ISRAEL PANGKAS PERTUMBUHAN PENDUDUK PALESTINA DENGAN BUNUH ANAK-ANAK

Ramallah, 24 Jumadil Awwal 1434/5 April 2013 (MINA) – Dalam rangka memperingati hari anak Palestina, pada setiap 5 April, Biro Pusat Statistik Palestina (Palestinian Central Bureau of Statistics/PCBS) pada Kamis (4/4) mengatakan bahwa saat ini jumlah statistik anak-anak di bawah usia 18 tahun berjumlah 2,04 juta dari total 4.290.000 penduduk Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Data ini berdasarkan hasil sensus penduduk terakhir PCBS di kedua tempat tersebut berkaitan dengan akan diadakannya pemilu Palestina dalam beberapa bulan kedepan. Pendataan tersebut mulai dilakukan sejak pertengahan 2012 lalu.

“Persentase anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun saat ini sekitar 47,6% dari total jumlah penduduk Palestina, “ katanya dalam sebuah pernyataan resmi seperti dipantau Mi’raj News Agency (MINA) di Jakarta, Jum’at (5/4).

Dari data statistik tersebut, rata-rata wanita Palestina menikah di usia 20 tahun. Sedangkan laki-lakinya menikah di usia 24 tahun. Mereka rata-rata memiliki anak pada tahun pertama pernikahannya. Data lain juga menyebutkan tingakat kesuburan wanita Palestina cukup tinggi dan angka kematian bayi sangat rendah.

Pada setiap agresi militer Israel ke Palestina sejak 1948, mereka selalu menargetkan anak-anak sebagai sasaran utama. Israel memang ingin memangkas petumbuhan penduduk Palestina dengan membunuh anak-anaknya.

Anak-anak di Palestina terkenal dengan kecerdasan mereka. Rata-rata anak Palestina sudah menghafal 30 juz Al Qur’an pada usia muda. Di Gaza sendiri, setiap tahunnya pemerintah mewisuda ribuan anak-anak penghafal Al Qur’an. Pada tahun 2009 saja, Ismail Haniya mewisuda lebih dari 3500 anak-anak penghafal Al Qur’an. Jumlah tersebut selalu bertambah setiap tahunnya.

Pada agresi militer Israel 27 Desember 2008 silam, Israel memfokuskan pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza. Seperti yang kita ketahui, setelah melewati tiga minggu serangan bernama operasi ‘Cast Lead’, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1500 orang dan hampir setengah darinya adalah anak-anak.

Kondisi palestina yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus menerus berinteraksi dengan al-Qur’an. Bagi anak-anak Palestina, tidak ada main PlayStation atau game. Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia.

Perhatian pemerintah Palestina untuk anak-anak memang cukup besar, terutama dalam urusan belajar ilmu agama. Setiap tahunnya pemerintah Palestina menggelar acara lomba menghafal Al Qur’an untuk merangsang anak-anak menjadi pengafal Al Qur’an. (T/P04/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

Leave a Reply