IRAK LAKSANAKAN PEMILU PERTAMA SEJAK PENARIKAN MILITER AMERIKA

 Baghdad, 11 Jumadil Akhir 1434/21 April 2013 (MINA) – Irak melaksanakan pemilu untuk pertama kalinya sejak penarikan militer Amerika Serikat (AS) di tengah kekhawatiran timbulnya kekerasan, Sabtu (20/4), ABC News melaporkan seperti  dikutip Mi’raj News Agency (MINA).

Meskipun suara tertunda di beberapa bagian negara, tapi pemilih tampak bersemangat di tempat lainnya tanpa memiliki keraguan tentang kredibilitas suara.

Kandidat bersaing memperebutkan kursi di dewan provinsi yang telah berkuasa atas proyek-proyek pekerjaan umum dan keputusan lain pada tingkat lokal. Pemungutan suara merupakan barometer penting dari dukungan untuk berbagai blok politik Irak menuju pada pemilihan parlemen tahun 2014 mendatang.

Pemilihan berlangsung tanpa pertumpahan darah. Tindakan pengamanan dikerahkan besar-besaran untuk menggagalkan upaya sabotase yang mungkin akan mengganggu pemungutan suara.

Pihak keamanan Irak membuat pos-pos keamanan di sekitar tempat pemungutan suara, hanya kendaraan yang berwenang yang diizinkan berada di jalan-jalan kota besar. Pemilih mencelupkan telunjuk dalam tinta setelah mencoblos, memastikan setiap orang hanya sekali memilih.

Menjelang sore, Perwakilan Khusus PBB untuk Irak, Martin Kobler, mengatakan pemungutan suara berjalan lancar. Dia mendesak warga Irak untuk hadir ke tempat pemungutan suara.

“Kredibilitas pemilu tergantung juga pada jumlah pemilih,” kata Kobler.

Di antara mereka yang memilih adalah Oday Mohammed, seorang pengusaha yang membawa ibunya, istri, dan anak-anaknya untuk memilih kandidat Perdana Menteri Nouri al-Maliki. Ia mengatakan, dirinya yakin calon maupun pemilih tumbuh lebih berpengalaman dengan proses demokrasi setelah penggulingan rejim Saddam Hussein pada 2003.

“Tidak semua politisi korup. Ada beberapa orang yang baik,” katanya dalam pemungutan suara distrik utama Syiah Kazimiyah.

Pemungutan suara diadakan saat meningkatnya ketegangan antara minoritas Arab Sunni dan mayoritas Syiah yang telah mendominasi politik sejak invasi pimpinan AS satu dekade lalu.

“Saya tidak memiliki harapan bahwa situasi akan membaik, tapi saya harus ambil bagian karena ulama kami meminta kami, sehingga kami tidak rugi seperti di masa lalu,” kata Anwar al-Obaidi (60), seorang tukang cukur Sunni di Baghdad.

Banyak warga Irak frustrasi dengan tidak adanya kemajuan meskipun pemilu regional dan nasional sebelumnya diadakan di bawah lindungan dan bantuan dari AS. Sebagian warga mengatakan mereka melihat tidak ada gunanya memberikan suara.

“Semua politisi dan pejabat provinsi, baik Sunni maupun Syiah, tidak lain hanyalah pencuri dan pembohong,” kata Ali Farhan, seorang sopir taksi (35) di Baghdad timur, dalam menjelaskan pilihannya untuk tidak memilih.

Gerilyawan meningkatkan serangan menjelang pemungutan suara. Gelombang serangan bom mobil dan serangan lainnya, Senin (15/4), menewaskan sedikitnya 55 orang dan melukai lebih dari 200 orang. Pemboman lainnya di sebuah kafe, Kamis (18/4), menewaskan 32 orang. Dan setidaknya ada 14 kandidat dibunuh dalam beberapa pekan terakhir.

Beberapa calon pemilih di kawasan Baghdad, terutama Sunni Azamiyah, tidak menemukan namanya pada daftar suara di beberapa tempat pemungutan suara, sehingga mereka pulang tanpa mencoblos.

“Saya kecewa. Kami kehilangan kesempatan untuk membuat perubahan,” kata pengacara Raed Najm setelah gagal menemukan namanya di empat TPS terpisah. (T/P09/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply