JIHAD SEORANG WANITA

 Oleh: Meilina Fitrianti*

Siapakah wanita? Bagaimana kedudukan wanita? Apa hak dan kewajiban wanita? Dan bagaimana pula jihad seorang wanita? Begitu banyak pertanyaan yang tercipta dari seorang wanita, mulai dari jati dirinya, perannya, hak serta kewajibannya hingga derajatnya. Semua adalah pertanyaan yang ditimbulkan dari keberadaan seorang wanita ditengah-tengah kehidupan manusia.

Begitu pentingnya arti seorang wanita hingga menarik sekali untuk dibahas, menjadi tema dalam sebuah kajian keislaman, maupun kajian-kajian lainnya mengenai peran para wanita saat ini.

Kedudukan Seorang Wanita

Seiring berjalannya waktu yang semakin kompleks dengan fenomena transisi gender besar-besaran  merubah pola pikir para wanita saat ini. Menjadikan mereka sering kali lupa akan fitrahnya sebagai seorang wanita, menuntut keadilan disana-sini yang padahal keadilan tersebut telah Allah tetapkan pada mereka. Sesungguhnya Islam telah menetapkan apa-apa yang seimbang antara kaum laki-laki dan wanita. Seperti yang Allah jelaskan dalam sebuah firmanNya:

مَنْعَمِلَصَالِحًامِنْذَكَرٍأَوْأُنْثَىوَهُوَمُؤْمِنٌفَلَنُحْيِيَنَّهُحَيَاةًطَيِّبَةًوَلَنَجْــزِيَنَّــهُمْأَجْرَهُمْبِأَحْـسَنِمَاكَانُوايَعْــمَلُــونَ

“Siapa yang mengerjakan amalan shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan pula kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An Nahl: 97).

Namun, datangnya ayat ini yang menjelaskan kedudukan laki-laki serta wanita adalah amalan shalih masih belum cukup membuat para wanita puas dengan kedudukan mereka di tengah-tengah masyarakat. Entah apa yang dicari sehingga para wanita masih saja seringkali menuntut keadilan dan kesetaraan gender. Allah menerangkan masalah kepemimpinan dalam sebuah ayat yang berbunyi:

الرِّجَالُقَوَّامُونَعَلَىالنِّسَاءِبِمَافَضَّلَاللَّهُبَعْضَهُمْعَلَىبَعْضٍوَبِمَاأَنْفَقُوامِنْأَمْوَالِهِمْفَالصَّالِحَاتُقَانِتَاتٌحَافِظَاتٌلِلْغَيْبِبِمَا

حَفِظَاللَّهُوَاللَّاتِيتَخَافُونَنُشُوزَهُنَّفَعِظُوهُنَّوَاهْجُرُوهُنَّفِيالْمَضَاجِعِوَاضْرِبُوهُنَّفَإِنْأَطَعْنَكُمْفَلَاتَبْغُواعَلَيْهِنَّسَبِيلًاإِنَّاللَّهَكَانَعَلِيًّاكَبِيرًا

 “Laki-laki itu adalah qawwam pemimpin atas perempuan dengan sebab apa yang telah Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dan dengan sebab apa-apa yang mereka infakkan dari harta-harta mereka. Maka wanita-wanita yang shalihah adalah  yang qanitah (ahli ibadah), yang menjaga (kehormatannya) tatkala suami tidak ada dengan sebab Allah telah menjaganya. Ada pun wanita-wanita yang kalian khawatirkan akan ketidaktaatannya maka nasihatilah mereka, dan tinggalkanlah di tempat-tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Akan tetapi jika mereka sudah mentaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan (untuk menyakiti) mereka, sesungguhnya Allah itu Maha Tinggi Maha Besar.” (Qs. An Nisa: 34).

Pada ayat di atas diterangkan bahwa laki-laki adalah qawwam atau pemimpin yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, Itulah kepemimpinan dalam kehidupan dalam rumah tangga. Maka makna firman Allah yang didahului dengan penegasan atas kesetaraan hak dan kewajiban. Itulah keagungan ayat yang didahului dengan pernyataan gamblang akan hak perempuan.

Jadi jelas dimana kedudukan seorang wanita bukan? Laki-laki dan wanita adalah sama derajatnya di sisi Allah Swt, dan janganlah saling mencemburui atau iri karena segalanya telah ditetapkan dengan seimbang. Seperti yang tercantum dalam firman Nya:

وَلَاتَتَمَنَّوْامَافَضَّلَاللَّهُبِهِبَعْضَكُمْعَلَىبَعْضٍلِلرِّجَالِنَصِيبٌمِمَّااكْتَسَبُواوَلِلنِّسَاءِنَصِيبٌمِمَّااكْتَسَبْنَوَاسْأَلُوااللَّهَمِنْفَضْلِهِإِنَّاللَّهَكَانَبِكُلِّشَيْءٍعَلِيمً

“Dan janganlah kalian mengangan-angankan apa yang Allah lebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki terdapat bahagian dari apa-apa yang mereka usahakan. Dan bagi para wanita pun terdapat bagian dari apa yang mereka usahakan” (Qs. An Nisa 32).

Demikianlah, ada hak-hak individu yang masing-masingnya tak saling melampaui.

Jihad Seorang Wanita

Definisi jihad menurut syara’ ialah seorang Muslim menyerahkan tenaganya untuk mempertahan dan menyebarkan Islam bagi mencapai keridhaaan Allah. Dari sini nanti akan terbentuk sebuah masyarakat Islam dan seterusnya akan terbina negara Islam yang sihat. Jihad mesti berkelanjutan hingga ke hari kiamat. Martabat jihad yang paling rendah ialah jihad di dalam hati dan yang paling tinggi ialah berperang di atas jalan Allah.

Jihad bagi wanita yang belum  menikah  maupun yang sudah menikah adalah sama saja, selama itu dilakukan semata-mata hanya karena Allah. Mempertahankan kesucian selama berada diluar rumah, entah itu ke kantor atau pun di tempat-tempat yang memungkinkan seorang wanita berinteraksi dengan lawan jenis, tentunya membutuhkan sebuah semangat dan keteguhan hati yang tinggi untuk tetap istiqomah, selalu menjaga  diri dari hal-hal yang bisa meruntuhkan iman.

Sudut-Sudut Jihad Bagi Wanita

Rumah, Sebagai Ladang Beribadah. Tinggalnya ia di dalam rumah merupakan alternatif terbaik karena memang itu perintah dari Allah subhanahu wata’ala dan dapat beribadah dengan tenang. Allah subhanahu wata’ala berfirman :

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Tetaplah kalian tinggal di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliyah yang pertama. Tegakkanlah shalat, tunaikan zakat, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Qs. Al Ahzab: 33).

Saudariku muslimah, perhatikanlah. Perintah untuk tinggal di dalam rumah ini datang dari Dzat Yang Maha Memiliki Hikmah, Dzat yang lebih tahu tentang perkara yang memberikan maslahat bagi hamba-hambaNya. Ketika Dia menetapkan wanita harus berdiam dan tinggal di rumahnya, Dia sama sekali tidak berbuat zalim kepada wanita, bahkan ketetapanNya itu sebagai tanda akan kasih sayangNya kepada para hambaNya.

Bahkan dengan tetap tinggal di rumahnya, wanita bisa mendapatkan pahala yang banyak aktifitas hariannya di dalam rumah bisa bernilai pahala. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia mengatakan,  “Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami kaum wanita bisa mendapatkan amalan orang yang jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda : “ Brangsiapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya  maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim surat Al Ahzab 33).

Wanita Berperan Memberikan Sakan (ketenangan/keharmonisan) Bagi Suami. 1. Taat sempurna kepada suaminya dalam perkara yang bukan maksiat bahkan lebih utama daripada melakukan ibadah-ibdah sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَيَحِلُّلِلْمَرْأَةِأَنْتَصُوْمَوَزَوْجُهَاشَاهِدٌإِلاَّبِإِذْنِهِ

“Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnah) sementara suaminya ada di tempat kecuali setelah mendapat izin suaminya.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Hadis ini menunjukkan lebih ditekankan kepada istri untuk memenuhi hak suami daripada mengerjakan kebajikan yang hukumnya sunnah. Karena hak suami itu wajib sementara menunaikan kewajiban lebih didahulukan daripada menunaikan perkara yang sunnah.’ (Fathul Bari9/356).

2. Menjaga rahasia suami dan kehormatannya dan juga menjaga kehormatan ia sendiri disaat suaminya tidak ada di tempat. Sehingga menumbuhkan kepercayaan suami secara penuh terhadapnya.

3. Menjaga harta suami, Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik wanita penunggang unta, adalah wanita yang baik dari kalangan quraisy yang penuh kasih sayang terhadap anaknya dan sangat menjaga apa yang dimiliki oleh suami.” (Muttafaqun ‘alaihi).

4. Mengatur kondisi rumah tangga yang rapi, bersih dan sehat sehingga tampak menyejukkan pandangan dan membuat nyaman penghuni rumah.

Mendidik Generasi Shalih dan Shalihah. Mendidik anak yang merupakan salah satu tugas yang termulia untuk mempersiapkan sebuah generasi yang handal dan diridhai oleh Allah Swt. Meskipun hal ini adalah tanggung jawab suami dan istri, namun istri lebih berperan dalam mendidik anknya karena suami selalu meninggalkan rumah untuk menafkahi keluarganya, sedangkan istri lebih banyak berada di rumah.

Menjadi orang tua tidak hanya sebatas bagaimana memproduksi anak keturunan, namun Islam memberikan tanggung jawab yang lebih dari sekadar mempunyai anak keturunan. Akan tetapi seiring dengan tanggungjawab tersebut, Islam telah menentukan sarana dan metode yang wajib dijalani oleh orang tua dalam mendidik dan membina anak-anak mereka.

Bagi orang tua yang berhasil mendidik anak-anak mereka menjadi anak-anak shalih, bonus pahala yang besar di sisi Allah Swt dan akan terus mengalir walaupun daging dan tulang belulang telah hancur dimakan ulat dan telah bercampur dengan tanah di lubang yang ukurannya tidak lebih dari satu meter kali dua meter. Rasulullah saw menegaskan dalam sabdanya:

إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له

Jika seseorang telah meninggal dunia maka semua amalannya akan terputus kecuali tiga hal, yaitu: sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang senantiasa mendoakannya.” Semoga bermanfaat.(R2).

Sumber:

–          http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/muslimah/kedudukan-wanita-dalam-islam/

–          http://hasan98.tripod.com/jihad.htm

–          http://minbarindo.com/_Dunia_Minbar/Sosial_Kemasyarakatan/Kewajiban_Mendidik_Anak.aspx

 –      Fillah, Salim A, 2009 “Agar Bidadari Cemburu Padamu”. Yogyakarta: Pro-U Media

*Marketing Department Mi’raj News Agency

 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

 

Rate this article!

JIHAD SEORANG WANITA,0 / 5 ( 0votes )

Leave a Reply