INDONESIA–JERMAN DIALOG LINTAS AGAMA DAN BUDAYA

Jakarta, 29 Jumadil Awal 1434/10 April 2013 (MINA) – Indonesia dan Jerman dijadwalkan melaksanakan Dialog Lintas Agama dan Budaya (DLA) Ketiga bertema “Advancing Religious and Cultural Cooperation through Education”, 9-12 April di Manado, Sulawesi Utara.

Situs resmi Kementrian Luar Negeri RI melaporkan bahwa Indonesia membuka seluas-luasnya ruang dialog sebagai media untuk menciptakan harmoni di antara umat-umat beragama.

Duta Besar RI untuk Jerman, Eddy Pratomo, selaku ketua delegasi Indonesia meyakini bahwa pelaksanaan DLA antara Indonesia dan Jerman ini akan memperkuat hubungan antara masyarakat kedua negara.

“Indonesia secara aktif terlibat dalam forum internasional mempromosikan dialog lintas agama dan budaya di tataran bilateral, regional dan multilateral,” ujar Eddy. 

Dalam forum internasional, tahun 2014 Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan PBB bertajuk United Nations of Alliance of Civilization, yang merupakan konsekuensi logis atas keaktifan Indonesia tersebut.

Komitmen Indonesia ini didukung dengan kenyataan di tanah air dengan adanya peningkatan pertumbuhan jumlah tempat ibadah di Indonesia yang signifikan dan membuktikan kehidupan beragama yang semakin dinamis dari waktu ke waktu

Dalam sambutannya, delegasi Jerman dipimpin oleh Duta Besar Heinrich Kreft, Direktur Diplomasi Publik dan Dialog Antar Peradaban dari Kementerian Luar Negeri Jerman, menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggaraan DLA Indonesia-Jerman.

“Keberhasilan pelaksanaan DLA merupakan bukti kuat bahwa Indonesia dan Jerman berbagi kepentingan dan perhatian yang sama dalam isu dialog antar agama dan upaya menyebarkan toleransi dan perdamaian antar umat beragama,” katanya.

Gubernur Sulawesi Utara Sarundajang memberikan sambutan dan sekaligus membuka secara resmi DLA Indonesia-Jerman dengan menyampaikan sambutan hangat dari masyarakat Sulawesi Utara kepada seluruh delegasi di negeri sejuta senyum dan nyiur melambai tersebut.

Sarundajang memaparkan bahwa Provinsi Sulawesi Utara memiliki toleransi yang tinggi antar umat beragama yang hidup dalam keharmonisan. Walaupun berada di tengah-tengah daerah konflik Poso, Maluku dan Filipina Selatan, keyakinan bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah telah melekat di benak tiap-tiap masyarakat Sulawesi Utara.

“Ini diperkuat dengan motto Torang Samua Basudara, memberikan arti yang mendalam bagi pengembangan Sulut di berbagai sisi kehidupan, ” ujar gubernur.

Acara Dialog diisi oleh para pembicara antara lain Prof. Dr. Achmad Gunaryo (Kepala Pusat Kerukunan Agama, Kemenag RI) dan Dr. R.A.D. Siwu, PhD (Universitas Kristen Indonesia, Tomohon) dari Indonesia. Pembicara dari pihak Jerman adalah Duta Besar Dr. Heinrich Kreft (Direktur Diplomasi Publik dan Dialog Antar Peradaban) dan Prof. Harry Harun Behr (guru besar University of Erlangen-Nurnberg).

Dalam rangkaian kegiatan diadakan juga Public Lecture di Universitas Sam Ratulangi (11/4) oleh Ketua Delegasi Jerman, Dr. Heinrich Kreft dengan tema “Germany Experiences and Challenges in Religious and Cultural Harmony”.

Sebelumnya delegasi Jerman yang dipimpin Kreft telah melakukan kunjungan kehormatan kepada Wakil Menlu RI, Wardhana, di Kementerian Luar Negeri RI, Senin (8/4). (T/P09/R1).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply