ERDOGAN TIDAK AKAN BATALKAN KUNJUNGAN GAZA

Istanbul, 6 Jumadil Akhir 1434/16 April 2013 (MINA) – Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan mengumumkan pada  Ahad (14/4) ia akan tetap pada rencana untuk melakukan perjalanan ke Gaza pada akhir Mei, sehari setelah dia bersikeras Turki tidak akan mengirim seorang duta besar ke Israel kecuali Israel mengangkat blokade di Gaza.

Untuk memulihkan hubungan normal dengan Turki setelah krisis tiga tahun, Israel meminta maaf kepada Turki pada 22 Maret untuk kesalahan operasional yang mungkin telah menyebabkan kematian pada kapal Mavi Marmara untuk bantuan Gaza pada Mei 2010.

Pada tanggal 22 Maret, Perdana Menteri  Israel Benjamin Netanyahu menawarkan permintaan maaf secara resmi dan berjanji memberikan kompensasi bagi keluarga korban dan mereka yang terluka selama serangan Israel di kapal Mavi Marmara melalui percakapan telepon dengan Erdogan dalam inisiatif perdamaian yang ditengahi oleh Presiden AS Barack Obama, yang sedang berkunjung ke Israel. Menurut Netanyahu, pencabutan blokade Gaza, bagaimanapun, adalah bukan bagian dari kesepakatan.

Sejak itu, Erdogan menegaskan bahwa pencabutan blokade adalah kondisi untuk menormalisasikan hubungan dan mengatakan ia akan mengunjungi Gaza untuk memantau status blokade. Kunjungan ini ditentang oleh Amerika Serikat (AS), Today’s Zaman melaporkan dan dipantau MINA.

Selama kunjungan ke Istanbul pada tanggal 7 Maret, Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengatakan Amerika menginginkan hubungan Turki-Israel untuk kembali normal secepat mungkin. Setelah pertemuan Kerry di Ankara, Erdogan mengatakan ia akan mengunjungi Gaza setelah melakukan perjalanan ke Washington untuk melakukan pembicaraan dengan Obama pada pertengahan Mei, dan mengubah rencana sebelumnya untuk mengunjungi Gaza pada bulan April.

Erdogan juga mengatakan Turki tidak akan mengirim seorang duta besar ke Israel sampai blokade Gaza dicabut, ketika menanggapi pertanyaan tentang apakah penunjukan duta besar sudah dekat.

Di Istanbul, Kerry mengatakan Turki memiliki peran penting dalam inisiatif untuk melanjutkan proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Para pengamat mengatakan kunjungan Erdoğan ke Gaza mungkin berubah menjadi perkembangan yang disambut baik jika menggunakan kunjungan Erdogan sebagai kesempatan untuk berbicara dengan Hamas tentang pembicaraan damai bersama Fatah.

Erdogan mengeluh bahwa Israel tidak benar-benar menepati janjinya dengan melanjutkan serangan terhadap Gaza dan menegaskan kembali ketidaksetujuannya terhadap kategorisasi Hamas sebagai kelompok teroris.

Erdogan mengatakan, “Apa yang diinginkan Israel. Kami telah mengatakan dari awal bahwa meja perundingan tanpa wakil dari Hamas atau Fatah tidak dapat menghasilkan perdamaian. Itu diluar pertanyaan bagi kita untuk mempertimbangkan Hamas sebagai organisasi teroris. Bagi kami, Hamas sama seperti Fatah.” Seperti yang diterbitkan di salah satu surat kabar pada hari Ahad (14/4).

Selain komplikasi yang berasal dari perjalanan Gaza Erdoğan dan blokade Gaza, normalisasi dengan Israel juga menghadapi keterlambatan dalam hal pembicaraan kompensasi antara Turki dan Israel. Seorang delegasi Israel diperkirakan akan mengunjungi Turki untuk bekerja di luar rencana kompensasi pada 12 April, tetapi perundingan ditunda sampai 22 April setelah korban mengatakan mereka tidak memiliki rencana untuk menjatuhkan kasus kriminal terhadap komandan Israel yang terlibat dalam serangan Mavi Marmara.

Erdogan mengatakan kedatangan delegasi Israel ditunda karena Deputi Perdana Menteri Bülent Arinc yang akan mengepalai delegasi Turki dalam pembicaraan, akan bergabung di tur Kyrgyzstan dan Mongolia terlebih dahulu. (T/P011/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply