GERAKAN ARAB AZAWAD KUASAI DESA DI TIMBUKTU MALI

Bamako, 12 Jumadil Akhir 1434/22 April 2013 ( MINA) –  Gerakan Arab Azawad (Arab Movement of Azawad/MAA) menguasai sebuah desa di gurun kota Timbuktu , Ahad (21/4), Mali, Modern Ghana melaporkan yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Juru bicara MAA Mohamed El Maouloud Ramadane mengatakan kepada wartawan salah satu kantor berita Perancis bahwa mereka telah mengambil alih Ber, sebuah pemukiman berpenduduk  sekitar 9.000 orang, 50 kilometer (30 mil) timur Timbuktu, dari sebuah kelompok bersenjata.

“Pada hari Ahad, kami mengontrol kota,” kata Ramadane. “Kami ingin bekerja dengan Perancis dan Afrika memerangi teror dan perdagangan narkoba.”

“MAA efektif mengendalikan kota sekarang. Mereka melancarkan serangan terhadap sebuah kelompok bersenjata lokal yang belum teridentifikasi,” kata pihak  militer di Timbuktu yang dikonfirmasi oleh sumber Modern Ghana.

Perancis melancarkan intervensi militer di negara bekas koloninya tersebut pada Januari untuk mencegah gerakan Islam Al-Qaeda yang telah menduduki kota-kota di gurun utara yang luas sejak April 2012.

Setelah merebut kembali bagian utara, serangan 14 minggu yang lalu tersebut memaksa para  pejuang mundur ke basis gurun dan melakukan kampanye gerilya.

Kekosongan yang ditinggalkan oleh para pejuang Islam, membuat gerakan perlawanan etnis Tuareg dari Gerakan Nasional Pembebasan Azawad (National Movement for the Liberation of Azawad/MNLA) berpeluang mendapatkan kembali pijakan di daerah.Termasuk kelompok-kelompok Arab seperti MAA yang juga mengintai klaim atas wilayah tersebut.

Sejumlah sumber mengatakan bahwa mereka melihat sedikitnya 200 etnis Tuareg bersenjata dari Gerakan Islam Azawad (Islamic Movement of Azawad/MIA), sebuah kelompok sempalan dari kelompok utama Islam Ansar Dine (Penolong Iman), berkumpul di dekat kota timur laut Kidal.

“Para pria bersenjata MIA mendekati Kidal. Setidaknya ada 200 orang. Mereka telah tiba di perkemahan sejak Jumat. Kita telah melihat ini,” kata seorang sumber militer Afrika di daerah.

“MIA melakukan unjuk kekuatan. Sekitar 200 gerilyawan bersenjata mendekati Kidal,” kata seorang penduduk di daerah itu menambahkan. Alghabass ag Intallah, pemimpin MIA, tidak membantah klaim tersebut. Namun mengatakan bahwa dia tidak ingin mengatakan terlalu banyak.

“Ya, pemuda MIA dan yang lain telah berkumpul. Kami ingin tahu apakah Bamako menginginkan perdamaian atau tidak,” katanya kepada wartawan kantor berita Perancis.

Kelompok Tuareg dari MNLA awalnya memimpin pengambilalihan Mali Utara tahun lalu dalam upaya untuk membagi daerah dari selatan, di mana pemerintah Bamako telah lama mengucilkan  komunitas mereka.

Berjuang bersama Ansar Dine dan didukung  Gerakan Tauhid dan Jihad (Movement for Unity and Jihad in West Africa/MUJAO) di Afrika Barat, MNLA kemudian tersingkir dari aliansi kelompok Islam.

MNLA kemudian keluar dan mendukung intervensi pimpinan Perancis, berharap langkah itu bisa membantu mendapatkan kembali kendali atas daerah utara. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply