ISSAWI HENTIKAN AKSI MOGOK MAKAN SETELAH TANDATANGANI KESEPAKATAN

Ramallah, 14 Jumadil Akhir 1434/24 April 2013 (MINA) – Seorang tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan terpanjang dalam sejarah, Samer Issawi menandatangani perjanjian dengan Israel mengenai penjaminan pembebasannya.

“Perjanjian ini mengakhiri aksi protes mogok makan jangka panjang Issawi,” kata pengacaranya Jawad Bolous, Selasa (23/4).

Kesepakatan itu berisi pembebasan Issawi ke kampung halamannya di kota Al-Quds (Yerusalem) setelah menjalani delapan bulan penjara dengan 266 hari menolak makanan sebagai aksi protes terhadap penangkapan ulangnya yang  tak beralasan oleh pasukan Israel.

“Perjanjian ini ditandatangani di Kaplan Medical Center, Israel di mana Issawi saat ini ditahan. Paman bersama saudaranya hadir pada saat penandatanganan,” kata Bolous seperti dilaporkan Ma’an News yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA), Rabu (24/4).

Para pejabat Israel dilaporkan setuju untuk memenuhi kesepakatan setelah Issawi mengatakan, Senin (22/4), ia akan memboikot sidang pengadilan mendatang dan menolak untuk mengakui legitimasi pengadilan Israel.

Hani Issawi, paman tahanan, mengatakan, perjanjian tersebut ditulis di pengadilan militer Israel ‘Ofer’. “Samer Issawi merasa meraih kemenangan berkat kepatuhan kepada prinsip-prinsip yang diyakininya,” kata Hani Issawi.

“Sebagian kemenangan Issawi disebabkan karena penolakannya terhadap upaya Israel untuk mendeportasinya dan ia mencapai tujuan dasar Palestina dengan menolak pengasingan dan kepatuhan terhadap hak kembali,” tambahnya.

Sementara itu, menurut kantor berita berbasis di Gaza Al Ray, Kakak Samer Issawi, Shireen mengunjunginya pada Senin malam dan mengatakan, Issawi mengirimkan salam kepada semua orang yang melakukan aksi solidaritas bagi dirinya.

“Setelah perjanjian ditandatangani, selanjutnya akan diumumkan pada Selasa ini saat konferensi pers,” kata Shireen.

“Pemerintah Israel telah mengangkat beberapa usulan untuk mencoba mengakhiri aksi mogok makan Issawi, termasuk mendeportasinya ke Gaza selama 10 tahun, menjatuhkan lima tahun di penjara Israel dan mendeportasinya ke Eropa,” kata kepala Komunitas Tahanan Palestina, Qadura Fares.

Issawi menolak semua penawaran sebelumnya oleh Israel untuk mendeportasinya ke Eropa atau Gaza dan bersikeras agar dibebaskan di tanah kelahirannya, kota Al-Quds. Dia menjadi simbol perlawanan bagi rakyat Palestina yang telah secara teratur turun ke jalan untuk menunjukkan dukungan atas tindakan protes dan menuntut pembebasannya.

Issawi, 33, pertama kali ditangkap pada tahun 2002 dan dijatuhi hukuman 26 tahun untuk kegiatan militer atas nama Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine/DFLP).

Pada Oktober 2011, Issawi diberikan amnesti pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas. namun kembali ditahan pada 7 Juli 2012 dan dituduh melanggar persyaratan pembebasannya dengan meninggalkan kota Al-Quds Timur dan memasuki wilayah Tepi Barat.

Untuk menuntut pembebasannya Issawi telah melakukan aksi mogok makan sejak 1 Agustus 2012. Mogok makan Issawi juga telah menjadi simbol perlawanan bagi rakyat Palestina dengan menggalang dukungan populer bagi para tahanan di penjara-penjara Israel.

Rencananya, Issawi akan dibebaskan dari tahanan Israel pada 23 Desember 2013 mendatang. (T/P06/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply