INDONESIA – YORDANIA SEPAKAT DIRIKAN BANK ISLAM

Sekjen Kemenag RI, Bahrul Hayat menjabat tangan utusan Kerajaan Yordania, Abdul Salam Al-Abadi setelah menyepakati pendirian Bank Islam Indonesia – Yordania di Jakarta, Kamis (25/4). (Foto: Kemenag).

Jakarta, 15 Jumadil Akhir 1434/25 April 2013 (MINA) – Sekjen Kementrian Agama (Kemenag) RI, Bahrul Hayat menyatakan Indonesia dan Yordania sepakat untuk mendirikan bank Islam dengan melibatkan investor dari kedua negara sebagai realisasi dari hasil konferensi tentang Islam, Peradaban, dan Perdamaian yang dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 23-24 April 2013 menurut rilis yang dikeluarkan Kemenag yang diterima Mi’raj News Agency (MINA), Kamis (25/4).

Rencana aksi dari implementasi konferensi tersebut sudah dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU) di Jakarta, kata Bahrul Hayat.

Pendirian bank yang akan dinamai Bank Islam Indonesia-Yordania tersebut dinilai sangat penting. Sebab, kedua negara merasa membutuhkan kehadiran sebuah bank berbasiskan syariah. Di Indonesia memang bank syariah tengah tumbuh dan maju pesat, tetapi dari sisi kecukupan modal dan persyaratan lainnya belum besar. Karena itu, jika ke depan bisa berdiri bank Islam bisa mendorong kemajuan umat secara ekonomi.

Dari sisi kesiapan, lanjut Bahrul Hayat, kalangan investor dari Yordania sudah siap. Mereka memiliki cukup modal, khususnya dari dana simpanan haji. Dari regulasi, Yordania dibenarkan memanfaatkan dana tersebut. Berbeda dengan Indonesia, dari sisi regulasi belum ada aturan dana haji untuk dijadikan modal perbankan.

Menyinggung dana haji Indonesia kemungkinan ke depan dimasukkan sebagai modal bagi bank Islam, hal itu juga tak ada aturannya. “Regulasi tiap negara kan berbeda-beda,” kata Bahrul Hayat menguatkan.

Tapi, lanjut dia, untuk meningkatkan kesejahteraan umat, Indonesia dan Yordania juga memiliki kesamaan pandangan bahwa dana wakaf harus didorong dan dioptimalkan. Karena itu, juga sebagai implementasi dari konferensi ini, kedua negara bersepakat mendirikan dana wakaf dunia.

Di tanah air memang tengah berkembang wakaf uang. Jika wakaf uang yang sudah tersosialisasi itu didorong untuk membantu modal pendirian badan wakaf dunia, menurut Bahrul, akan jauh lebih menguntungkan dan menggembirakan. “Upaya ini harus diseriusi,” ujar Bahrul Hayat.

Untuk itu, ia melanjutkan, semua upaya dari rencana ini akan terus dimonitor. Tiap tahapan akan dilakukan evaluasi, sejauh mana rencana aksi tersebut dapat dilakukan. “Pertemuan untuk melihat progres itu bisa dilakukan melalui pertemuan, apakah di Yordania atau di Jakarta,” ia menambahkan.

Bahrul Hayat menambahkan, sebagai tindak lanjut dari konferensi Islam yang berlangsung di Jakarta itu, juga sudah dilakukan nota kesepahaman antar perguruan tinggi, yang substansinya mencakup rencana pemberian beasiswa. Selain itu juga akan dilakukan kerja sama antar bank syariah guna mewujudkan bank wakaf sesuai dengan regulasi masing-masing negara. (T/P01/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply