ISRAEL KERUK KEUNTUNGAN DI BALIK BLOKADE GAZA

Betapa menyedihkan warga Gaza. Ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga. Blokade yang dilakukan Israel benar-benar menyulitkan Muslim Gaza. Bayangkan, untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja, Muslim Gaza tetap harus membeli produk-produk made in Israel. Bahkan, menurut Nur Ikhwan yang tergabung sebagai relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza mengatakan bahwa rakyat Gaza menjadikan makanan dan minuman dari Israel sebagai makanan minuman favorit. “Bagi orang Gaza, Coca cola, Pepsi dan minuman sejenisnya menjadi hal favorit. Dalam setiap pertemuan hampir dipastikan minuman tadi selalu ada,” kata Nur Ikhwan.

Masih menurut Nur Ikhwan, warga Gaza merasa kesulitan untuk menghindari produk-produk Israel. Biasanya mereka mengandalkan terowongan-terowongan yang dibuat untuk membeli kebutuhan sehari-harinya ke Mesir. Tapi karena mahalnya biaya yang dipasang untuk setiap terowongan, maka tidak setiap warga Gaza bisa membeli kebutuhan sehari-harinya melalui terowongan itu. Pilihan termudahnya adalah membeli produk-produk buatan Israel.

Israel bukan hanya membantai warga Gaza. Tapi, penjajah Zionis itu ‘memaksa’ seluruh Muslim Gaza untuk membeli produk-produknya. Bagaimana tidak, Israellah yang menguasai perbatasan Karem Abu Salim (Kareem Abu Salim crossing border), Rafah. Diperbatasan inilah Israel mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari warga Gaza dengan cara menguasai perbatasan Karem Abu Salim sebagai tempat pusat perbelanjaan termasuk kebutuhan pokok warga Gaza.

Anda bisa bayangkan, dalam sehari ada sekitar 300-400 kontainer yang membawa berbagai kebutuhan warga Gaza. Kontainer-kontainer sebanyak itu dari Israel. Setiap melalui perbatasan itu, pihak Palestina yang menjual barang-barangnya Gaza harus membayar pajak kepada Israel. Sebaliknya, jika warga Israel sendiri yang melakukan tidak dipungut biaya.

Dari sinilah keuntungan Israel. Bayangkan jika setiap hari Israel mendapatkan keuntungan $ 1 dolar per hari per orang, maka dengan jumlah penduduk Gaza yang 1,5 juta orang itu, maka Israel mendapat keuntungan 1,5 juta USD per hari. Keuntungan itulah yang dipakai Israel untuk membantai warga Gaza sendiri.

Biasanya, kebutuhan warga Gaza bisa dipenuh melalui tiga pintu perbatasan di antaranya; Bayt Hanoun (Erez) pintu sebelah Utara Gaza, pintu Gaza Tengah dan pintu Karem Abu Salim, Rafah sendiri sebelah Selatan Gaza. Dari ketiga pintu itu, pintu Gaza Tengah sudah ditutup oleh Israel.

Dulu, saat Mesir masih dipimpin Presiden Mubarak, pintu Rafah dibuka 6 hari tiap pekannya, kecuali hari Jum’at libur. Untuk hari Sabtu biasanya dibuka tengah hari saja. Bila warga Gaza mendaftar hari ini untuk keluar melalui pintu Rafah menuju Mesir, maka baru bisa keluar tiga bulan kemudian karena daftar tunggunya terlampau banyak. Setiap hari dibatasi hanya 300 orang. Kadang, ada beberapa orang terpaksa tidak diizinkan karena masuk datfar hitam (blacklist) karena dicurigai dapat mengakibatkan keburukan bagi Mesir bila orang tersebut keluar Gaza.

Di era Presiden Mursi, perbatasan Rafah menjadi lebih ramah. Tujuh hari dalam sepekan buka, hari Jumat pun buka. Saat ini, Gaza sedang berbenah. Berbagai bantuan datang, termasuk dari Qatar sebesar 2,5 Trilyun rupiah. Jalan-jalan tersier mulai dibangun, gedung-gedung untuk warga miskin pun mulai dibangun. Tidak hanya itu, dari Turki pun tak ketinggalan mengirimkan bantuan untuk Gaza termasuk Indonesia dan Malaysia.

Ketergantungan warga Gaza terhadap bantuan dari luar negeri sangat besar. Untuk ekspor, Gaza hanya bisa mengirimkan strawberry ke Eropa melalui Pintu Bayt Hanoun (Erez). Di Utara Gaza, terdapat perkebunan strawberry dengan kualitas terbaik. Sementara, untuk pemberdayaan buah zaitun yang juga punya kualitas terbaik masih dikonsumsi internal Gaza saja, belum ada yang diekspor.

Menurut Ikhwan, sebenarnya ada cara yang lebih mudah untuk menekan ketergantungan warga Gaza terhadap produk-produk Israel. “Mestinya, para pengusaha Muslim dari berbgai negara bisa bergerak dalam proyek sebagai penyuplai kebutuhan bahan pokok rakyat Gaza,” terangnya. Dia menambahkan, selain sudah membantu sesama Muslim dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya, tak kalah merupakan bentuk nyata dari boikot terhadap produk-produk Israel. “Saya yakin jika para pengusaha Muslim dari berbagai negara bersatu menjual produk-produknya untuk warga Gaza tentu ini akan menggeser produk-produk Israel,” tegasnya.

Saat ini direncanakan Perdana Menteri Palestina di Gaza, Ismail Haniyah mengajukan proposal akan bertemu dengan Mursi membuka Rafah secara sempurna sebagai perlintasan perdagangan. Dipersiapkan 1000 hektar untuk pasar;  200 hektar dari Gaza,  800 hektar dari Mesir.

Proyek tersebut bisa terealisasi jika muslimin sudah satu komando di Gaza. Saat ini, Coca-cola, Pepsi, dan berbagai Produk Israel lainnya menjadi minuman favorit warga Gaza. Ironis memang, ketika Muslimin di luar negeri berteriak memboikot produk-produk Israel, termasuk sebagian warga Turki, Indonesia, Malaysia dan negeri lainnya memboikot produksi Israel, tetapi produksi Israel malah didambakan oleh warga Gaza. Di Gaza, produk Israel paling diminati.

Warga Gaza seolah sudah terkondisikan oleh penjajah Israel. Karena itu, mereka terpaksa harus menerima produk-produk Israel. Dari sini semakin jelas betapa pentingnya peran para pengusaha Muslim berbagai negara untuk menjual produk-produknya bagi warga Gaza. “Produk para pengusaha Muslim tentu akan menambah kuat ukhuwah antara sesama Muslim di Gaza luar Gaza,” papar Ikhwan.

Bisa jadi, perdagangan yang dilakukan para pengusaha Muslim itu menjadi langkah awal untuk membebaskan blokade Gaza, pembebasan Palestina dan Masjid Al Gaza. Pengusaha-pengusaha Muslim bisa berbisnis di Gaza. Dari pada keuntungan jatuh kepada Israel di mana keuntungan itu justeru digunakan untuk menyerang Muslim Gaza, lebih baik usaha itu diberikan kepada pengusaha-pengusaha Muslim.(L/P06/P012/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply