki kepada Uni Eropa. Namun, Bagis menolak pernyataan itu dengan mengatakan bahwa Islam telah menjadi kenyataan di Eropa.

“Kami tahu pernyataan Le Pen terhadap Turki dan nilai-nilai kami, namun kami tidak terlalu banyak peduli terhadap pernyataannya itu,” ujarnya.

Menurut laporan yang dikutip ONIslam, populasi Muslim diperkirakan mencapai delapan hingga sembilan persen dari populasi di negara-negara anggota Uni Eropa.

Politisi sayap kanan di seluruh Eropa telah mempercepat retorika mereka menentang minoritas Muslim di Eropa dalam beberapa tahun terakhir.

Di Prancis, partai Le Pen telah mempercepat retorika melawan imigrasi Muslim, penumpukan masalah di negara Eropa sebagai pekerjaan langka dan masalah perumahan Muslim. Pada tahun 2010, Le Pen membandingkan sholat di jalanan seperti penjajahan Nazi.

Di Jerman, sentimen terhadap Muslim telah meningkat melalui perdebatan sengit pada imigrasi Muslim yang masuk ke negara itu.

Di Belanda, anggota parlemen sayap kanan Belanda Geert Wilders telah menyerukan pelarangan jilbab Muslim di negeri itu dan menghentikan imigrasi dari negara-negara Muslim.

Di Swedia, Partai Demokrat sayap kanan Swedia telah mengumumkan rencana untuk memberlakukan penundaan pembangunan masjid baru di negara Skandinavia.

Islam Itu Damai

Bagis menyeru orang-orang Eropa untuk berusaha memahami ajaran Islam yang benar. “Hal Ini akan lebih menguntungkan jika mereka mencoba untuk memahami pesan Islam yang sesungguhnya: perdamaian, persaudaraan, dan simpati,” kata Bagis.

Bagis menegaskan, Krisis yang dihadapi Eropa adalah tanda bahwa mereka tidak berada pada jalur yang benar. Bagis juga mendesak Eropa untuk mempertahankan nilai-nilai mereka dan menghindari menggunakan isu masuknya Turki ke dalam Uni Eropa untuk mendapatkan suara.

“Le Pen tidak harus memiliki pemanfaatan. Sebaliknya ia harus berkomunikasi dengan publik Prancis. Mereka harus melihat bahwa bermain politik di atas Turki tidak bekerja lagi,” tegas Bagis.

Turki, yang mayoritas Muslim dengan posisi geografinya yang mengangkangi Eropa dan Asia, melakukan pendaftaran keanggotaan Uni Eropa pada tahun 1959 dan menjadi kandidat Uni Eropa pada tahun 1999.

Tapi setengah abad penantian Ankara untuk bergabung dengan 27 negara klub Eropa telah dilanda masalah sejak Turki menjadi kandidat resmi anggota Uni Eropa pada Oktober 2005.

Prancis dan Jerman memimpin oposisi terhadap keanggotaan Turki di Uni Eropa. Jika negosiasi berhasil, Turki akan menjadi negara Muslim besar pertama untuk bergabung dengan blok Eropa.

Turki telah berulang kali menimbulkan kecurigaan terhadap beberapa pemerintah Uni Eropa yang berusaha untuk menjaga pintu sebelum menjadi anggota Uni Eropa karena keraguan atas membiarkan sebuah negara yang didominasi Muslim bergabung dengan mereka mayoritas Kristen. (T/P012/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply