GERAKAN PERLAWANAN SLA DEKATI IBUKOTA DARFUR SELATAN

Darfur, 29 Jumadil Awal 1434/10 April 2013 (MINA) – Gerakan perlawanan Tentara Pembebasan Sudan (SLA) faksi Minni Minnawi semakin mendekati ibukota Nyala, Darfur Selatan, Senin (8/4), setelah berhasil mengambil alih desa Ashma, 8 km dari ibukota, Al Jazeera melaporkan yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Selasa.

SLA telah pindah beberapa kilometer dari kota utama di kawasan tersebut yang dilanda kekacauan, media lokal melaporkan.

Uni Afrika – Misi Persaatuan Afrika di Darfur (UNAMID) menegaskan bahwa SLA faksi  Minni Minnawi  telah “menyerang dan merebut” dua kota selama akhir pekan.

Pertempuran itu terjadi saat protes berlanjut di wilayah tersebut terhadap konferensi donor dua hari di Doha, ibukota Qatar, yang berusaha mengumpulkan dana untuk membangun kembali Darfur.

“Ashma diduduki oleh pasukan kami,” kata Hussein Minnawi, dari SLA faksi Minni Minnawi.

Perkembangan terbaru dari konferensi donor bahwa Qatar menjanjikan  $ 3.6 milliar untuk mengembangkan Darfur.

Magdi Hassan, Menteri Keuangan dan Ekonomi Sudan, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pembicaraan akan mengatur momentum untuk  memperbaiki situasi di Darfur.

Tapi Minnawi mengatakan konferensi Doha bukanlah solusi bagi masalah Darfur.

“Ini adalah apa yang mereka katakan di atas kertas,” katanya dan menyebut itu bukan solusi dalam konteks apa yang disebut krisis Sudan yang luas, terutama dari pusat, Khartoum.

SLA dan gerakan perlawanan lainnya, bersama partai-partai oposisi Sudan, ingin negara federal yang demokratis, berdasarkan kesetaraan dengan pemisahan antara agama dan pemerintah.

Menkeu Hassan mengatakan mereka berdemonstrasi di kamp-kamp pengungsi di Darfur mencoba menyabotase sebuah inisiatif untuk mengembangkan wilayah tersebut.

“Konferensi ini juga menargetkan mereka yang tinggal di kamp-kamp pengungsi, penting untuk memberikan kembali kehidupan mereka. Inilah sebabnya mengapa kami berada di sini,” katanya.

Aktivis masyarakat sipil di Darfur mengatakan bahwa aksi protes yang menentang konferensi di Doha terjadi karena ketidakstabilan lanjutan di Darfur.

“Mereka mengatakan pada dasarnya orang-orang di Doha tidak mewakili kita,” kata seorang aktivis masyarakat sipil, yang menolak disebutkan namanya.

Tentang SLA

Jenderal Omar al-Tsim, dan Front Islam Nasional yang dipimpin  Hassan al-Turabi, menggulingkan pemerintah Sudan yang dipimpin Ahmed al-Mirghani tahun 1989. Sebagian besar penduduk di Darfur, khususnya etnis non-Arab menjadi semakin terpinggirkan. Ini perasaan yang mengkristal, terlebih ketika publikasi dari The Black Book tahun 2000, yang merinci ketidakadilan struktural di Sudan, yang menolak berbagi keadilan dan kekuasaan dengan etnis non-Arab.

Tahun 2002, Abdul Wahid al Nur (pengacara), Ahmad Abdel Shafi Bassey, (mahasiswa pendidikan), dan seorang pria ketiga mendirikan Front Pembebasan Darfur yang kemudian berkembang menjadi Gerakan/Tentara Pembebasan Sudan (SLM/SLA). Mereka mengaku mewakili semua kaum tertindas di Sudan.

Tahun 2006, SLA terpecah menjadi dua faksi utama, SLA Minnawi yang dipimpin oleh Minni Minnawi dan menandatangani Perjanjian Perdamaian Darfur pada Mei 2006. Minnawi menjabat sebagai Ketua Otoritas Transisi Daerah Darfur yang pembentukannya di tahun 2007. Kemudian dia dipecat pada Desember 2010. Faksi SLA Minnawi secara resmi menarik diri dari perjanjian perdamaian pada Februari 2011.

SLA al Nur yang dipimpin oleh al Nur. Ia telah menolak Perjanjian Perdamaian Darfur. PBB mengatakan 1,4 juta orang masih tinggal di kamp-kamp pengungsian internal, satu dekade setelah Minnawi dan gerakan perlawanan lain mulai  berjuang melawan rezim Khartoum yang didominasi etnis Arab. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply