INDONESIA – SUDAN TINGKATKAN KERJASAMA PERTANIAN DAN PETERNAKAN

Jakarta, 14 Jumadil Akhir 1434/23 April 2013 (MINA) – Indonesia dan Sudan sepakat meningkatkan kerjasama di bidang pertanian dan peternakan, melalui pembentukan Joint Technical Committee (JTC) yang ditandatangani oleh Menteri Pertanian (Mentan) RI dan Menteri Pertanian dan Irigasi Sudan di Khartoum.

Penandatanganan kesepakatan merupakan puncak kunjungan kerja Mentan RI Suswono ke Sudan selama dua hari sejak 21 April 2013.

“Kunjungan ini merupakan upaya peningkatan hubungan kedua negara, khususnya di bidang pertanian dan peternakan,” kata Suswono (22/04), seperti dikutip situs resmi Kemenlu RI yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Selasa (23/4).

“Pertemuan Ini juga merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan Presiden RI dengan Presiden Sudan di sela-sela pertemuan OKI di Kairo, Februari 2013 lalu,” tambahnya.

Peningkatan kerjasama ini juga didorong oleh fakta bahwa isu ketahanan pangan kini telah menjadi isu semua negara.

“Dengan adanya potensi besar yang dimiliki kedua negara, Sudan memiliki sumber daya alam yang melimpah sedangkan Indonesia memiliki teknologi, pengalaman dan kemampuan di bidang pertanian, maka perlu dibentuk sebuah kerjasama yang kongkrit untuk kemaslahatan kedua negara,” kata Muta’afi, Menteri Pertanian dan Irigasi Sudan.

“Pembentukan JTC ini hanyalah sebuah langkah awal yang kongkrit untuk menuju kerjasama yang lebih riil,” tegasnya.

Dubes RI untuk Sudan, Sujatmiko mengharapkan kesepakatan itu dapat memaksimalkan potensi pertanian Sudan, khususnya padi, kapas, dan gula. Sudan telah membuktikan dirinya dengan berhasil memproduksi beras basmati di daerah White Nile, dan jenis NERICA (New Rice for Africa) di Gezira, serta dalam beberapa waktu ke depan akan mengembangkan pertanian padi Sudan.

Dengan mengembangkan pertanian padi di Sudan, ada beberapa manfaat yang bisa didapatkan Indonesia, yang utama adalah jaminan ketersediaan beras untuk konsumsi Indonesia.

“Di samping itu, akan menjadi media untuk masuknya produk Indonesia ke Sudan, setidaknya pupuk, alat pertanian, dan tenaga kerja Indonesia yang terampil. Ini akan memberikan efek domino yang besar untuk ekonomi Indonesia,” kata Sujatmiko.

Sementara itu, tingginya kebutuhan industri tekstil Indonesia akan kapas tidak disokong kemampuan produksi domestik, sehingga harus mengimpor dari negara lain. Sudan pernah menjadi salah satu penghasil kapas utama dunia, yang kini tengah direvitalisasi. Perkembangan itu akan menjadi jawaban atas kebutuhan kapas Indonesia, jika dapat segera dimanfaatkan.

Mentan RI mengajak pengusaha Indonesia untuk melakukan investasi pertanian di Sudan khususnya di bidang penanaman padi, kapas, dan tebu. Pemerintah Sudan sudah memberikan peluang yang dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia.

“Kami mempunyai lahan yang cukup luas dan siap diberikan kepada investor Indonesia,” kata Al Muta’afi.

Al Muta’afi menambahkan, pemerintah Sudan dalam waktu dekat akan menyediakan lahan untuk penanaman padi, kapas, dan tebu seberapa pun yang dibutuhkan Indonesia.

Potensi lain yang dapat dikerjasamakan adalah industri gula, diharapkan akan menjadikan kedua negara swasembada gula dan tidak menutup kemungkinan menjadi pengekspor gula.

Lokasi geografis Sudan yang dekat dengan pasar ekspor di Timur Tengah dan Eropa menjadi keunggulan tersendiri apabila pengusaha Indonesia dapat serius mengembangkan industri pertanian di Sudan.

Satu hal yang tidak kalah penting yang menjadi salah satu isi kesepakatan tersebut adalah capacity building bidang pertanian dan peternakan. Kerjasama tersebut yang dapat segera direalisasikan, apakah dengan mengirim tenaga ahli ke Sudan atau mengadakan training for trainer pertanian dan peternakan di Indonesia.

“Sebenarnya, Indonesia telah beberapa kali memberikan pelatihan di bidang tersebut kepada Sudan, namun kini Indonesia akan berupaya menyelenggarakannya dalam bentuk yang lebih besar, sekaligus sebagai bentuk promosi Indonesia,” kata Suswono.

Oleh karena itu, proses saling tukar menukar informasi, pengalaman dan tenaga ahli akan terus ditingkatkan antara kedua negara. Sebagai bentuk untuk mendorong lebih jauh kerjasama pertanian dan peternakan.

Rencananya, Menteri Pertanian dan Irigasi serta Menteri Peternakan dan Perikanan Sudan akan melakukan kunjungan balasan ke Indonesia tahun ini. Sehingga diharapkan realisasi kerjasama akan semakin cepat terlaksana. (T/P09/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply